
Semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga di rumah Aya. Tidak ada yang berubah meskipun lima tahun telah berlalu. Mereka tetap sama. Sikap posesif mereka pada Aya juga sama. Terlebih lagi Alvin. Pria berusia hampir setengah abad itu semakin posesif pada istri cantiknya. Meskipun perawakan dan tubuhnya masih bagus. Namun umurnya semakin tua dan Istrinya masih Cantik seperti gadis. Ia tak rela Istri tercinta dilirik laki laki lain.
Darwin masih tetap sama tidak berniat untuk menikah karena penyakitnya. Ia sudah menganggap anak anak Alvin dan Aya sebagai anak mereka sendiri. Zam dan Ara juga memanggil Darwin Daddy karena permintaan pria itu. Sementara Rio juga masih sendiri. Ia dekat dengan wanita akhir akhir ini tapi juga tidak ada niatan untuk serius. Sama seperti Darwin. Ia juga menganggap Zam dan Ara sebagai anaknya sendiri. Mereka memanggil Rio dengan sebutan Papa. Si kembar sadar kedua orang itu begitu kesepian. Mereka ingin membahagiakan Darwin dan Rio seperti yang pernah di bicarakan dengan Ibunya. Zam dan Ara cukup prihatin dengan cerita masa lalu Darwin dan Rio. Oleh karena itu mereka sudah dianggap sebagai orang tua sendiri.
"Rio kapan kamu nikah? Jangan mainin anak orang."
"Ah ogah. Enak gini."
"Heh jangan ngomong gitu. Nikah itu ibadah."
"Iya ibadah kalo niatnya baik. Hukum nikah itu macem macem. Bisa jadi haram juga. Kalo ga percaya tanya aja sama Aya."
"Ya niatnya yang baik dong." Kata Nenek.
"Ah nanti nanti aja Bu. Kalo nggak nikah juga yaudah. Aku udah punya dua anak juga. Ngapain repot repot nikah buat bikin."
"Ngawur kamu kalo ngomong." Kakek memukul bahu Rio.
"Sakit Yah." Keluhnya sambil mengusap bahu bekas dipukul Kakek.
"Biarin. Punya mulut ngomongnya sembarangan."
"Aya. Kamu nggak ada niatan buat buka cabang restoran lagi?" Tanya Darwin.
"Belum tau Om. Maunya juga gitu."
"Gausah buka restoran lagi. Kaya kekurangan duit aja."
"Apaan sih Vin. Ini masalah pasion bukan masalah uang."
"Bisa bisanya. Daripada kamu ngomong pasion segala. Gih ganti tanaman Ayah yang kamu tendang kemarin."
"Eh kamu ngingetin itu lagi." lirih Darwin.
"Darwin. Hari ini kamu harus antar Ayah pergi cari. Kalo enggak awas kamu."
"Iya Yah. Nanti kita cari."
"Punya anak laki laki empat bikin pusing semua." Kakek memijit pelipisnya.
"Darren. Ano. Kuliah kalian gimana?"
"Lancar kak."
"Nggak bikin Mommy marah lagi kan?"
"Apanya. Mommynya aja ngomel tiap pagi gara gara mereka berdua. Daddy sampai pusing dengernya."
"Adek Adek kamu kebangetan. Kamarnya kaya kapal pecah. Padahal tiap hari di bersihkan."
"Namanya juga anak muda Mom. Maklum lah." kata Darren membela diri.
"Jangan gitu. Kasihan Mommy tuh. Lain kali jangan diulangi lagi. Kalian udah besar kok ya gini."
"Iya kak."
"Sayang kamu nginep di rumah Mama ya."
"Tanya anak anak dulu deh Ma."
"Kalo anak anak sih tergantung kamu."
"Nggak juga Pa."
__ADS_1
"Iya. Kemana kamu pergi atau mau kamu apa mereka nurut aja sama kamu dek."
"Enggak juga kak. Kadang juga mereka punya pilihan sendiri."
"Main ke rumah Mama ya dek. Mama sama Kakak kesepian. Mana belum juga dikasih momongan." Kata Zahwa penuh harap.
