
Setiap harinya Aya selalu di buat pusing dengan tingkah suami dan kedua anaknya. Mereka sama sama tidak mau mengalah. Sikap manja si kembar masih bisa di tolerir karena mereka masih kecil. Lalu bagaimana dengan Alvin, Semakin tua dia semakin manja dengan Aya. Belum lagi jika Rio datang. Orang itu pasti sudah berdebat dengan sang suami dan selalu menjahili kedua anaknya.
Aya selesai menidurkan malaikat malaikat kecilnya. Ini sudah waktunya makan siang. Suaminya dan Rio sudah menunggu di ruang makan. Aya langsung menuju kesana. Ia tak mau membuat mereka menunggu terlalu lama.
Rio sering menginap di sini. Pria itu hanya pulang ketika mau saja. Rumah Alvin sudah seperti rumahnya sendiri. Alvin membiarkan saja. Asal tak melewati batas.
"Anak anak dah tidur Yang?" Tanya Alvin melihat kedatangan istrinya.
"Sudah. Baru saja."
"Yah padahal mau aku ajak main." Kata Rio.
"Ga usah ajak anak anak aku keluyuran. Ga jelas kamu."
"Keluyuran apa. Perasaan di taman rumah aja."
"Sudah sudah. Ayo makan." Kata Aya agar perdebatan mereka tak berujung panjang.
"Ya. Katanya Darren sama Ano mau nginep di sini. Karena mereka di tinggal ke New York."
"Kok nggak bilang kalo mau ke New York?"
"Mendadak katanya, Kalian di telfon ga diangkat. Makannya kasih kabar ke aku."
"Masa sih?"
"Iya Yang. Tadi kakak juga baru aja telfon aku. Katanya kamu di hubungi gak di angkat."
"Aku jarang pegang ponsel. Malah kelupaan taro dimana tadi."
"Kebiasaan deh."
"Om Rio kenapa gak pindah rumah aja sih? Ngeri tau tinggal di sana." Kata Aya mengingat di samping rumah Rio terjadi pembunuhan beberapa hari yang lalu.
"Rencananya sih gitu. Aku udah jual rumahnya, tapi harganya turun dikit karena kasus itu. Aku juga agak ngeri. Bekas darahnya aja masih ada di tembok pagar rumah."
"Rencana mau pindah ke mana kamu?"
"Deket sini sih Vin. Tapi harganya mahal. Uang aku ga cukup deh buat beli di sekitar sini."
"Aku tambahin. Biar tabungan kamu utuh."
"Nggak Ah. Sungkan Aku."
"Sejak kapan kamu punya rasa sungkan? Udah beli aja. Kurangannya biar aku yang tutup."
"Oke deh kalo kamu maksa. Makasih Vin. Ya."
"Sama sama Om."
"Kok kamu bilang makasih ke Istri aku."
"Lupa ya. Semua harta kamu milik Aya."
__ADS_1
"Eh. Iya juga. Ngomong ngomong aku nggak maksa lo." Kata Alvin melanjutkan makannya.
"Aku mau kok Vin." Kata Rio bersemangat.
"Sayang salad buah sama Vitaminnya jangan lupa."
"Iya Mas."
"Kalian hati hati ya. Jangan lupa jaga kesehatan." Kata Aya memeluk keluarganya satu per satu.
"Iya sayang." Mommy memeluk anak gadisnya sambil menahan air mata agar tidak jatuh.
"Daddy lama ya disana?"
"Nanti kalau urusannya sudah selesai pasti balik sayang." Pria itu mengusap lembut kepala Aya.
"Kalian jangan nakal. Nurut sama kakak, sama Om."
"Iya Nek."
"Aya, Alvin, Rio. Aku titip Darren sama Ano ya."
"Iya. Jangan khawatir."
"Kami berangkat dulu."
"Hati hati." Aya mengantar mereka sampai ke dalam mobil.
