Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Aku Harus Gimana?


__ADS_3

Aya sudah berada dirumah setelah tiga hari berada di rumah sakit. Anak anak dan suaminya begitu cerewet ketika wanita itu hendak melakukan sesuatu.


"Ibu mau kemana?"


"Mau ambil apel."


"Biar Ara ambilkan."


datang langi membawa sekeranjang buah.


"Kan Ibu mintanya Apel."


"Siapa tau Ibu mau yang lain juga."


"Ok. Makasih."


"Sama sama."


"Biar aku yang kupas Yang." Alvin meraih pisau dan mengupas apelnya dengan hati hati.


"Ayah bisa nggak. Kalo nggak biar Zam aja."


"Bisa."


"Ibu butuh sesuatu?" Tanya Daniel.


"Enggak."


"Ini Yang." Pria itu menyuapi istrinya.


"Manis nggak?"


"Manis Mas."


"Yah. Gimana perkembangan kasus Ibu?"


"Sudah beres."


"Jadi?"


"Oma kalian biangnya. Dia mau ngeracunin Ayah tapi Ibu kalian yang kena."


"Emang keterlaluan nggak ada kapok kapoknya bikin ulah. Ayah harus tegas kali ini."


"Iya. Nanti Ayah sama Opa kalian yang akan urus."


"Mas."


"Kamu nggak boleh protes. Dia udah bahayain nyawa kamu dan aku."


"Bukan mau protes. Aku mau rambutan. Petik yuk."


"Kamu belum pulih total. Tunggu sini aku suruh orang petikkan."


"Pengen ikut Mas. Tiga hari di rumah sakit aku bosan. Butuh angin segar."


"Yasudah. Tapi hati hati. Kamu nanti duduk aja."


"Iya." Kata Aya patuh.


Mereka sedang berada di kebun buah. Seperti yang sudah dikatakan tadi. Aya hanya duduk manis menunggu mereka memetikkan buah untuknya.


Mereka menghampiri Aya setelah buah terkumpul banyak.


"Daniel kupaskan Bu." Daniel mengupas rambutan dan memberikannya pada sang Ibu.


"Manis."


"Kaya yang punya. Iya kan?"


"Hm." Jawab Aya dengan malas karena kenarsisan suaminya.


"Yang."


"Hm."


"Kamu cuek banget."


"Lagi makan Mas. Ada apa?"

__ADS_1


"Kita pindah aja gimana? Disini nggak aman buat kamu."


"Jangan deh. Kasian kuliahnya anak anak. Apalagi Daniel. Dia kan baru masuk satu semester."


"Tapi disini bahaya buat kamu. Aku nggak habis pikir sama Mama kamu bisa bisanya dia bahayain nyawa anak sendiri."


"Maafin Mama aku ya Mas."


"Kali ini maaf. Aku nggak cuman peringatkan. Aku sama kak Aslan udah sepakat untuk memberi mereka pelajaran."


"Terserah Mas. Aku pasrah karena Mama sudah menyangkut keselamatan keluarga aku. Tapi tolong Mas jangan sakiti dia secara fisik."


"Ya akan aku coba." Kata Alvin demi membuat istrinya tidak khawatir. Namun entah pria itu bisa menahan emosinya atau tidak saat bertemu nanti.


Alvin tengah mengomeli istrinya.


"Kan sudah aku bilang Yang. Jangan minum air es."


"Cuman sedikit Mas. Aku haus banget. Cuacanya panas."


"Minum air putih biasa saja."


"Ih. Haus Mas."


"Jangan ngeyel ah. Tidur siang. Kamu nggak boleh kecapean."


"Nggak ngantuk."


"Tidur. Habis minum obat harus tidur."


"Iya. Iya." Aya beranjak dari duduknya kemudian menuju ranjang. Alvin menyusul Aya dan memeluk wanita yang tengah berbaring itu.


"Em...Yang. Kamu madep sini dong."


"Madep itu apaan?"


"Hadap sini. Minta peluk." Kata Alvin dengan manja.


