
Liburan 3 hari di puncak terasa singkat. Kini Mereka sudah sampai di rumah. Rio dan Darwin juga langsung pulang ke rumah masing masing. Kedua pria itu ingin melihat kondisi rumah yang jarang jarang di kunjungi.
"Kalian langsung mandi dan istirahat ya."
"Iya kak." jawab Ano dan Darren patuh.
Aya menggendong Ara yang tengah tertidur dengan pulas.
"Biar aku aja Yang. Kamu kan capek."
"Nggak usah. Nanti kebangun."
"Beneran?"
"Iya."
"Yaudah kalo gitu. Zam, Ayo masuk."
"Iya Ayah."
Aya membaringkan anak perempuannya dengan hati hati di ranjang. Ia mengecup kening gadis mungil itu dan menyelimutinya.
"Zam mau mandi dulu?"
"Iya. Ibu yang mandiin ya."
"Iya sayang. Ayo Ibu mandikan."
"Mandi sama Aya aja ya. Kasihan Ibu capek."
"Nggak papa kok Mas."
"Tapi Yang."
"Aku nggak capek kok."
"Baiklah." Kata Alvin mengalah.
Aya memasuki kamar setelah Zam tidur bersama adiknya.
"Kamu belum mandi Mas?" Tanya Aya melihat suaminya tengah bertelanjang dada hanya menggunakan celana pendek.
"Nungguin kamu."
"Ngapain. Aku dah mandi di kamar anak anak tadi."
"Bohong."
"Beneran. Kalo ga percaya cium aja. Bau sabunnya masih nempel nih."
Alvin mendekat dan menciumi leher istrinya.
"I don't care." Katanya sambil menggendong sang istri.
"Ih Mas apaan sih. Aku udah bilang kalo aku sudah mandi."
"Mandiin aku. Kalo ga mau kita mandi bareng."
"Gak mau, mandi sendiri." Aya kembali meronta.
__ADS_1
"Oke." Alvin mendudukkan Aya di bathup yang sudah Ia isi air sebelumnya. Wangi mawar begitu memikat khas aroma istrinya. Ia perlahan membuka celananya dan ikut masuk.
"Ah. Aku mandi lagi kalo gini." Gerutu Aya sambil cemberut membuat Alvin gemas. Ia melepaskan semua pakaian sang istri. Kedua lengan kekarnya mengangkat tubuh ringan itu dan membawa ke pangkuannya. Alvin memeluk dan mengecup punggung mulus istrinya.
Tangannya bergerak membelai lembut paha mulus Aya.
"Sayang."
"Apa?"
"Kamu marah?"
"Enggak."
"Kalau kamu marah. Aku semakin gemas."
"Udah ah. Aku udahan. Dingin."
"Kan aku udah peluk masa dingin. Mandinya kan juga pakai air hangat." Alvin semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mau tidur Mas. Ngantuk."
"Tadi katanya dingin."
"Mas. Udah ah."
"Mandiin dulu. Nanti kita tidur."
"Hash iya iya." Kata Aya menuruti suaminya.
Alvin memandangi wajah Aya yang tertidur pulas. Ketara jika wanita itu begitu lelah. Ia membelai lembut wajah istrinya. Andaikan saat ini belum dikaruniai anak. Mungkin Aya akan tetap manja seperti dulu. Jujur, Alvin sangat merindukan sikap manja istrinya. Namun keadaan terbalik sekarang. Aya menjadi dewasa. Harus menjadi sosok ibu yang menjadi panutan untuk kedua anaknya. Kata katanya bijak, begitu sabar menghadapi apapun. Alvin sadar kini emosinya juga lebih stabil berkat istrinya. Ia lebih bisa mengendalikan sikap amarah dan arogannya sekarang. "Terimakasih untuk semuanya Sayang." Kata Alvin sambil mengecup bibir mungil istrinya, lalu memejamkan mata sambil mendekap Aya erat.
"Mas aku mau martabak dong. Kaya yang di beli Om Darwin sama Om Rio waktu itu."
"Rasanya beda. Aku mau yang waktu itu. Ya Mas. Please....."