"Sabar kak nanti kalo rezekinya Kakak juga dikasih momongan."
"Amin."
"Nanti aku coba ngomong sama mereka kak." Jawab Aya sambil tersenyum.
"Kakak kenapa sih." kata Ara sambil cemberut.
"Kamu nggak sopan tau. Ibu kan selalu ngajari kita untuk sopan." Zam mengomeli adiknya.
Mereka ikut duduk bergabung dengan mereka.
"Kalian kenapa sih sayang. Daritadi kok ya ribut mulu."
"Ara nggak sopan Ibu. Masa Ara panggil aku dengan nama. Kan aku kakaknya."
"Jangan gitu dong sayang. Harus sopan sama kakaknya." Aya menasihati putrinya dengan lembut.
"Ara cuma bercanda kok Bu."
"Sekarang minta maaf sama kak Azzam."
"Maaf kak." Ara memeluk kakaknya.
"Iya." Zam membalas pelukan adiknya.
"Gini kan enak. Sama saudara harus akur."
"Zam tolong pijitin bahu papa dong. Papa capek banget." Kata Rio.
"Kalo Zam sama Papa Rio, Sini Ara pijitin Dady."
Iya Dad. Ara dan Zam memijit pundak Rio dan Darwin.
"Enak pijitan kalian."
"Enak dong Dad. Mau lebih kerasa lagi?"
"Boleh boleh. Daddy capek banget." Kata Darwin dengan mata terpejam menikmati pijatan dari Ara.
"Libur kerja aja Dad. Jangan terlalu banyak kerja. Istirahat di rumah."
"Iya. Besok Daddy mau libur aja buat istirahat."
"Papa nggak libur kaya Daddy."
"Mana boleh sama Ayah kalian."
"Ayah kasih libur Papa dong, kasihan tau." kata Zam pada Ayahnya.
"Iya."
"Beneran Vin?"
"Gamau nih? Pake tanya segala."
"Mau kok. Mau banget. Thanks Vin."
__ADS_1
"Ya."
"Kalian kapan kasih Zam sama Ara Adik?" Tanya Daddy.
"Enggak." Kata Zam, Ara dan Alvin bersamaan.
"Kalian kompak banget." Kata Aya keheranan.
"Kita nggak mau punya adik."
"Aku juga nggak mau punya anak lagi. Dua aja udah cukup."
"Kenapa?"
"Punya adik nggak enak Oma. Nanti perhatian Ibu terbagi bagi lagi."
"Iya nanti Ibu nanti nggak bisa manja kita lagi."
"Kata siapa begitu?"
"Ayah bilang begitu."
Aya melirik suaminya.
"Bener Yang. Nanti aku sama anak anak kurang perhatian kamu. Nggak kasian apa ngelihat kita terlantar."
"Jangan Drama kamu Mas."
"Emang bener kok."
"Kita pokoknya nggak mau punya adik Ibu."
Aya menghembuskan nafasnya lemah melihat tingkah kedua anak dan suaminya.
"Kamu darimana aja sih yang. Malam malam suka ngilang aja." Kata Alvin pada Aya karena terbangun saat tidak mendapati sang istri dalam pelukannya.
"Aku minum di dapur."
"Kamu kan bisa bangunin aku."
"Nggak tega. Kamu tidurnya nyenyak banget."
"Kita tidur lagi." Alvin menggendong istrinya dan membawanya ke ranjang. Alvin ikut berbaring di samping Aya dan memeluk istrinya erat.
"Yang."
"Iya."
"Aku bersyukur banget atas hidup ini. aku memiliki Istri cantik dan baik. Memiliki anak anak yang penurut. Serta hidup berkecukupan. Selalu dikelilingi orang orang yang baik di sekitar kita."
"Iya Mas. Kita harus banyak banyak bersyukur atas nikmat yang begitu melimpah ini."
"Aku mencintaimu Istriku." Alvin menatap istrinya lekat.
"Aku juga mencintaimu suamiku."membalas tatapan suaminya.
"Berjanjilah kita akan selalu bersama untuk selamanya. Aku akan selalu membahagiakan kamu dan anak anak kita. Aku akan jadi suami dan Ayah yang baik untuk kalian. