Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Maafkan Aku Sayang


__ADS_3

Alvin mondar mandir di depan ruang UGD dengan panampilan yang berantakan dan baju yang penuh darah.


"Kenapa bisa begini Vin?"


"Ayah, Ibu kenapa?"


"Jangan tanya dulu." Kata Alvin dingin mengabaikan mereka semua.


"Ganti dulu bajumu Vin."


"Diam. Tidak ada waktu untuk itu. Di dalam istriku sedang berjuang hidup dan mati." Bentaknya pada Mama Aya.


"Kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan. Kalian tidak mencintainya seperti aku." Lanjutnya lagi melihat keluarga Aya masih tenang dengan keadaan anak mereka yang seperti ini.


"Kami mencintai Aya Vin."


"Omong kosong. Jika kalian mencintainya tidak mungkin akan membuangnya ketika masih kecil. Kalian hanya cinta harta dan pewaris kalian itu. Istriku tidak ada tempatnya di hati kalian."


"Om."


"Kau juga diam Dam. Kau juga sama seperti Papa dan Mamamu."


Daddy Aya mengusap punggung Alvin untuk menenangkan pria itu. Perlahan Ia mengajak Alvin duduk agar emosinya dapat teredam. Daritadi Mommy hanya menangis dalam diam. Apa yang dialami putrinya sangat berat dan bertubi tubi.


Sudah hampir tiga jam Aya melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru. Dokter belum juga keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan Istri saya dok?" Tanya Alvin melihat dokter keluar dengan wajah lelahnya.


"Alhamdulillah operasi Nyonya berjalan lancar. Namun ada yang perlu saya sampaikan. Peluru mengenai paru parunya. Saya mohon dengan sangat untuk menjaga kondisi Nyonya dengan sebaik mungkin ketika sudah pulih nanti. Nyonya sekarang sudah melewati masa kritisnya dan sekarang dalam masa koma."


"Apa sudah boleh menjenguknya Dok?"


"Nanti setelah kami pindahkan ke ruang rawat inap."


"Baik dok. Terimakasih banyak."


"Sama sama. Sudah kewajiban saya. Saya permisi dulu."


"Iya dok."


Alvin bernafas lega mendengar kondisi istrinya. Namun Ia juga merasa sedih. Cedera otak yang di deritanya dulu dan sekarang harus ada luka di paru paru. Jika boleh, Alvin ingin menggantikan posisi sang Istri. Ia tak mau istrinya menderita sakit seperti itu. Ia merasa lemah menjadi seorang suami yang ceroboh dalam melindungi istri. Ia ingat betul kejadian tadi dan tak akan pernah Ia lupakan seumur hidupnya. Istrinya memeluk erat Alvin untuk menyelamatkan pria itu. "Maafkan Aku Sayang." Batinnya melihat kondisi Aya yang penuh alat bantu dari pintu kaca.


Paginya Aya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.


Alvin tak melepaskan genggaman tangannya dari sang istri. Pria itu belum juga bangkit dari duduknya. "Aku minta maaf Sayang dan aku berterimakasih karena kamu menyelamatkan aku. Aku berjanji akan menjaga kamu sebaik mungkin." Kata Alvi sambil menangis menciumi punggung tangan istrinya.


"Ayah makan dulu ya."

__ADS_1


Zam dan Ara menghampiri Ayahnya dengan mata sembab.


"Iya Vin. Kamu makan dulu."


"Nanti. Setelah Istriku bangun."


"Nanti kamu sakit Vin. Biar kami yang jaga Aya dulu. Kamu ajak anak anak makan. Kalo Aya bangun dan kamu sakit Dia akan sedih.


"Baiklah." Kata Alvin menuruti kakaknya. Ia mengecup kening Aya sebelum pergi.


"Ayah makannya belum habis."


"Ayah sudah kenyang. Ayah mau jagain Ibu dulu." Alvin kembali lagi ke sisi istrinya.


"Aya akan baik baik saja Vin. Dia wanita kuat."


"Aku tau kak. Tapi ini sudah yang kesekian kalinya."


"Aku akan membunuh mereka berdua." geram Daddy.


"Tidak perlu. Aku akan mengatasinya sendiri dengan caraku. Aku menunggu Istriku pulih dulu. Aku tidak akan membunuhnya. Istriku pernah bilang untuk jangan mengotori tanganku hanya untuk membalas orang orang seperti itu."


Aya mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk.


"Zam. Panggil dokter. Ibu kamu sadar."


Semua mengerumuni Aya setelah dokter berpamitan selesai memeriksa.


"Bagaimana keadaan kamu Sayang?" Tanya Mama Aya.


"Mas. Aku minta maaf..." Katanya lemah.


"Enggak. Kamu nggak salah. Aku yang salah. Aku lalai jagain kamu. Mas minta maaf sayang. Terimakasih sudah berkorban untuk suamimu yang tidak berguna ini." Kata Alvin sambil menangis tak dapat membendung air matanya.


Semua orang juga meneteskan air mata menyaksikan keduanya. "Sudah. Jangan dibahas dulu. Kamu istirahat dulu sayang. Agar cepat pulih."


"Iya Mom."


"Kalian pulang saja. Biar aku yang jagain istriku."


"Tapi Vin."


"Iya. Biarkan Aya istirahat. Kita semua pulang dulu."


"Yasudah. Kita pulang dulu ya sayang. Istirahat biar cepat sembuh."


"Iya Mom."

__ADS_1


"Kami pamit sayang. Vin kalo ada apa apa segera kabari."


"Iya."


"Ibu butuh sesuatu?"


"Tolong ambilkan minum sayang."


"Iya." Ara segera mengambilkan minum untuk Ibunya.


"Biar Ayah yang bantu." Alvin membantu istrinya untuk minum.


"Masih sakit ya Ibu?"


"Sedikit. Jauh lebih baik dari yang tadi."


"Kalian sudah makan?"


"Sudah Ibu. Tapi Ayah tadi makannya cuman sedikit."


"Kamu makan Mas. Jangan sampai kelaparan."


"Aku nggak lapar. Yang penting sekarang keadaan kamu baik baik aja."


"Aku baik kok. Sekarang kamu makan gih."


"Nanti aja."


"Makan Mas. Aku pengen liat kamu makan. Jangan sampai kamu sakit."


"Iya. Aku makan. Ra tolong ambilin."


"Iya Yah." Alvin makan sesuai yang diinginkan istrinya.


Malam hari. Alvin tidur di ranjang bersama istrinya karena cukup luas dan muat untuk dua orang. "Ara pengen tidur sama Ibu Yah."


"Ayah tidur di sini. Kalian pulang saja. Besok kalian harus ke kampus."


"Tapi Yah...."


"Mau nggak nurut? kemarin janji mau jadi anak baik."


"Yaudah Ara pulang sama kak Zam. Ibu kita pulang dulu ya. Ibu cepat sembuh. Assalamualaikum." Ara dan Zam mencium Ibunya sebelum pergi.


"Waalaikumsalam. Kalian hati hati."


"Iya Yah."

__ADS_1


Alvin membelai lembut wajah pucat istrinya. Ia tak akan menyangka musibah ini akan terjadi. Kepercayaannya hilang sudah pada Darwin dan Rio yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri tega melakukan ini pada istrinya. Namun Ia harus menahan emosi. Karna yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Aya. "Maafkan aku sayang." Gumam Alvin mengecup dan memeluk tubuh istrinya.


__ADS_2