
Suasana meja makan tampak berbeda tanpa adanya Aya di tengah tengah mereka.
"Ayah. Ibu mana?"
"Ibu sedang pergi ke pasar pagi tadi."
"Ayah. Ara minta maaf."
"Hm." Jawab Alvin cuek. Ia sebenarnya ingin menghukum Ara namun tidak jadi karena istrinya melarang.
"Ayah."
"Hm."
"Ibu maafin Ara kan Yah?"
"Nggak tau."
"Tolong bantu Ara buat minta maaf ke Ibu Yah."
"Yang salah kamu. Minta maaf sendiri. Udah. Ayah mau berangkat, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kak."
"Kamu jelasin ke Ibu Ra. Kakak nggak bisa ikut campur kalau sudah seperti ini."
"Kak..."
"Habiskan sarapan kamu. Kakak tunggu di depan." Kata Zam meninggalkan adiknya sendirian di meja makan.
"Ibu. Ara minta maaf." Gumamnya sambil menitihkan air mata.
"Assalamualaikum Mom."
"Waalaikumsalam. Eh sayang kamu kesini kok nggak bilang bilang." Mommy langsung berhambur memeluk putrinya.
"Sengaja mampir Mom. Tadi aku habis belanja."
"Yang lain kemana?"
"Darren sama Ano lagi ngampus. Kalo Daddy ada di belakang lagi urusin bonsainya tuh."
"Aku mau ke Daddy ya Mom."
"Iya. Ayo Mommy antar."
"Rajin ya Dad."
"Eh kamu datang." Daddy memeluk Aya.
"Tumben pagi pagi udah datang. Suami kamu sama si kembar mana?"
"Lagi kerja sama lagi ngampus. Dady nggak ke kantor?"
"Nggak. Lagi males."
"Kirain gila kerja. Ternyata bisa malas juga ya."
"Iya. Kadang kadang males."
Mommy dan Daddy menelisik ekspresi Aya yang tidak seperti biasanya.
"Kamu ada masalah sayang?"
"Enggak kok Mom."
"Jangan bohong. Mommy sama kamu udah dari kamu Bayi. Nggak mungkin Mommy nggak peka. Kamu lagi ada masalah kan?"
"Iya. Sedang ada masalah apa kamu sayang? Cerita sama kami."
"Bukan hal yang besar kok."
"Sekecil atau seberapa besarpun masalah kamu. Jika kamu cerita pasti akan lebih lega."
__ADS_1
"Aya bukan Ibu yang baik ya Mom?" kata Aya tiba tiba menangis.
"Enggak sayang. Kamu Ibu yang baik. Kamu sudah didik anak anak kamu dengan baik." Mommy memeluk anaknya untuk menenangkan.
"Kamu jangan nangis. Cerita pelan pelan."
"Dad. Semalam Ara pulang jam 12 malam. Dia dari club' sama temannya."
Mereka terkejut dengan apa yang dikatakan Aya.
"Ara dari club'. Ada apa dengan anak itu? Zam juga ikut?"
"Enggak Dad. Ara pergi sama temannya."
"Keterlaluan." Geram Daddy.
"Tapi Mommy sama Daddy jangan marahin Ara ya. Jangan bilang ke siapa siapa juga. Aya nggak mau nanti di anggap mengumbar masalah rumah tangga. Aya sudah lega karena sudah cerita sama kalian."
"Iya sayang. Mommy sama Daddy nggak akan marahi Ara."
"Makasih Mom. Dad."
"Sama sama sayang. Kalau kamu ada masalah jangan sungkan untuk cerita. Kami akan mendengarkan keluh kesah kamu."
"Ibu kemana Yah? Sarapan sama makan siang kok nggak ikut?"
"Ibu lagi tidur siang."
"Ara mau ketemu Ibu Yah. Ara mau minta maaf."
"Nanti aja. Jangan ganggu Ibu. Ibu capek. Lagi tidur siang sekarang."
