
"Mas bangun. Kamu pergi ke kantor nggak sih. Ini sudah jam 7 lebih."
Alvin tersenyum dengan mata terpejam. Ia begitu merindukan Omelan istrinya setiap pagi. Sebulan Ia tak bisa tidur jika tidak meminum obat karena kepergian istrinya. Hari ini tidurnya begitu nyenyak. Di kota dan dirumah tempatnya membina rumah tangga dengan dan istri. Hubungan mereka membaik setelah Daddy Aya mengizinkan putrinya untuk dibawa pulang sang suami setelah beberapa Minggu menginap disana.
"Terserah kamu Mas mau bangun apa enggak. Aku mau siapin sarapan dulu."
Alvin beranjak dari ranjangnya. Memeluk sang istri erat.
"Awas ah. Aku mau siapin sarapan."
"Biar mereka aja. Kamu jangan capek capek."
"Apaan sih. Mandi sana."
"Sebentar. Biarkan begini dulu. Aku sangat merindukanmu."
"Kan sudah ketemu."
"Iya. Tapi biarkan aku memelukmu."
Aya membiarkan apa yang dilakukan suaminya. Ia memberikan pria itu kesempatan untuk melakukan apa yang dia mau.
"Sarapannya dihabiskan sayang."
"Iya Ibu."
"Pagi." Kata Alvin menyapa dengan senyum lebarnya.
"Pagi Ayah." Jawab mereka berdua.
"Tolong pakaikan dasiku Yang."
Aya memakaikan dasi Alvin yang tengah duduk berjongkok di depannya.
"Sudah."
"Terimakasih." Alvin mengecup kening istrinya.
"Mau sarapan apa?"
"Apa aja asalkan kamu yang siapin aku makan."
Aya menyajikan pancake dan jus jeruk untuk suaminya.
"Nanti anak anak biar aku yang antar. Kamu dirumah saja."
"Iya." Jawab Aya patuh.
"Aku berangkat dulu ya. Jangan kecapean."
"Iya. Perasaan dari tadi kamu ngomongnya itu mulu."
"Biarin. Kamu suka nakal soalnya."
Aya mencium tangan suaminya. Alvin mengecup kening dan kedua pipi Aya kemudian memeluk wanita itu erat.
__ADS_1
"Zam dan Ara berangkat ya Ibu." Mencium tangan Aya dan memeluk ibunya bergantian.
"Iya sayang. Hati hati."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mereka memasuki mobil setelah puas berpamitan.
Baru saja memasuki rumah dan duduk di sofa. Perhatian Aya langsung tertuju pada pintu yang terbuka diiringi dengan salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Mom kesini kok nggak ngabarin." Aya membalas pelukan Mommynya.
"Ih kamu lupa ya. Kita kan kemarin udah sepakat hari ini bakal perawatan di salon Mommy."
"Ah itu ma maunya Mommy."
"Ayolah. Kita hari ini senang senang berdua."
"Iya Mom. Tunggu aku ganti baju dulu ya."
"Iya. Mommy tunggu disini."
Aya bergegas pergi ke kamarnya untuk bersiap.
Mereka sudah sampai di klinik kecantikan milik Mommy Aya.
"Baik Nyonya."
"Sayang ikut mbaknya. Mommy mau ke atas dulu."
"Iya Mom."
Aya mulai melakukan perawatan.
Karyawati yang melayani Aya sangat terpukau dengan kecantikan wanita yang sedang tenngkurap untuk melakukan spa itu. Kulitnya putih mulus bagaikan giok tanpa cacat sedikitpun.
"Mbak sudah lama bekerja disini? Saya kok baru ketemu mbak ya." tanya Aya memulai obrolan
"Saya baru dua Minggu disini Nona."
"Oh. Pantas saja saya baru melihat."
Karyawati itu begitu kagum dengan Aya. Wanita kaya raya itu tidak menjaga jarak dengan orang lain meskipun perbedaan status sosial diantara mereka sangat kontras.
Selesai dengan itu, Aya berlanjut untuk merapikan rambutnya. Wanita itu memangkas rambutnya sebahu.
"Sudah selesai Sayang?" Tanya Mommy menghampiri Aya yang sedang berkaca.
"Sudah Mom."
"Kamu cantik banget." Kata Mommy mencubit hidung Anak perempuannya.
__ADS_1
"Sakit Mom." Aya mengelus hidungnya yang memerah.
"Ututu maap maap." Mommy menggandeng tangan Aya untuk diajak jalan-jalan.
Alvin terpaku melihat penampilan Aya sebentar kemudian tersadar.
"Kalian darimana aja sih." Kata Alvin memburu menghampiri Istri dan mertuanya.
"Kenapa sih Vin. Kita cuman jalan jalan."
"Kakak ngajak istri orang nggak bilang bilang. Aku khawatir tau."
"Sekarang kan udah dirumah. Santai aja kali."
"Ibu." Zam dan Ara menghampiri dan memeluk Aya.
"Kalian sudah makan sayang?"
"Belum. Kami masih menunggu Ibu."
"Sudah sholat?"
"Sudah."
"Kalo gitu ayo makan. Ayo makan Mom."
"Iya. Ayo ayo. Mommy juga sudah lapar."
Mereka makan siang bersama.
"Kamu cantik banget." Alvin memeluk istrinya yang tengah mencuci tangan di wastafel kamar mandi.
Alvin menciumi ceruk leher istrinya. Tangan pria itu mulai bergerilya meraba seluruh bagian tubuh sang istri. Ia membalikkan tubuh Aya dengan cepat dan mencium bibir mungil itu dengan penuh hasrat. Alvin mendudukkan istrinya di meja marmer. Mengalungkan lengan sang istri di lehernya. Alvin memperdalam ciumannya. Ia mulai menelusupkan tangannya di balik dress Aya. Meraba tempat favoritnya yang begitu Ia rindukan selama ditinggal pergi sang istri.
"Aku menginginkannya." Suara Alvin begitu berat. Tanpa menunggu jawaban sang Istri Alvin menggendong Aya dan membawanya ke ranjang. Alvin mulai melucuti pakaiannya dan pakaian Aya hingga tidak ada sehelai benangpun yang menempel di tubuh keduanya. Alvin menciumi seluruh tubuh istrinya tanpa terlewat sedikitpun.
"Aku akan memulainya Sayang."
"Tunggu dulu." Kata Aya.
"Ada apa?" Alvin sudah tidak sabar lagi menahan hasratnya yang sudah sampai di puncak.
"Anak anak sudah tidur."
"Sudah. Aku mulai ya."
"Sebentar Mas."
"Kenapa lagi Yang?"
"Mommy sudah pulang."
"Sudah." Alvin mencium bibir istrinya agar tidak cerewet lagi. Ia membelai wajah lembut wajah Aya dan menatapnya dalam dalam. Alvin memulai Aksi penyatuannya dengan lembut setelah puas melihat kecantikan istrinya yang begituemikat. Suara ******* memenuhi kamar mereka. Peluh terus berjatuhan menjadi saksi sepasang suami istri itu yang kelelahan karena mengulangi kegiatan mereka berkali kali. Alvin memeluk tubuh polos istrinya setelah Aya tertidur karena kelelahan.
"Terimakasih sayang. Aku mencintaimu." Kata Alvin mencium bibir istrinya sebelum ikut tertidur.
__ADS_1