Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Indahnya Hidup


__ADS_3

"Siapa Yang?" Tanya Alvin saat Aya baru saja mematikan panggilannya.


"Mommy. Tanya kabar aja."


"Oh."


"Vin." Rio menghampiri pasangan suami istri itu.


"apa?" Jawabnya malas.


"Maen yuk. Dah di tunggu."


"Males. Mending di rumah sama Istri."


"Siapa juga yang mau keluar. Kita mainnya di rumah. Dah ditunggu di ruang keluarga. Ayok."


"Enggak ah. Udah tua juga."


"Umur aja tua. Jiwa kita masih muda."


"Bisa bisanya." Lirih Alvin.


"Mau main apa sih Om?"


"Uno card. Yang kalah dapat hukuman. Bilang aja kamu takut Vin."


"Mana mungkin. Ayo kalo gitu." Alvin merasa tertantang kemudian menyanggupinya. Ia tak mau di permalukan di depan sang istri.


Sampai di ruang keluarga. Semuanya sudah berkumpul. Azam dan Ara langsung berhambur memeluk Ibunya.


"Ayo duduk sayang." Ajak Aya pada kedua anaknya untuk duduk di sofa.


"Heh. Vin. Datang juga akhirnya." Darwin menggeser tubuhnya agar Alvin dapat duduk di sampingnya.


"Nggak Ah. Aku mau duduk samping Istri."


"Apaan sih Mas. Yang lain duduk di situ kamu malah pengen di sini. Kejauhan tau. Duduk samping Om Darwin aja."


Alvin dengan terpaksa bergabung dengan mereka. Ia mendudukkan diri di samping Darwin.


"Main apaan sih? Ini ide siapa lagi?"


"Ide kita berdua dong Om." Kata Ano.


"Hukumannya apa?"


"Masak makan siang untuk hari ini. Sekalian sama dessert nya."


"Oke. Siapa takut."


"Yaudah kita mulai. Darren kocok kartunya."


"Baiklah."


Aya Hanya memperhatikan mereka yang tengah bermain sambil menjaga kedua anaknya. Ia hanya menggelengkan kepalanya dengan aksi saling adu argumen karena merasa benar. Belum lagi gelak tawa mereka ketika melihat Darwin yang kebingungan. Pria itu belum terlalu mengerti tentang permainan ini. Hanya ikut ikutan saja.


"Kamu kalah Win. Masak sana." Kata Rio mengejek.


"Aku nggak tau cara masak sama sekali."


"Banyak alasan. Ini kan udah kesepakatan kita."


"Yaudah. Kalo ada yang muntah dan sebagainya. Aku nggak tanggung ya."


"Aku bantu Om."


"Ok."

__ADS_1


"Sayang. Ibu ke dapur dulu ya. Kalian disini dulu main."


"Iya Bu. Jangan lama lama."


"Iya."


"Ayok Ya." Kata Darwin menggandeng tangan Aya menuju dapur.


"Sialan tu orang." Alvin menyusul istrinya diikuti Rio.


Para pelayan meninggalkan dapur melihat kedatangan para Tuan dan Nyonya Aya nya.


"Kamu jangan bantu Yang. Kamu arahin aja. Biar dia yang kerjakan. Inikan hukuman dia." Kata Alvin.


"Baiklah." Aya duduk di kursi diikuti Alvin dan Rio.


"Kita mulai darimana?"Tanyanya sambil memegang pisau.


"Om mau masak apa?"


"Nggak tau."


"Kita masak yang gampang aja. Capcay, Tumis daging, sama udang asam manis gimana?"


"Boleh boleh."


"Ambil sayurnya Om di kulkas, Sama udang, sama daging juga sekalian."


"Ok. Ok." Kata pria itu langsung bergegas.


"Terus."


"Dicuci lah. Gitu aja nggak tau."


Darwin menuruti perintah Alvin.


"Dipotong potong."


"Gimana caranya?"


"Gini." Aya beranjak dari duduknya namun di cegah oleh sang suami.


"Biar aku aja." Alvin memberi contoh cara memotong pada Darwin.


"Oh. Paham paham." kata Darwin sambil menganggukkan kepala.


"Suami kamu sering masak Ya?"


"Iya. kalo lagi libur dia masak sama Aku om." Jawabnya pada Rio.


Berjam jam berkutat di dapur akhirnya selesai juga. Darwin begitu kerepotan tadi meski sudah di bantu beberapa kali oleh Alvin dan Aya. Alvin mengizinkan istrinya sesekali karena kasihan pada Darwin yang terlihat putus asa. Semua hidangan sudah tertata rapi di meja lengkap dengan puding sebagai dessert nya. "Enak kan masakan aku?" tanya Darwin percaya diri.


"Enak kan istriku yang takarkan bumbunya."


"Sama aja Om Darwin nggak masak."


"Ya masak dong Darren. Kan yang potong sayur, daging, sama campur campur kan aku."


"Masak kan yang penting bumbunya."


"Apaan sih kalian. Kok malah berdebat." kata Aya melerai mereka.


"Alvin tu yang mulai."


"Kok Aku."


"Udah dong jangan debat di meja makan." Kata Aya lagi membuat mereka diam.

__ADS_1


Sore hari semuanya tengah berjalan jalan di kebun buah. Aya menggandeng kedua anaknya.


"Ibu Zam mau itu."


"Zam mau jeruk?"


"Iya."


"Biar kau yang petik Yang."


Alvin memetiknya dan memberikan kepada Aya. Ibu muda itu dengan telaten mengupas dan menyuapkan kepada kedua anaknya.


"Manis. Ara suka." Kata Gadis kecil itu.


"Mau lagi Ayah."


"Iya. Sebentar Ayah petikkan."


"Vin. Ada tangga nggak?"


"Mau ngapain?"


"Mau ambil rambutan."


"Cari aja deket pohon mangga."


"Ok."


Mereka semua berkumpul duduk melingkar di atas tikar memakan buah yang sudah di petik.


"Gak mau jual Vin? Buahnya banyak banget."


"Udah bangkrut apa. Aku kamu suruh jual buah segala. Semua ini. Untuk istriku." Kata Alvin memeluk istrinya yang tengah sibuk mengupas buah untuk mereka.


"Jangan mesra mesraan. Ada dua orang belum nikah disini." Sindir Darwin.


"Kenapa nggak nikah aja Om?"


"Males. Nggak ada niat. Enak begini. Tiba tiba punya keluarga."


"Sama aja. Om Rio sama Om Darwin."


"Harta kalian mau kasih ke siapa kalo nggak nikah?"


"Kasih Zam, Kasih Ara, Kasih Aya."


"Bisa bisanya ngomong gitu. Istri sama anak anak aku udah kaya."


"Biar dong Vin. Si kembar kan anak kita juga. Meski cuman kamu yang buat."


"Ih ada anak anak nih. Ada remaja juga. Para Om Om nih pada ngomong apaan sih." Protes Aya.


"Maaf maaf."


"Zam, Ara. Sini ikut Om." Kedua anak itu duduk di pangkuan Darwin dan Rio.


"Tumben mau." Kata Alvin keheranan.


"Biarin. Mupung mau." Kata Rio mengusap lembut kepala bocah itu.


"Ibu Zam Mau."


"Iya." AYa memberikan sepotong apel yang sudah dikupas kepada anaknya.


"Ara mau sayang?" Tanya Darwin.


"Enggak Om." Darwin memeluk Ara dalam pangkuannya Ia merasakan kehangatan keluarga yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu damai dan menenangkan. "Indahnya hidup." Batinnya.

__ADS_1


__ADS_2