"Kalo Ibu sudah bangun kasih tau Ara ya Yah. Ara mau minta maaf sama Ibu."
"Hm. Kalo nggak lupa."
"Ayah jangan lupa dong. Dari semalem Ara belum ketemu Ibu." Katanya sambil menahan air mata.
"Yah. Habis ini aku mau keluar ya."
"Tadi aja janjian volley di lapangan kompleks."
"Biasanya kalau Volley di sini. Kenapa jadi pindah ke lapangan kompleks?"
"Pengen suasana baru aja Yah."
"Iya deh. Jangan lupa bawain juga minum buat temen temen kamu."
"Iya Yah."
Ara merasa di perlakukan berbeda oleh Ayahnya dengan Zam. Hanya Ibunya yang menyayanginya. Namun Ia telah mengecewakan wanita itu.
"Yaudah Yah. Zam berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati hati."
"Iya."
Alvin menghampiri Istrinya dan memangku kepala Aya di pahanya.
"Yang."
"Iya."
"Ara tadi bilang mau ketemu kamu. Dia mau minta maaf."
"Kamu bilang apa?"
"Aku bilang jangan ganggu. Ibu masih tidur siang."
"Dimana dia sekarang?"
"Di kamarnya. Kalo Zam lagi volley di lapangan kompleks."
"Kamu lagi nonton apa?"
__ADS_1
"Tadinya mau nonton midsummer tapi ga jadi. Terus aku nonton fast furious aja."
"Kenapa nggak jadi?"
"Banyak adegan sadisnya. Aku mau muntah baru liat beberapa menit aja."
"Tangan kamu kenapa di plester?"
"Kena pisau tadi waktu potong buah di rumah Mommy?"
"Astaga. Hati hati dong."
"Cuman tergores sedikit."
"Masih sakit?"
"Enggak kok."
"Beneran?"
"Iya."
"Mas ada yang ketuk pintu. Kamu denger nggak?"
"Iya denger. Biarin. Paling juga Ara."
"Bentar deh. Aku bukain dulu."
"Biar aku aja."
Alvin membuka pintu dan Ara langsung masuk dan berlutut di depan Ibunya yang sedang duduk di sofa.
"Ibu. Ara minta maaf." Katanya sambil menangis dan memeluk kaki Aya.
"Ibu sudah maafkan sayang. Lain kali jangan diulangi lagi." Aya membantu anaknya duduk dan memeluk erat.
"Iya Ibu. Ara nggak akan pergi ke tempat seperti itu lagi. Ara janji."
"Bagus. Jadilah anak yang baik. Kamu boleh main. Tapi harus tau batas dan aturan. Apalagi kamu seorang perempuan. Harus menjaga martabat dan kehormatan. Perempuan itu tidak sebebas laki laki Nak. Kamu harus ingat itu."
"Iya Ibu. Ara minta maaf."
"Sudah. Jangan nangis lagi." Aya mengusap air mata anak gadisnya.
"Dengerin tuh. Kamu kalo di kasih tau masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Heran Ayah sama kamu."
"Iya Yah. Ara minta maaf."
"Yang sudah baikan. Nempel mulu." Kata Zam baru datang dari luar menghampiri Ibunya dan Ara yang sedang menyiram tanaman di depan.
"Salamnya mana sayang?"
"Assalamualaikum Ibuku yang cantik." Zam mencium gemas pipi ibunya.
"Waalaikumsalam. Mandi gih. Kamu keringetan begitu."
"Iya. Ibu."
"Yang. Nanti temenin aku ya."
"Kemana Mas?"
"Cari pot tanaman."
"Buat apa?"
"Buat ganti punya kakak yang aku pecahin waktu itu."
"Iya."
"Ibu. Ara.."
"Kamu di rumah sama Kakak. Jangan ngikut segala."
"Ibu..."
__ADS_1
"Ibu nggak ikut campur." Aya melanjutkan kegiatannya.