
Alvin sedang mengecek berkas berkasnya. Ia baru saja mengamati istrinya tadi yang masih duduk di ruang keluarga. Beberapa saat kemudian Ia mendapati istrinya tengah terbaring di sofa. Ia masih berfikir positif mungkin istrinya sedang ketiduran.
Suara getaran ponsel mengalihkan perhatiannya.
"Ada apa?"
Nyonya pingsan tuan. Sekarang kami masih menunggu dokter. Jawab orang di sebrang sana.
"Baiklah aku pulang sekarang." Alvin langsung beranjak dari duduknya. Saat terakhir kali memantau para pekerja yang sedang panik di sekeliling istrinya.
"Ada apa Bro?" Tanya Rio ketika keduanya berpapasan.
"Istriku pingsan. Kamu urus perusahaan dulu."
Kata Alvin sambil tergesa gesa.
"Oke hati hati." Jawabnya sambel berteriak karena Pria itu sudah berjalan cukup jauh.
Sampai di rumah Alvin langsung memindahkan sang istri ke kamar. Mereka tak berani menyentuh Aya karena takut Tuannya akan marah. Dokter baru saja datang langsung memeriksa kondisi wanita yang tengah hamil itu.
"Bagaimana Dok?" Tanya Alvin panik setelah dokter baru saja menyelesaikan tugasnya.
"Nyonya baik baik saja Tuan. Hanya perlu istirahat saja. Jangan lupa untuk banyak minum air putih."
"Baik dok. Terimakasih."
"Sama sama Tuan. Saya permisi dulu." Kata dokter sambil tersenyum dan berlalu pergi.
"Mas." Panggil Aya lemah pada suaminya.
Alvin langsung bergegas dan duduk di tepi ranjang menggenggam tangan Aya erat.
"Yang sakit dimana Sayang?"
"Cuman pusing sedikit."
"Yaudah kamu istirahat dulu aja."
"Iya. Kamu mau mandi atau makan dulu?"
"Mau mandi dulu aja Yang. Habis itu kita makan sama sama."
"Sebentar aku siapin bajunya."
"Nggak usah. Kamu istirahat aja. Aku bisa sendiri kok." Cegah Alvin.
"Tapi Mas. Aku beneran ga papa kok."
"By." Kata Alvin dengan nada tegas.
"Baiklah."
Alvin menciumi wajah istrinya sebelum pergi untuk membersihkan diri.
Sore hari pasutri itu tengah mengobrol santai di ruang tengah.
"Mas aku boleh minta sesuatu nggak?" Tanya Aya pada suaminya.
"Boleh Yang. Mau minta apa? Semuanya yang kamu mau pasti aku turuti."
"Aku pengen es kelapa muda."
__ADS_1
"Cuman itu?"
"Iya."
"Yaudah aku suruh orang cari kelapa muda ya. Tapi jangan pakek es. Nanti kamu pilek."
"Ayolah Mas. Aku pengennya pakai es." Rengek Aya.
"Yaudah. Tunggu sebentar." Alvin beranjak pergi untuk memerintahkan orang mencari kelapa muda sesuai keinginan istrinya. Ia kembali duduk di samping sang istri. Memeluk Aya dan membawa wanita itu dalam dekapnya. Tangan kekar itu mengelus lembut perut sang istri. "Sebentar lagi kalian lahir. Kasih sayang Ibu kalian pasti terbagi."
"Apaan sih. Sama anak sendiri cemburu."
"Yang."
"Iya."
"Kita kan udah punya sepasang anak nih. Kamu ga usah hamil lagi ya."
"Kenapa emang?"
"Kan aku udah makin tua. Butuh perhatian lebih dari kamu. Masa kamu ngurusin anak mulu. Waktu sama aku kapan?"
"Jangan ngomong gitu ih. Anak itu rezeki, titipan, Jadi jangan di jadikan beban."
"Iya. Iya. Cuman aku takut aja nantinya ga dapat perhatian dari kamu."
"Ya aku akan bagi waktu lah Mas. Sama anak, sama kamu juga."
"Permisi Tuan. Nyonya. Ini es kelapa mudanya."
"Terimakasih Bi." Kata Aya sambil menerimanya.
"Sama Sama Nyonya. Saya permisi."
"Iya."
"Pelan pelan Yang. Nanti tersedak."
"Iya. Mas mau?"