"Iya." Aya mengubah posisinya menghadap Alvin dan memeluk pria itu.


"Badan kamu kurusan lagi. Kemarin kemarin udah agak berisi. Kamu nggak minum susunya ya."


"Minum kok. Makan aku juga masih sama banyaknya."


"Mungkin karna aku nggak kamu bolehin jajan. Makannya kasih izin aku jajan biar agak isi."


"Nggak. Kamu jangan aneh aneh."


"Ih. Mas ma gitu."


"Dah. Jangan cemberut begitu."


"Boleh ya Mas."


"Apa?"


"Aku mau mie pangsit."


"Nggak. Makan kamu nggak boleh sembarangan."


"Ih. Aku pengen."


"Yang lain aja."


"Gamau."


"Gamau yaudah. Sekarang tidur."


"Mas."


"Tidur." Alvin mencium bibir istrinya dan memeluk erat. Pria itu tak melepas pangutannya agar sang istri diam.


Aya menghampiri suaminya yang tengah berada di walk in closet. Pria itu sudah 30 menit tidak keluar dari sana.


"Baunya nyengat banget. Kamu pake parfum sebotol apa Mas?"


"Apa Yang?" Alvin terkejut.


"Kamu pake parfum sebotol apa? nyengat banget."

__ADS_1


"Ah. Iya. Aku kebanyakan paketnya."


"Kenapa gugup begitu?"


"Enggak. Aku nggak gugup."


"Apa yang kamu sembunyiin?"


"Enggak ada."


"Awas. Aku mau ambil sesuatu."


"Biar aku ambilin. Kamu tunggu aja."


"Enggak. Aku mau ambil sendiri. Minggir."


"Tunggu Yang."


"Oh ini yang kamu sembunyiin." Kata Aya melihat botol parfumnya pecah.


"Maaf Yang. Aku nggak sengaja. Kesenggol."


"Nggak papa. Santai aja."


"Kamu nggak marah. Biasanya cewek paling marah kalo barangnya diusik."


"Aku nggak. Awas dulu aku beresin."


"Biar aku aja." Aya tak mendengarkan suaminya langsung berjongkok untuk membereskan pecahan kaca.


Alvin ikut membantu istrinya.


"Ini mahal Yang?"


"Tau. Dah lupa. Belinya lama. Ini hasil uang restoran pertama aku."


"Maaf ya. Uang hasil jerih payah kamu sia sia gara gara aku."


"Dah aku bilang santai aja Mas. Tolong buangin."


"Iya."


Alvin menghampiri istrinya yang tengah nonton film. Ia membawakan sesuatu untuk Aya sebagai permintaan maaf.


"Yang."


"Hm."


"Aku tau kamu nggak suka bunga. Tapi aku tau kamu suka coklat. Sebagai permintaan maaf aku. Aku kasih kamu ini." Alvin menyerahkan sekotak besar coklat dan buket bunga cantik untuk sang istri lengkap dengan ucapan ucapan manis. Ia sering memberi Aya seperti ini namun reaksi sang istri yang biasa saja membuatnya gemas.


"Makasih. Aku makan ya."


"Iya."


"Yang."


"Hm."


"Kamu jadi orang mbok yang ekspresif gitu. Masa dikasih hal hal romantis sama suami datar datar aja."


"Aku harus gimana?" Kata Aya fokus nonton sambil memakan coklatnya.


"Peluk aku kek. Cium aku kek. Wah makasih ya Mas. Kamu sweet banget. Aku makin cinta deh. Gitu."


"Lebay. Tapi boleh dicoba."


Aya memeluk suaminya.


"Makasih suamiku sayang. Makin hari makin ganteng aja. Aku jadi makin cinta."


"Sama sama sayang."


"Mas Sayang."


"Ya sayang."


"Pengen pangsitnya pak Yo."


"Enggak. Nggak boleh."

__ADS_1


"Mas."


"Nggak." Kata Alvin tetap pada prinsipnya.


__ADS_2