Mereka semua masuk setelah mobil meninggalkan rumah.
"Iya, Kakak bantu."
"Ga usah Yang. Berat. Suruh pelayan aja."
"Tapi Mas."
"Duduk." tegas Alvin membuat Aya duduk kembali.
Darren dan Ano ikut duduk di samping kakaknya.
"Kalian kok nggak ikut. Bukannya lagi libur panjang ya?"
"Bosen Om. Disini enak ada kakak."
"Azzam sama Ara mana kak?"
"Lagi tidur di kamar. Kakak mau liat dulu. Mungkin sudah bangun."
"Ajak kesini Ya."
"Iya kalau mau." Kata Aya berlalu pergi.
Aya kembali lagi membawa kedua anaknya.
__ADS_1
"Sini ikut Om yuk."
"Gamau. Mau sama Ibu." Tolaknya saat Rio ingin menggendong.
"Sama Ayah aja ya." Kedua bocah itu menggeleng pelan.
"Udah udah. Gausah di paksa." Aya membiarkan kedua anaknya bermain di karpet.
"Anak kamu gitu amat Vin."
"Entahlah. Nempel mulu sama Ibunya."
"Kalian kapan ambil seragamnya?"
"Mungkin besok kak. Kakak anterin ya."
"Enggak. Enggak. Pergi sendiri saja. Biar supir yang antar."
"Om gimana. Kan harus sama Wali."
"Sama Om Rio aja."
"Enggak mau. Maunya sama kak Aya."
"Sama Aku aja."
"Nggak mau Om. Aku maunya sama kakak."
Alvin menggelengkan kepalanya. Menghadapi kedua anaknya dan Rio saja sudah pusing. Ini tambah lagi dua. Mana mereka sangat manja sama kakaknya. "Kuatkan aku." Batinnya karena semakin tidak bisa menghabiskan waktu dengan istrinya.
"Udah deh Mas. Biar aku yang antar."
"Tapi Yang..."
"Cuman sebentar. Ambil seragam terus pulang."
"Aku antar."
"Kamu kan kerja."
"Kan ada Rio. Kamu lupa ya."
"Dasar." Kata Rio mendengus kesal.
"Heh. Sudah ku sokong kau untuk membeli rumah baru."
"Iya. Iya Bos." Kata Rio pasrah.
Sosok pria berjalan tegap. Ia baru saja turun dari pesawat pribadinya. Setelan jas dan kacamata hitam membuat tampilannya begitu sempurna. Rahangnya tegas dengan Surai kecoklatan yang tertata rapi. Ia menghiraukan pandangan para wanita yang tertuju padanya. Langkahnya terhenti pada sebuah mobil mewah yang terparkir. Sosok laki laki lain menunduk hormat dan membukakan pintu. Pria itu masuk ke dalam mobil dan duduk dengan menyilangkan kakinya. Sudah dua tahun lebih Ia pergi dan begitu merindukan negara ini. Oh tidak, lebih tepatnya merindukan wanita yang ada di negara ini. Pandangannya menerawang, menatap keluar kaca jendela mobil yang tertutup. Ia menyunggingkan senyumnya. "I'am Back." lirihnya.
Alvin memeluk istrinya yang tengah berada di depan kaca. Ia memutar tubuh Aya cepat dan mencium bibir mungil itu penuh hasrat. "Apaan sih Mas. Anak anak nyariin aku nanti." Kata Aya mencoba pergi.
Alvin semakin mengeratkan pelukannya. "Biarkan seperti ini dulu." katanya dan Aya membiarkan apa yang dilakukan suaminya.
__ADS_1
Ia mengusap pundak Alvin pelan. Pria itu menatap bayangan keduanya di kaca. Ia baru saja mendapat kabar dari seseorang. Matanya berubah tajam. "Kau kembali. Aku tau apa tujuanmu. Dan tak akan ku biarkan kau mencapai itu." Batinnya penuh tekad.