Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Hanya Kamu Alasan Aku Hidup


__ADS_3

Dady Aya turun dari mobil dengan raut wajah yang sudah emosi. Ia memasuki mansion kakaknya menghampiri keluarga yang tengah berkumpul disana.


"Aslan." Kata Papa Aya berdiri menyambut adiknya.


"Ayo duduk."


"Tidak perlu. Aku juga terpaksa menginjakkan kakiku di sini. Jika bukan karena keselamatan anak dan adikku aku tidak Sudi."


"Slan. Kamu bicara apa? Sampaikan baik baik. Kita bicara sambil duduk."


"Kakak tidak tau? Istri kakak kemarin datang membawa orang untuk menyerang keluarga Alvin. Dia bersikeras ingin membawa Aya pergi setelah perlakuannya yang lalu."


"Apa yang....Kakak tidak tau."


"Yang lebih parahnya lagi. Dia telah membuat Alvin terluka. Istri kakak tercinta ini sudah memukul Alvin dengan vas sampai tak sadarkan diri."


"Slan. Kakak tidak tau."


"Oh begitu ya..."


Semua orang hanya bisa terdiam disana sambil menunduk.


"Kakak memang bodoh. Aku peringatkan kepada kalian. Jangan temui dan jangan berani menyentuh putriku dan keluarganya lagi. Dia sudah cukup menderita. Aku tidak mau melihat putriku terluka karena kalian untuk kesekian kalinya. Jika kalian tetap bersikeras dan melanggar apa yang sudah aku katakan. Aku bersumpah kalian tidak akan pernah aku lepaskan. Camkan itu." Daddy Aya langsung pergi setelah mengutarakan semua itu. Sementara Papa Aya menatap istri dan anaknya dengan tajam.


Alvin terbangun dari tidurnya saat merasakan sang istri sudah tidak ada dalam pelukan. Ia bergegas turun dari ranjang untuk mencari Aya.


"Bi. Istri saya mana?"


"Sedang di dapur Tuan, dengan Tuan dan Nona muda. Sedang membuat puding untuk Tuan."


"Ok." Alvin bergegas menuju ke dapur.


Pria itu memeluk sang istri yang tengah duduk bersama anak anaknya dengan erat.


"Kamu bangun Mas?"


"Iya. Katanya bikin puding. Malah ngobrol kalian."


"Baru aja masukin ke freezer."


"Geser Ra. Ayah mau duduk sama Ibu."


"Enggak."


"Kamu minggir Zam. Ayah mau sama Ibu." Alvin menyuruh Zam yang tengah membaringkan kepalanya dengan manja di pangkuan Aya untuk pindah.


"Nggak mau Yah."


"Kalian nggak ada yang mau ngalah."


"Udah ah. Ujung ujungnya nanti ribut lagi." Alvin terpaksa duduk agak berjauhan dengan Istrinya.


"Kamu bikin puding aja Yang?"


"Sama brownies. Kamu mau makan sekarang?"


"Boleh deh."


"Sebentar aku ambilkan."

__ADS_1


"Awas Sayang. Ibu mau ambilkan Ayah brownies dulu."


"Sekalian buat kita Bu. Di kasih eskrim vanilla juga."


"Iya. Tunggu sebentar."


"Makannya pelan pelan dong."


"Enak Ibu."


"Hari ini kok panas banget ya?"


"Ini emang musim panas Mas. Udah seminggu nggak hujan. Kamu kepanasan?"


"Enggak, di dalam kan ada AC kalo di luar panas banget."


"Nggak panas kalo menurut aku. Tanaman kan banyak."


"Iya sih."


"Mas. Tanaman yang pada mati itu di ganti ya. Biar nggak kosong aja."


"Iya. Nanti aku suruh pak Bon buat ganti."


"Ibu. Ara pengen Pizza. Ara pesan ya."


"Iya."


"Sama burger dan kentang goreng boleh?"


"Boleh."


"Wih. Ibu emang the best." katanya karena apa yang diinginkan selalu di turuti.


"Ok." Katanya sambil mengutak Atik ponsel.


"Kamu kok minum Boba Yang?"


"Gapapa ya Mas. Sesekali. Lagi pengen."


"Iya. Jangan banyak banyak es nya. Nanti kamu pilek."


"Iya."


"Kamu pesan segini banyak habis Ra?" Tanya Alvin melihat meja penuh dengan makanan.


"Habis dong Yah. Kak Zam juga makan kan."


"Mas. Aku boleh..."


"Nggak. Junk food."


"Anak anak aja boleh."


"Mereka beda."


"Ayolah Mas. Ya...."


"Iya Yah. Kenapa sih."

__ADS_1


"Makanan nggak sehat."


"Sehat kok. Burger kan ada sayurnya."


"Iya. Kalo Ibu kalian yang makan sayurnya di buang. Apa masih bisa dibilang sehat?"


"Ayolah Mas..."


"Iya. Iya. Mau yang mana?"


"Kentang goreng aja."


"Iya." Alvin menyuapi istrinya.


"Ibu. Ara pengen coba Boba Ibu."


"Kamu tuh. Kan sudah punya sendiri."


"Kenapa sih Kak. Ara kepengen nyoba."


"Iya. Iya. Ini."


Sore hari semuanya tengah sibuk menata tanaman di taman. Alvin tak mengizinkan istrinya untuk menyentuh apapun. Alhasil Aya hanya duduk diam di gazebo. Ara dan Zam sudah sangat kotor. Mereka membantu para pekerja untuk menanam dan menyiram.


"Dah..Kalian mandi gih. Kotor begitu."


"Iya Ibu." Keduanya bergegas masuk untuk mandi. Alvin menghampiri istrinya dan duduk di samping wanita itu setelah semuanya selesai. Taman sudah tertata indah dan rapi.


"Gimana? Kamu suka?"


"Suka Mas. Makasih."


"Sama sama."


"Kepala kamu masih sakit?"


"Iya. Cium dong biar sembuh."


"Jangan aneh aneh kamu."


"Kalo kamu nggak mau aku aja." Alvi langsung mencium bibir istrinya.


"Kebiasaan. Nggak tau tempat."


"Biarin."


"Mas."


"Ya sayang." Aya menggenggam tangan suaminya.


"Kamu harus janji sama aku untuk tetap baik baik saja sampai kapanpun."


"Aku akan baik baik saja selama ada kamu."


"Mas. Semua yang bertemu akan berpisah begitu juga dengan kita. Tidak ada yang tau siapa yang akan mendahului. Jadi jika nanti Aku...."


Alvin mengecup bibir istrinya agar berhenti bicara. Ia tak mau mendengar apapun tentang perpisahan di antara keduanya. Meskipun itu suatu hal yang benar. Namun Alvin ingin mereka selalu bersama untuk selamanya.


"Jangan di teruskan. Kamu akan selalu bersamaku. Menemani setiap hari, setiap jam setiap detik, disisiku. Jangan katakan itu lagi. Tidak ada kata berpisah di antara kita. Hari ini, esok dan seterusnya kita akan tetap bersama. Kamu pergi di situ juga aku pergi."

__ADS_1


"Mas."


"Hanya kamu alasan aku hidup. Sudah. Jangan di bahas lagi." Alvin memeluk istrinya dengan erat.


__ADS_2