Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Penyelesaian


__ADS_3

"Mas kita mampir dulu ke Minimarket."


Kata Aya di dalam mobil setelah mengantarkan kedua adiknya.


"Mau beli apa sih Yang? Kita langsung pulang aja."


"Anak anak minta di bikinkan cake."


"Nanti suruh Bibi aja beli."


"Sebentar aja. Mupung lewat juga."


"Yaudah. Azzam sama Ara gimana?"


"Biar ikut juga gapapa. Darren sama Ano di mobil Aja ya. Kakak mau belanja sebentar."


"Iya kak."


Aya mengajak kedua anaknya untuk turun. Keluarga kecil itu memasuki swalayan. "Jangan lari lari ya sayang. Harus sopan." Tutur Aya pada kedua anaknya.


"Iya Bu." Jawab keduanya patuh.


Alvin mendorong troli mengikuti istrinya yang sedang sibuk memilih barang.


"Ibu Zam mau itu." Tunjuknya pada coklat.


"Boleh." Aya mengambilkannya dan memasukkan ke dalam troli.


"Ara mau apa sayang?" Tanyanya pada sang putri sambil berjongkok.


"Mau kacang."


"Iya ibu ambilkan." Aya mengambil beberapa jenis kacang untuk putrinya.


"Sudah?"


"Sudah Bu." Jawabnya kompak.


Alvin tersenyum melihat kesabaran Aya dalam mengurus kedua anaknya.


"Ini taro mana kak?" Tanya Darren dan Ano membawa belanjaan.


"Taro dapur aja. Kakak mau bawa Zam sama Ara ke kamar dulu." Jawabnya sambil berbisik agar gadis mungil yang berada dalam gendongannya itu tidak terbangun.


Alvin dan Aya membaringkan si kembar dengan hati hati. Sebelum pergi mereka mencium kening kedua anaknya bergantian.


"Mau kemana Yang?"


"Mau ke dapur bikin kue."


"Istirahat dulu lah. Kamu kan baru pulang."


"Nanti aja Mas. Kamu istirahat dulu aja. Aku mau ke dapur."


"Aku temenin."


"Nggak usah. Kamu istirahat aja."


"Nggak. Pokoknya aku temenin."


"Yaudah."


Aya dan Alvin sampai di dapur. Semua pelayan meninggalkan mereka berdua. Mereka tau betul, Alvin ingin berdua saja dengan istrinya.


Pria itu memeluk istrinya dari belakang.

__ADS_1


"Ih Mas. Jangan ganggu dong. Mending kamu duduk aja." Kata Aya risih karena sibuk mengaduk adonan.


"Kenapa nggak beli aja sih. Kalo gini kan kamu jadi capek."


"Kaya ga tau anak anak aja. Kalau nggak aku yang buat mereka nggak mau."


"Iya juga."


"Mas."


"Ya."


"Tangan kamu bisa berhenti nggak. Nggak selesai selesai nanti." Tegurnya pada sang suami yang mengelus perutnya.


"Iya. Habis ini temani aku tidur siang ya. Semenjak punya anak. Aku jarang banget di temani kamu tidur siang."


"Iya."


"Makasih Sayang." Girang Alvin mengecupi pipi Aya.


Sesuai janji Aya menemani Alvin tidur siang. Wanita itu tidur terlebih dulu. Alvin mengamati wajah istrinya lekat. Ia tau betul Aya pasti sangat kelelahan. Mengurus anak bukanlah hal mudah. Apalagi anak anaknya yang sangat manja terhadap Aya. Istrinya sangat sabar menghadapi tingkah mereka. Alvin mengecupi wajah istrinya kemudian ke bibir sebagai penutup. Ia memeluk Aya dan menyusulnya ke alam mimpi.


Sore hari semuanya tengah berkumpul di teras belakang menikmati cake yang Aya buat.


"Ini sangat enak Nyonya. Sangat lembut." kata Salah seorang pelayan.


"Iyakah?"


"Iya Nyonya." Sahut yang lain membenarkan.


"Makanlah. Masih banyak." Kata Aya tanpa menoleh sibuk menyuapi kedua anaknya.


Di tengah kebahagiaan mereka Rio datang. Sosok pria yang berdiri di belakang sahabatnya itu sukses membuat darah Alvin mendidih. "Mau apa?" Tanya Alvin pada sosok itu sambil menahan emosi di depan anak anaknya.


