
Kini Aya dan Alvin sudah pulang ke rumah. Pria itu mempercepat kepulangannya karena khawatir akan keselamatan sang istri. Liburan yang seharusnya membuat mereka bahagia kini berubah menjadi kekhawatiran. Ia tak berhenti memikirkan siapa sebenarnya orang itu. Alvin berpikir keras mengenai hal ini. Kekuasaan dan kekayaannya tidak begitu berguna di saat seperti sekarang. Jika Ia saja tak mampu menemukan siapa orang itu. Berarti orang yang selama ini mengagumi istrinya berada di atasnya. Sejujurnya Ia bisa saja meminta bantuan pada keluarga besar. Namun, niatnya di urungkan untuk sekarang. Alvin takut mereka berfikir bahwa Alvin tidak dapat menjaga Aya dengan baik. Mengatasi masalah rumah tangganya sendiri tidak bisa. Alvin akan merasa malu jika meminta bantuan kepada keluarga besar padahal mereka juga menawarkan. Ia berpikir mereka akan hilang kepercayaan pada dirinya untuk menjaga Aya. Dan Alvin tak mau itu terjadi. Oleh karena itu setiap di tanya tentang hal ini Alvin akan mengatakan semuanya baik baik saja. Sebagai seorang pria Ia akan melindungi istrinya dengan tangannya sendiri. Alvin menatap lekat wajah istrinya yang tertidur pulas dalam peluknya. Wanita itu pasti lelah dengan perjalanan yang cukup menyita waktu karena hari ini lalu lintas begitu padat.
Suara getaran ponselnya membuyarkan lamunan seketika. Ia bergerak perlahan mengangkat panggilan itu agar sang istri tidak terbangun.
"Ada apa?" Tanya Alvin mengangkat panggilan dari sahabatnya itu sedikit kesal dengan suara pelan.
Heh kenapa kau berbisik seperti itu? Aku ada hal penting yang perlu disampaikan segera. kita harus bertemu.
"Istriku sedang tidur bodoh. Ada apa malam malam begini menghubungiku? kau tidak tau waktu ya? Jika urusan pekerjaan, besok saja. Aku sedang menemani istriku.
*Ti*dak bisa besok. Ini tentang penguntit istrimu itu.
"Apa? Kau menemukan orang itu?" Tanya Alvin memburu. Berharap kabar baik dari sahabatnya itu.
Iya. Ada titik terang dalam pencarian kita. Maka dari itu kita harus bertemu. Aku akan menjelaskannya padamu.
"Baiklah. Datanglah ke rumah. Aku tunggu."
Kenapa kau tidak ke sini saja?
"Aku tidak akan meninggalkan istriku. Maka dari itu kau harus kesini. Aku ini bos mu. Kalau kau melawan akan ku potong gajimu."
Baiklah baiklah. Suara Rio di sebrang sana sambil menggerutu sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Alvin membenarkan selimut istrinya agar tidurnya nyaman. Ia mengecup bibir mungil Aya sebelum turun dari ranjang dengan hati hati. Kakinya melangkah menuju ke ruang kerjanya. Tempat dimana Ia akan bertemu dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
Pintu ruang kerja Alvin terbuka. Menampakkan sosok laki laki dengan pakaian casualnya tengah berjalan santai sambil membawa beberapa dokumen. Ia duduk di sofa tanpa di persilahkan. Jika menunggu di persilahkan mungkin Ia akan tetap berdiri sampai besok pagi.
"Nih baca dulu." katanya sambil menyerahkan map kepada Alvin.
"Nggak ada minum ya Vin?"
"Buat sendiri." Jawab Alvin ketus.
"Buatkan lah. Aku sudah terlalu lelah menangani kasus istrimu. Masa kau tega menyuruhku membuat minuman sendiri."
Alvin menaruh map yang belum Ia baca di atas meja. Sebagai rasa trimakasihnya Ia akan membuatkan minum untuk Rio kali ini.
"Mau minum apa?"
Beberapa saat berlalu Alvin kembali dengan membawa nampan. Ia menyajikan dua gelas jus dan beberapa cemilan untuk sahabatnya itu.
"Enak. Kuenya juga enak." Kata Rio setelah mencicipinya.
"Itu punya istriku."
"Istrimu makanannya enak enak."
"Hm. Makanan istriku harus enak juga sehat. Ngomong ngomong apa yang ingin kau jelaskan?"
"Baca dulu. Nanti aku jelaskan." Katanya dengan santai.
__ADS_1
Alvin membaca berkas itu sesuai dengan permintaan sahabatnya. Tangannya mengepal memberikan jejak kuku jari yang menancap pada telapak tangannya.
"Bajingan itu." Geram Alvin.
"Orang dalam." Kata Rio serius.
"Aku kecolongan. Aku bodoh." Alvin mengumpati dirinya sendiri.
"Bagaimana aku bisa tidak sadar tentang semua ini." Ia mengacak acak rambutnya frustasi.
"Vin beberapa pengawal yang ada di rumahmu bekerja pada Darwin. Pria itu sengaja mengirimnya untuk memata matai istrimu. Jadi jangan heran Ia tahu semua tentang istrimu. Karena tinggal serumah dengan kalian. Lalu untuk semua kiriman paket itu. Orang suruhan Darwin juga yang melakukannya. Paket itu dari Darwin. Untuk menghilangkan jejak Ia menyuruh orangnya itu untuk mengantar ke kurir dan tidak menggunakan identitas jadi sulit di lacak. Lagi satu, dia sangat tau detail tentang istrimu dan kamu kemana kau pergi mereka selalu tau. Buktinya saat kau berlibur di puncak orang itu juga di sana. Bahkan berani mengirim foto istrimu dengan terang terangan." Jelas Rio panjang lebar.
"Harus aku apakan bajingan itu dan atek anteknya." Gumam Alvin.
"Kau tau Darwin orang yang bagaimana? Dia kejam, dan tidak berbelas kasihan. Dia saat ini sedang di puncak karirnya. Cukup berat untuk kita melawan dia sekarang. Untuk saat ini kau harus menyingkirkan dulu orang orangnya yang berada di rumahmu dengan cara halus dan tanpa mencurigakan. Jangan sakiti orang suruhannya untuk sementara ini agar pria itu tidak curiga bahwa kau mengetahuinya. Dan lagi, selalu lindungi istrimu. Aku khawatir jika dia tau bahwa kau sudah mengetahui rencana liciknya dia akan bertindak nekat."
"Kau benar. Kita harus buat strategi agar dia tidak curiga. Menghadapi orang licik harus dengan kelicikan juga." Kata Alvin penuh penegasan.
"Wah. Kau tak pernah berubah." Kata Rio sambil menepuk pundak sahabatnya.
"Vin aku mau makan."
"Ambil sendiri di dapur. Masa aku juga yang harus menyiapkan. Memangnya kau siapa? Aku hanya menyiapkan makan untuk istriku seorang. Kau beruntung tadi aku mau membuatkan minum untukmu sebagai rasa trimakasihku."
"Iya iya aku ambil sendiri." Rio berlalu pergi meninggalkan Alvin sendiri.
__ADS_1