Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
2A


__ADS_3

Seorang wanita tengah mengatur nafasnya di ruang persalinan dengan beberapa dokter dan suster di sekitarnya. Sang suami menggenggam tangan istrinya erat memberikan kekuatan. Alvin begitu tersiksa melihat Aya kesakitan. Jika bisa Ia dengan senang hati akan menggantikan istrinya. Semua orang menunggu di luar sambil memanjatkan doa agar persalinan Aya berlangsung lancar. Beberapa saat kemudian Sura tangis bayi terdengar. Setelahnya suara tangisan bayi kedua terdengar lagi.


Seorang suster keluar, Mereka bergegas menghampiri.


"Bagaimana sus?" Tanya mereka memburu.


"Kedua anak sehat. Ibunya juga baik baik saja. Persalinan berlangsung normal dan lancar."


Kata suster tersenyum memberi kabar dan pergi setelah berpamitan.


Alvin langsung mengadzani kedua anaknya setelah di bersihkan.


Ia menatap lekat kedua buah hatinya. Ia tersenyum lebar. Begitu bahagia, kini Ia benar benar menjadi seorang Ayah.


Semua keluarga besar menjenguk Aya. Wanita itu sibuk memberi ASI kepada anak anaknya.


"Kamu mau sesuatu sayang?"


"Enggak Mom."


"Asi kamu lancar kan?"


"Lancar kok Ma."


"Aku mau gendong." Kata Ano.


"Jangan dulu nanti jatuh." Kata Mommy.


"Biar aku yang gendong Vin." Lanjutnya sambil merebut bayi laki laki itu dari gendongan Ayahnya.


"Mirip kamu semua sayang."


"Masa sih Dad?"


"Iya dek. Semuanya mirip kamu." Kata Zahwa membenarkan.


"Kok nggak ada yang mirip aku ya?" Kata Alvin.


"Nanti juga mirip Mas."


"Nenek mau gendong juga."


Aya tersenyum dan memberikan bayi perempuannya itu pada sang Nenek.


"Aku mau gendong juga." Kata Mama merebut cucu laki lakinya dari Mommy.


"Kamu dah siapin namanya Mas?"


"Sudah dong Sayang."


"Siapa Vin? Pakai nama belakang keluarga besar saja."


"Sudah aku pikirkan. Pakai nama keluargaku juga dong biar adil."


"Baiklah. baiklah." Kata Kakek menyetujui.


"Azzam Sarendra Alexander dan Azzara Sarendra Alexander."


"Nama yang bagus." Kata Papa.

__ADS_1


"Iya dong. Siang malam aku memikirkannya."


"Sayang kamu mau minum?" Tawar Oma pada cucunya.


"Boleh."


Wanita tua itu dengan sigap mengambilkan minum untuk cucunya.


"Terimakasih." Kata Aya.


"Sama sama Sayang."


"Kalian nanti pulang aja. Biar aku yang jagain istri aku."


"Kamu ngusir Vin?" Tanya Kakek sambil memincingkan matanya.


"Nggak gitu. Istri aku butuh istirahat tenang."


"Apaan sih Mas." Protes Aya karena Alvin terlalu berlebihan.


"Iya dong Sayang. Kamu kan memang butuh istirahat. Kalo Daddy sama Mommy kamu di sini bakalan rame."


"Enak aja kamu. Mulai kurang ajar." Daddy menonjok pelan bahu Alvin.


"kita nggak pulang. Tapi kita akan tidur di ruang istirahat. Di lantai atas."


"Hah terserah." Jawab Alvin karena mereka bisa berbuat sesuka hati kerena rumah sakit ini milik Kakek dan Nenek Aya.


Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka. Sosok laki laki sedang membawa bunga dan parcel buah berjalan mendekat.


"Heh Rio. Lama nggak ngeliat kamu."


"Iya Kak. Adik kakak suka bikin aku lembur." Jawabnya pada Aslan.


"Mau jengukin istri sahabat sekaligus dua keponakanku." Sambil berlalu melewati Alvin dan menaruh buah tangannya di atas nakas.


