Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Mari Buka Puasa


__ADS_3

Aya menemani suaminya di ruang gym. Seperti yang dikatakan, Alvin sekarang giat lagi berolahraga. Ia ingin terlihat lebih bugar dan muda demi istrinya. Pria itu takut sang istri melirik orang lain. "Nggak capek Mas. Ini lagi puasa lo. Istirahat dulu."


"Iya deh. Aku istirahat." Aya dengan sigap mengelap keringat suaminya. Alvin tersenyum memperhatikan kegiatan istrinya dari kaca besar yang ada di depan keduanya. Pria itu meraih ponselnya.


"Peluk Yang."


"Apa?"


"Aku pengen di peluk kamu."


"Iya." Aya langsung memeluk suaminya. Alvin memotret pantulan mereka di kaca diam diam. Ia mengunggahnya di sosial media pribadinya dengan caption "Ditemani Istriku tercinta." Jika melihat ini Aya pasti akan tertawa, untung saja sang istri tidak memiliki sosial media karena Alvin melarang. Anak anaknya punya dan mereka juga tidak terlalu perduli dengan postingan sang Ayah.


"Udah ya Mas."


"Iya." Alvin mengecup kening istrinya sambil tersenyum.


"Kamu kenapa?"


"Nggak papa. Kamu cantik."


"Mandi sana. Aku siapin bajunya."


"Mandi bareng."


"Puasa."


"Eh iya. Lupa."


Sore hari setelah memasak Aya mengajak anak anaknya untuk memetik buah di kebun belakang. "Yang itu masih muda Ra. Pilih yang warnanya merah."


"Masa sih Yah? Yang begini juga manis. Ara pernah makan."


"Itu beda jenis. Petik apel yang udah merah aja."


"Ok."


"Ibu. Daniel boleh petik buah naga?"


"Boleh. Petik sesuka kamu. Banyak kok."


"Iya Ibu."


"Yah. Kenapa nggak tanam semangka sekalian?"


"Nggak, semangka itu ribet. Tiap habis panen harus tanam lagi. Kalo gini kan ga usah tanam berkali kali. Setiap musim juga berbuah."


"Ayah pinter."


"Baru tau kamu."


"Mas. Aku pengen rambutan."


"Ayo aku ambilin."


"Ayo. Sayang. Keranjangnya bawa kesini."


"Iya Ibu." Zam bergegas membawa keranjang mengikuti Ibunya.


Buah buahan yang di petik mereka sudah melimpah.


"Kok di bungkus Bu?"


"Bagiin ke tetangga. Ini banyak banget. Kalian antar ya."


"Teman kita juga kebagian kan Bu?"


"Iya lah. Masih banyak banget."


"Ara bantu ya Ibu."

__ADS_1


"Daniel juga."


"Iya."


"Kalian antar ya. Hati hati. Cepat pulang. Keburu magrib nanti."


"Iya Ibu. Kita berangkat dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mereka udah berangkat Yang?" Alvin menghampiri istrinya.


"Udah. Baru aja."


"Yang. Aku pengen ngomong sama kamu."


"Ya ngomong aja Mas."


"Duduk dulu." Alvin membawa istrinya untuk duduk.


"Ada apa Mas?"


"Mama kamu itu temannya Mama Felix."


"Masa sih?"


"Iya. Bahkan dulu mereka punya rencana mau jodohin kamu sama Felix."


"Maksud Mas?"


"Dulu mereka pengen jodohin kamu sama Felix. Waktu kita ke Indonesia. Dia bersikeras mau jodohin kamu sama Pria itu."


"Mas tau darimana?"


"Dari kak Aslan."


"Kenapa Daddy baru cerita?"


"Udah jangan dipikirkan lagi. Sekarang kan buktinya aku nggak sama Dia."


"Tapi..."


"Udah ah. Jangan dibahas."


"Iya deh."


"Kita nggak tarawih Ibu?"


"Kan besok lebaran. Hari ini nggak tarawih tapi takbir."


"Oh."


"Kalian kalo takbir ke masjid kompleks nanti bawa makanan ya. Bagikan buat anak anak dan semuanya. Ibu sudah siapin."


"Iya Ibu."


"Mas. Nanti aku ke rumah Om Sam ya. Mau antar makanan."


"Kenapa Yang?"


"Kamu tanya kenapa lagi. Kasihan Mas. Dia sudah tua sendiri di rumah. Mana anaknya kerja jauh jauh semua. Cuma Bruno aja temannya dia. Mana tetangga pada nggak peduli karena agamanya beda sendiri."


Kata Aya menjelaskan pada suaminya.


"Aku temani."


Alvin menggandeng tangan istrinya sepanjang perjalanan. Ia sangat mendukung niat baik sang istri.


"Permisi." Aya mengetuk pintu rumah pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Sebentar." Jawabnya dari dalam.


"Eh Aya sama suami juga. Mari masuk." Katanya Ramah.


"Iya Om."


Alvin dan Aya duduk berdampingan.


"Mau minum apa?"


"Tidak usah Om. Kita kekenyangan habis buka. Oh iya Om. Ini ada makanan untuk Om."


"Banyak banget. Kalian repot repot."


"Nggak repot Om. Ini mau hari raya jadi Aya masak banyak."


"Masak sendiri ya?"


"Iya. Semuanya pada mudik."


"Tiap hari kamu masak sendiri kan. Karna suami kamu ini rewel kalo makan masakan orang. Ya nggak Vin?"


"Om bisa aja."


"Anak anak kamu yang cerita. Mereka sering kesini. Kasih makan Bruno."


"Iya kah?"


"Iya. Mereka baik juga sopan. Kalian mendidik dengan baik. Oh iya. Ini apa aja kok banyak. Om cuma tinggal sendiri lo."


"Ada opor Ayah dan ketupat, terus yang ini rendang Om, satunya lagi kentang balado. Ini nggak basi kalo Om taro kulkas. Nanti kalo Om mau makan tinggal panasin di microwave. Sama ini juga ada kue lebaran Aya sama anak anak yang bikin."


"Makasih ya cuma kalian yang peduli sama Om."


"Sama sama Om."


Alvin sangat bersyukur masih memiliki keluarga. Ia berharap bisa sampai tua dengan istrinya. Ia takut akan sendiri di masa tuanya nanti.


Alvin menghampiri Aya yang tengah membersihkan wajah di depan meja riasnya. Pria itu memeluk istrinya erat.


"Kenapa Mas?"


"Aku takut."


"Aya membalikkan badannya mendengar penuturan sang suami.


"Takut kenapa?"


"Aku takut masa tuaku seperti Om Sam. Sendiri."


"Kamu punya aku, kamu punya anak anak, kamu punya kakak dan keponakan. Apa yang harus ditakutkan?"


"Kamu nggak akan ninggalin aku kan?"


Aya menggenggam tangan suaminya.


"Aku akan selalu sama kamu Mas. Sampai kapanpun. Karna aku istri kamu."


"Janji?"


"Iya janji."


"Makasih Sayang."


"Awas ah. Jangan kaya anak muda lagi bucin gini dong. Aku mau tidur."


"kita buka puasa dulu."


"Udah kan tadi. Masa kamu belum kenyang juga."

__ADS_1


"Belum." Alvin langsung menggendong istrinya dan membaringkannya di ranjang. Ia mengecupi seluruh tubuh Aya. Melepas pakaiannya serta pakaian sang istri dan membuang ke sembarang arah.


"Mari Buka puasa." Katanya sambil memulai kegiatan yang begitu Ia rindukan.


__ADS_2