"Ayo. Jangan disini."


"Bukan kau saja. Bertiga dengan istrimu."


"Baiklah."


"Sayang. Kita perlu bicara sebentar."


"Baiklah. Sayang Ibu mau bicara penting dulu ya. Kalian sama Om, sama Kak Darren dan Kak Ano dulu."


"Mau sama Ibu."


"Sebentar saja sayang. Nanti Ibu cepat kembali."


"Janji."


"Iya janji."


Ketiganya tengah berada di ruang kerja Alvin. Belum ada yang angkat bicara sedari tadi. "Katakan." Alvin memulai pembicaraan.


"Sebelumnya aku minta maaf kepada kalian. Atas apa yang pernah aku perbuat. Aku ke sini untuk penyelesaian." Kata Darwin sambil menaruh cangkirnya.


"Aku akan menceritakan semuanya. Aku sudah mengenal Aya jauh sebelum pertemuan bisnis kita di Bali kala itu."


"Kau..."


"Dengarkan dulu Mas.."


"Aku adalah anak asuh Oma Aya yang tinggal di Bali. Aku anak dari panti asuhan yang dibesarkan oleh Oma dan Opa Aya. Mereka menyekolahkanku dan memberiku kasih sayang seperti anaknya sendiri. Suatu ketika Aku melihat foto Aya yang berada di kamarnya. Entah kenapa aku langsung jatuh cinta. Hingga aku ingin memilikinya. Tak ku sangka gadis yang aku sukai berada di tangan orang yang begitu posesif. Aku merancang segala cara agar mendapatkannya. Namun cinta mengalahkan segalanya. Kini aku sadar dan menyerah. Benar katamu Vin, Aku tak mau menjadi duri di rumah tangga kalian. Aku renungkan ini selama 3 tahun kepergian ku. Bisakah aku mendapat maaf dan tempat di sini."


"Semua Orang memiliki kesalahan Om. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki. Kau bisa mendapat tempat di sini. Kami terbuka untuk siapapun. Kau anak Oma. Kau juga Om ku. Aku harap hubungan kita akan membaik seiringnya waktu."

__ADS_1


"Terimakasih." Katanya tulus.


"Bagaimana denganmu Vin?"


"Sudah ku maafkan. Kita sama sama sudah tua. Aku tak mau terbebani nantinya kerena belum memaafkanmu."


"Terimakasih. Siapa yang mengajarimu seperti itu?"


"Istriku lah."


"Terimakasih sekali lagi." Darwin memeluk Aya membuat wanita itu mematung.


"Heh. Apa yang kau lakukan. Lepaskan istriku." geram Alvin.


"Aku Om nya."


"Diam kau. Di kasih hati minta ampela." katanya menarik kemeja Darwin.


Mereka bergabung kembali, Darwin juga ikut karena Aya mengajaknya. Azzam dan Ara langsung berhambur memeluk Ibunya.


"Ibu lama."


"Sebentar kok sayang. Ayo duduk lagi. Oh Iya Salim dulu Sam Om Darwin."


Kedua bocah itu menuruti. Darwin memandang keduanya begitu mirip dengan Aya.


"Pinter. Siapa nama kalian sayang?"


"Azzam."


"Aku Ara Om."


"Kalian cantik dan tampan." Darwin mengusap kepala mereka lembut.


"Om ini kuenya di coba."


"Makasih Ya."


"Sama sama."


"Enak."


"Ya dong. Istriku yang bikin." kata Alvin.


"Iyakah?"


"Iya. Aya bikin sendiri. Anaknya ga mau makan kalo bukan ibunya yang bikin." Kata Rio sibuk makan.


"Om Rio mandi sana. Udah sore."


"Ntar masih malas."


"Kamu tidur di sini?"


"Iya, dah lama." Jawabnya tanpa menoleh ke Darwin.


"Om Darwin makan malam di sini ya."


"Boleh?"


"Ya." Jawab Alvin singkat.


"Makasih. Aku serasa punya keluarga berkat kalian." Katanya sambil fokus makan.


Aya menggelengkan kepalanya heran.'Kenapa Aku selalu di kelilingi Om Om sih?' batinnya. Suaminya sendiri, Rio dan sekarang tambah satu Darwin.

__ADS_1


__ADS_2