"Makasih Om."


"Sama sama Ya. Aku mau gendong keponakan dulu ah."


"Pinjem dulu Bu." Kata Rio meminta bayi itu dari Nenek. Pria itu sudah terbiasa dengan keluarga Alvin. Begitu dekat. Rio dapat merasakan kehangatan keluarga disini. Mereka juga sudah menganggap Rio seperti keluarga sendiri.


"Hati hati. Kalau sampai nangis awas kamu."


"Iya iya."


"Nggak ada mirip miripnya sama kamu Vin. Seratus persen mirip Aya." Kata Rio mengusap pipi bayi mungil itu.


"Nanti juga bakal mirip aku."


"Tau dari mana kamu."


"Kata istriku begitu." Jawab Alvin acuh.


Alvin menghampiri istrinya yang baru saja selesai memberi Asi kedua anaknya.


"Selamat tidur malaikat mungil Ibu." Kata Aya mencium buah hatinya bergantian diikuti oleh sang suami.


Alvin berbaring di samping Aya. Mereka tidur seranjang karena ukuran ranjang yang besar.

__ADS_1


"Terimakasih sayang." Alvin membelai wajah istrinya.


"Untuk apa Mas?"


"Untuk semuanya. Terimakasih sudah menjadi istriku dan ibu dari anak anakku."


"Sudah kewajiban ku Mas."


"Jangan punya anak lagi ya."


"Kenapa? Karena perhatian yang terbagi lagi?"


"Bukan hanya karena itu. Aku tidak sanggup melihatmu kesakitan seperti itu. Jika saja bisa, aku pasti akan menggantikan mu."


"Mas. Sudah kodrat seorang Ibu berjuang untuk anaknya. Sudah semestinya begitu. Melahirkan adalah hal yang mulia. Aku senang bisa menjalaninya dengan lancar."


"Tapi kamu kesakitan." Kata Alvin dengan mimik wajah sedihnya.


"Memang. Tapi kebahagiaan yang aku rasakan sudah menjadi obat yang paling mujarab untuk rasa sakit yang tidak seberapa itu."


"Baiklah Istriku. Sekarang tidurlah. Kamu butuh banyak istirahat."


"Iya." Alvin mencium kedua pipi dan bibir Aya. Mendekap wanita itu dalam pelukan hangatnya.


Tepat tengah malam Aya terbangun. Ia melepaskan tangan kekar suaminya perlahan. Melangkah dengan hati hati menuju dua box bayi yang tak jauh dari sana. Menatap lekat kedua buah hatinya yang tengah tertidur dengan tenang. Wanita itu meneteskan air matanya. Begitu haru. Begitu indah hidupnya dengan kehadiran dua malaikat kecil tak bersayap itu. "Ibu menyayangi kalian."


"Sama aku nggak sayang?" Tanya Alvin yang tiba tiba sudah memeluk istrinya dari belakang.


"Kamu bangun Mas?"


"Iya. Habisnya kamu nggak ada."


"Aku cuman pengen liat mereka."


"Mereka sudah tidur. Kita tidur lagi yuk."


"Sebentar. Aku pengen minum. Haus."


"Kamu tunggu di ranjang aku ambilkan."


"Baiklah."


Alvin menghampiri Istrinya sambil menyerahkan botol air.


"Makasih Mas." Kata Aya setelah meneguknya hingga tersisa setenga.


"Sama sama Yang." Mengelus lembut kepala Istrinya.


"Kamu mau sesuatu Yang?"


"Enggak kok Mas."


"Tadi kamu cuman makan sedikit lo. Kamu kan harus kasih ASI. Kalau kelaparan nanti gimana. Makan ya. Aku juga lapar nih."


"Boleh deh."


"Sebentar aku panasin." Kata Alvin bergegas.


Ia memanaskan makanan yang di siapkan mertuanya dengan microwave.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Ia kembali dengan berbagai makanan yang tertata rapi di nampan.


Keduanya makan sambil mengobrol pelan karena tak ingin membangunkan si kembar.


__ADS_2