"Nggak. Kamu aja."
"Yaudah." Aya langsung menghabiskannya.
"Yang. Kamu tau nggak laptop aku ada dimana?"
"Di laci meja. Paling bawah."
"Oke."
"Dah ketemu belum?"
"Sudah kok." Alvin menghampiri istrinya di ranjang.
"Yang minta elus kepala aku dong." Kata Alvin yang sudah membaringkan kepala di pangkuan istrinya.
"Iya." Jawab Aya sambil melakukan apa yang diinginkan suaminya. Pria itu kini lebih manja pada Aya.
Pagi hari tampak cerah. Hari ini libur. Alvin akan menghabiskan waktu berdua dengan istrinya di rumah. Selesai sarapan pria itu mengajak sang istri untuk jalan jalan di taman depan rumah. Taman yang khusus dibuat untuk istri tercinta. Begitu indah dengan beberapa air mancur di sana. Baru saja ingin duduk di bangku taman. Keduanya di kejutkan dengan kedatangan sebuah taxi yang terlihat dari celah celah gerbang. Gerbang rumah terbuka lebar lebar. Seorang lelaki berjalan sempoyongan menuju ke arah keduanya. Alvin dan Aya mencium bau alkohol yang menyengat. Langsung saja Alvin menyuruh pengawal nya untuk membawa orang tersebut ke kamar mandi. Ia takut jika Aya tidak nyaman dengan ini.
Sampai di kamar mandi Alvin mengguyur tubuh Rio dengan shower agar pria itu cepat tersadar.
__ADS_1
"Hujan Hujan." Rancau Rio setelah pikirannya kembali.
"Heh. Kenapa kau mabuk begini datang ke rumahku? Kau tidak lihat istriku sedang hamil hah."
"Ya maap. Aku tidak ada tujuan lain. Pulang ke rumah pun percuma. Tidak ada yang merawatku. Mending di sini saja. Meskipun kau terus mengomel setidaknya ada yang memperhatikanku."
"Pembantumu pada kemana?"
"Aku tidak punya sekarang. Aku hanya ingin sendiri."
Alvin menaruh simpati pada sahabatnya ini. Ia berasal dari keluarga broken home. Papanya sudah lama meninggal karena di tinggalkan istrinya yang merupakan Mama Rio.
"Yasudah Mandi dan ganti bajumu. Aku tunggu di bawah." Kata Alvin meninggalkan Rio.
"Oke."
Rio telah merasa lebih baik menghampiri sepasang suami istri itu.
"Maaf ya Aya. Aku membuatmu takut dan tidak nyaman."
"Tidak apa Om. Air kelapanya di minum. Biar efek alkoholnya cepat hilang."
"Iya." Rio meneguknya sampai tandas.
"Terimakasih."
"Iya."
"Kenapa mabuk begitu. Bukannya sudah lama kau berhenti?"
"Aku hanya sedang banyak pikiran saja."
"Tentang apa?"
"Hanya masalah Mama dulu. Wanita itu tega meninggalkan aku dan Papa karena laki laki lain. Dia juga yang membuat Papa meninggal karena serangan jantung. Sejak saat itu aku trauma dengan wanita." Kata Rio sendu.
"Sudah Om. Hidup dan mati adalah takdir. Kapan saja orang bisa mati. Daripada membuat hidup buruk karena masa lalu, lebih baik memikirkan masa depan. Buktikan kalau Om sukses sekarang. Om bisa mandiri. Om orang yang baik. Jangan tutup kebaikan Om dengan hal hal seperti ini."
"Bagaimana aku bisa melupakan itu Ya. Sangat sulit."
"Carilah kesibukan. Hobi baru."
"Hobi apa Vin?"
"Entahlah. Selama itu positif. Daripada mabuk begini. Kesenanganmu sesaat. Efeknya bagi kesehatan akan berjangka panjang."
"Iya nanti aku pikirkan."
"Aya."
"Ya Om."
"Suamimu bijak juga."
"Iya. Dia memang bijak." Alvin tersenyum mendengar pujian dari istrinya.
"Sekarang dia sudah tidak emosian lagi kan?"
"Berangsur berkurang lah. Sekarang lebih baik. Aku suruh banyak banyak istighfar."
"Beruntung Vin kamu punya istri kaya Aya."
__ADS_1
"Iya dong." Kata Alvin memeluk istrinya.