
Hari raya tiba. Aya tengah berkumpul dengan keluarga kecilnya setelah selesai melaksanakan sholat Ied.
"Mas aku minta maaf ya. Aku banyak salah. Suka nggak nurut sama kamu. Maaf karna belum jadi istri yang baik. Tolong dimaafkan ya Mas, semua kesalahan aku di sengaja atau tidak." Aya mencium tangan suaminya hendak duduk untuk sungkem kepada Alvin namun langsung di cegah. Pria itu membawa Aya untuk duduk di sampingnya. Ia menggenggam tangan istrinya dan mengecup kedua pipi serta kening Aya secara bertubi tubi.
"Mas maafkan sayang. Mas juga minta maaf belum bisa jadi Imam yang baik untuk keluarga kecil kita. Kamu istri terbaik, bertanggung jawab dan bisa mendidik anak kita dengan baik. Mas juga berterimakasih sama kamu. Mas sudah di bimbing dan diarahkan selama ini."
Alvin memeluk istrinya.
"Iya Mas."
"Ibu. Ayah. Kami minta maaf ya. Kalo kami suka nakal. Suka ngga nurut dan bikin repot."
Keduanya mencium dan memeluk orang tuanya bergantian.
"Iya sayang. Ayah dan Ibu juga minta maaf kalo ada salah." Membalas pelukan mereka.
"Hadiah kalian mau di buka sekarang atau nanti?" tanya Aya.
"Sekarang Ibu." Jawab mereka bersemangat.
Aya memberikan kedua anaknya masing masing tiga kotak besar coklat yang biasa di belikan suaminya dulu ketika belum pindah kesini.
"Semuanya untuk kita Ibu?"
"Iya sayang. Itu hadiah untuk kalian yang rajin ibadahnya. Kalian suka?"
"Suka banget Ibu. Sudah lama kita nggak makan coklat ini."
"Sama ada lagi satu."
"Apa Ayah?"
"Kalian pengen sepeda kan? Ayah sudah belikan."
"Terimakasih. Ibu nanti ajari kita ya."
"Ibu kalian mana bisa naik sepeda."
"Ibu tidak bisa?"
Aya hanya tersenyum menanggapi kedua anaknya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab mereka langsung menyambut kedatangan Aya dan keluarganya.
"Kok lama?"
"Maaf Mom. Sedikit mancet tadi."
__ADS_1
Semuanya sudah lengkap berkumpul. Rio dan Darwin juga merayakan lebaran bersama. Aya membagikan kue dan cake yang sudah di siapkan kepada mereka semua. Setelah selesai bermaaf maafan.
"Ini yang di tunggu." Kata Rio sambil menerima kotak kotak kue dari Alvin.
"Vin nanti mampir ke rumah aku ya." Kata Darwin.
"Heh. Rumah kamu kan ngelewatin rumah aku. Mana ada mampir."
"Pokoknya main aja lah. Rumah aku sepi tau."
"Ke rumah aku aja Vin." Kata Rio tak mau kalah.
"Lebaran kemarin kan udah di rumah kamu. Gantian dong."
" Iya iya."
"Sayang. Kamu nggak ke rumah Mama?"
"Kan sudah ketemu di sini Ma."
"Nginep sayang. Ajak Zam sama Ara." Kata Oma Aya.
"Mereka suka rewel. Di ajak nginep di sini kemarin saja heboh minta pulang."
"Lain kali ya." Kata Papa berharap.
"Nanti aku tanya anak anak dulu." jawab Aya sambil tersenyum.
"Kenapa sayang?"
"Om Darren cubit pipi Ara. Lihat sampai merah."
"Darren tangan kamu emang ga bisa diem Ya. Mommy potong uang jajan kamu baru tau rasa."
"Uh...Maaf...Maaf sayang. Darren mengelus lembut pipi Ara."
"Ano sama Darren kelakuannya bikin pusing."
"Emang kenapa Dad? Udah SMA lo masa masih nakal aja."
"Tiap pagi Mommy ngomel kak?"
"Kalian kenapa? Bikin salah apa?"
"Tidur di bangunin susah banget. Kebiasaan habis sholat subuh tidur lagi. Kebanyakan begadang tuh. Main game. Tolong nasihatin adik kamu tuh." Kata Nenek.
"Jangan gitu dong. Mommy kan pusing jadinya. Kalian ada ada aja. Main game boleh, tapi ingat waktu juga."
"Iya kak."
__ADS_1
"Jangan Iya iya aja."
"Janji deh. Bakal bangun pagi."
"Begitu dong. Kan kakak makin sayang sama kalian."
"Kita juga sayang banget sama kakak." Mereka memeluk Aya.
Aya, Alvin, dan kedua anaknya tengah berada di rumah Darwin bersama Rio juga. Mereka tengah berkumpul di ruang tengah selesai makan malam bersama.
"Anak anak tidurnya pulas banget." Kata Darwin melihat Zam dan Ara tertidur di sofa.
"Kecapean. Tadi siang diajak main sama Omnya terus."
"Makasih ya udah mau rayain lebaran di sini. Jadi nggak sepi lagi."
"Iya Om. Lagian kita juga seneng bisa lebaran di rumah Om."
"Eh tunggu dulu. Perasaan semalem aku kesini kaya kapal pecah. Kok udah rapi aja."
"Sengaja panggil jasa bersih bersih. Mau lebaran kok kotor. Emangnya aku kamu?"
"Enak aja. Rumah aku bersih tau."
"Nggak usah ngomong gitu. Mana ada rumah bersih tapi ada kemeja kotor di sofa. Mana di ruang tamu lagi."
"Kamu jangan buka aib dong Vin. Malu kan aku sama istri kamu."
"Punya malu ya?"
"Emang aku apaan ga punya malu." kata Rio memukul pundak sahabatnya.
Alvin tengah mengobrol dengan kedua sahabatnya di balkon.
"Kalian belum mau nikah juga?" tanya Alvin membuka percakapan.
huft...Rio dan Darwin menghembuskan nafas kasar bersamaan.
"Pikiran aku nggak Sampek situ Vin. Aku gak mau nikah. Masih nyaman begini. Sama kalian aku sudah menemukan arti keluarga yang sebenarnya." Kata Rio.
"Kalo kamu?" Tanyanya pada Darwin.
"Aku mau jujur. Aku nggak bisa punya keturunan. Jadi buat apa aku nikah. Lagian juga aku nggak pengen nikah. Enak begini. Benar yang dikatakan Rio."
Alvin dan Rio benar benar kaget dengan kata kata yang barusan Darwin ucapkan.
"Kok kamu baru cerita. Kenapa bisa begitu?"
"Pokoknya ada kelainan namanya ozoospermia. Kalian cari tau sendiri kalo mau tau. Aku malas menjelaskan."
__ADS_1
"Apa tidak bisa di sembuhkan? kita bantu kamu."
"Nggak tau juga. Aku malas mengurusi hal semacam itu. Lagipula tekad aku juga sudah bulat untuk tidak menikah." Kata Darwin sambil menyesap kopinya.