"Yaudah. Aku beliin. Tapi cium dulu."
"Iya iya. Kamu suka minta imbalan mulu."
Aya menciumi wajah suaminya. Alvin menarik Aya dan mencium dalam dalam bibir mungil milik sang istri.
"Aku ikut ya Mas."
"Jangan. Nanti bahaya."
"Ih. Mupung anak anak lagi main sama Darren sama Ano. Sekalian jalan jalan gitu."
"Oke oke. Kangen ya pacaran sama aku?"
"emangnya kita pernah pacaran? sejak kapan aku pacaran sama Om Om."
"Oh gitu ya. Yaudah ga jadi beli." Ancam Alvin bercanda sambil membuang muka.
"Kok gitu. Ayolah."
"iya iya." Alvin mencubit pipi menggemaskan istrinya.
Mobil mewah berhenti di depan kedai martabak sederhana. Alvin merangkul pinggang istrinya. Banyak mata memandang Aya membuat Alvin mengumpat dalam hati. Setelah memesan, Ia mengajak Aya untuk duduk.
__ADS_1
setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesanan mereka jadi juga.
"Terimakasih pak, kembaliannya ambil aja." Kata Alvin bergegas mengajak istrinya untuk pergi.
"Terimakasih Tuan."
Katanya sedikit berteriak karena Alvin berjalan dengan cepat.
Alvin mengajak Aya untuk pergi ke pantai sebentar sebelum pulang. Keduanya duduk dengan santai di salah satu bangku. Aya sibuk makan sementara Alvin hanya memperhatikan istrinya yang tak berhenti mengunyah.
"Mas mau?"
"Enggak kamu aja Yang."
Alvin secara tiba tiba menjilat coklat yang berada di sudut bibir istrinya.
"Manis." Katanya sambil tersenyum.
"Aku kangen berdua sama kamu." Memeluk Aya yang sudah selesai dengan kegiatan makannya.
"Ingin hidup hanya berdua denganmu dan menua bersamamu."Lanjutnya lagi sambil menghirup aroma istrinya dalam dalam.
"Kamu menyesal punya anak? bukannya itu kemauan kamu?"
"Aku tidak menyesal. Aku bahagia memiliki mereka. Hanya saja aku butuh waktu berdua, hanya berdua."
"Sudah banyak waktu yang kita lalui berdua. Sejak aku kecil sampai sekarang aku selalu bersamamu. Waktu selama itu. Apakah masih kurang?"
"Selamanya pun aku tak akan pernah puas bersamamu."
Aya menangkup wajah suaminya. Menatap manik mata kecoklatan itu dalam dalam.
"Cintailah aku sewajarnya. Dengan begitu kau tidak akan terlalu menderita saat kehilangan."
Alvin membawa Aya dalam dekapan yang begitu erat. "Aku tak akan biarkan dan aku tak mau kehilanganmu 'lagi' untuk yang kesekian kalinya."
"Sudah sudah. Ayo pulang. Nanti anak anak nyariin."
"Biarkan begini sebentar saja."
"Baiklah." pasrah Aya menikmati dekapan hangat suaminya.
"Ibu." Kedua bocah itu berlari memeluk Aya yang baru saja datang.
"Ibu sama Ayah darimana?" tanyanya sambil sesenggukan.
Aya mengusap kedua air mata anak anaknya.
"Kakak pergi ga bilang bilang. Mereka nangis dari tadi."
"maaf."
"Ayah sama Ibu beli martabak sayang." Aya menjelaskan.
"Jangan pergi pergi lagi." Mereka memeluk Aya yang sedang berjongkok untuk menyesuaikan tinggi tubuhnya dengan si kembar.
"Maafin Ayah sama Ibu ya." Kata Alvin membujuk keduanya agar tidak merajuk.
"Iya. Kata Ibu kita harus saling memaafkan" jawanya.
__ADS_1
"Pinter anak anak Ayah." Alvin mengusap lembut kepala mereka.
Aya mengajak semuanya duduk berkumpul termasuk para pekerja di rumah untuk makan martabak bersama.