
Aya masih setia bersikap dingin dengan suaminya. Berdosa memang, tapi Alvin juga bersikap keterlaluan. Pagi hari ia sudah menyiapkan baju kerja untuk suaminya. Pria itu sedang mandi. Ia akan mengambil sarapan di dapur untuk suaminya. Karena semalam Alvin meminta untuk sarapan di kamar saja. Aya hanya menurut tanpa banyak bertanya atau membantah. Sungguh Ia sangat malas hanya untuk sekedar berbicara.
"Bibi saya mau ambil sarapan." Kata Aya sesampainya di dapur.
"Nyonya tidak sarapan di bawah?"
"Tidak Bi. Di atas saja."
"Biar saya yang antar Nyonya."
"Tidak apa. Saya bisa sendiri."
"Nanti Tuan marah Nyonya." Katanya dengan raut wajah khawatir.
"Tenang saja. Terimakasih ya Bi. Saya ke atas dulu."
"Sama sam Nyonya."
"Istrinya baik begitu kenapa Tuan Alvin sangat kejam." Pikir wanita itu melihat kepergian majikannya. Seluruh pekerja juga paham bagaiman sikap Alvin yang begitu mengekang istrinya. Pria itu juga tak ragu untuk membentak dan marah ketika ada yang lalai untuk menjaga Aya. Mereka hanya bisa merasa kasihan tanpa bisa menolong Aya yang begitu tersiksa hidup di rumah ini tanpa boleh keluar sama sekali.
Aya membuka pintu kamarnya sambil membawa nampan. Alvin bergegas membantu istrinya. "Kenapa dibawa sendiri. Memangnya para pelayan di rumah ini kemana?" Tanya Alvin.
"Aku yang ingin." Jawab Aya singkat.
"Lain kali jangan lakukan lagi." Kata Alvin lembut.
"Baik."
"Sayang tolong pakaikan dasiku."
Aya meraih dasi itu dan memakaikan tanpa banyak bicara. Alvin mengamati wajah istrinya yang begitu dekat. Ia mengecup bibir manis itu beberapa kali.
"Sudah." Kata Aya sambil merapikan dasi suaminya.
__ADS_1
"Kita sarapan." Alvin menggandeng tangan Aya menuju balkon. Keduanya akan sarapan di sana. Menikmati suasana pagi yang begitu sejuk.
"Aku makan sendiri." Kata Aya ketika Alvin hendak menyuapinya.
"Baiklah." Alvin memilih mengalah menuruti keinginan sang istri daripada membuat keadaan semakin rumit. Kini Ia juga membebaskan Aya untuk keluar dari kamar saat dia bekerja. Pria itu memberikan sedikit kebebasan untuk Aya.
Ia berharap hati sang istri akan luluh dan bersikap seperti dulu lagi. Alvin begitu merindukan sikap manja perempuan di depannya. Ia merasa sangat kehilangan hanya karna kejadian fatal yang diperbuatnya dalam waktu satu malam. Begitu singkat memang. Namun bisa merusak segala yang sudah Ia bangun sejak awal.
Keduanya sarapan dalam diam. Alvin sesekali melirik wanita cantik itu yang tengah fokus makan. "Susu sama Vitaminnya jangan lupa di minum sayang."
"Iya." Jawab Aya patuh.
Aya mengantar suaminya sampai ke halaman rumah. Ia mencium tangan Alvin dan pria itu menciumi wajah Aya lalu memberikan pelukan sebentar namun erat.
"Aku berangkat sayang." Pamit Alvin sambil mengecup pucuk kepala Istrinya sebelum memasuki mobil.
"Hati hati."
Aya masuk ke dalam rumah setelah keberangkatan Alvin. Suasana begitu hening seperti biasa. Hanya ada para pengawal rumah yang sedang bertugas. Mereka tak banyak bicara. Hanya melakukan perintah untuk menjaga Aya. Kakinya melangkah menuju piano yang berada di sudut ruangan. Ia duduk dan jemarinya mulai menekan tuts tuts hingga menghasilkan sebuah melodi yang indah. Ia mengutarakan isi hatinya saat ini lewat lagu menyayat hati yang Ia mainkan.
"Kopi Bos." Kata Rio sambil menaruh secangkir kopi di meja Alvin.
"Thanks." Alvin menyesap kopi itu kemudian menaruh cangkirnya di meja.
"Masih kusut aja. Istrimu masih marah?"
"Dah tau kenapa tanya."
"Istrimu kalo marah lama juga ya."
"kalo marahnya cubit atau ngomel aku malah seneng. Setidaknya mau ngomong. La ini sikapnya berubah dingin. Disuruh apa apa ga protes sama sekali, nurut aja dia. Aku pusing di diemin kaya gini."
"Kamu sih salah langkah."
__ADS_1
"Kan semuanya saran dari situ."
"Itukan kalo kamu ga ada janji sama istri untuk nunggu. Kan posisinya udah janji sama istri. Kalo kamu ngelakuin itu berarti melanggar janji dong. Ya wajar aja kalo istri kamu marah. Karena dalam hubungan itu yang paling penting adalah kepercayaan. Kalo salah satunya berhianat maka hilang sudah kepercayaan itu." Jelas Rio panjang lebar.
"Jadi sahabat ga ada akhlak. Bukannya bantu cari solusi malah nyudutin aku kaya gitu. Sampai kapan akan terus seperti ini." Alvin mengacak acak rambutnya frustasi.
"Heh..Ceraikan saja. Kasih ke aku."
Alvin beranjak dari duduknya menghampiri Rio yang duduk dengan santai. Ia mencengkram kemeja sahabatnya itu. "Mau mati ya? Bisa bisanya bilang kaya gitu. Mau mendapatkannya aja susah. Dengan entengnya kamu suruh aku cerai."
"Wih... sabar dong. Aku cuman bercanda."
Alvin melepas cengkraman nya kemudian duduk di samping Rio sambil menyandarkan bahunya di sofa.
Rio merasa kasihan kepada sahabatnya itu. Namun sikap posesifnya terhadap sang istri sangat keterlaluan. Ia juga memaklumi Aya yang merasa tidak nyaman dan tertekan.
"Vin. Kamu tau nggak. Atau setidaknya pernah tanya nggak perasaan istri kamu?"
"Enggak." Jawabnya sambil menghembuskan nafas.
"Kamu harus tau perasaanya Vin."
"Kenapa tiba tiba pikiran kamu begitu. Bukannya yang nyaranin aku buat bikin istriku hamil untuk mengikatnya kamu."
"Iya dan aku baru sadar sekarang."
Pandangan Rio menerawang ke depan sambil menghirup udara dalam dalam. "Tidak mudah menjalani hidup seperti dia." Alvin menoleh ke sahabatnya. Sangat jarang Rio bertutur kata seserius itu.
"Sejak kecil dia tidak pernah hidup bebas seperti yang lainnya. Ditambah sekarang semakin dikekang olehmu. Bukannya itu cukup membuatnya tersiksa?"
"Benar. Tapi harus aku lakukan. Jika tidak. Aku pastikan kita tidak akan bersama seperti sekarang."
"Terserah kau saja. Aku mau lanjutkan pekerjaanku dulu."
__ADS_1
"Ya." Jawab Alvin singkat.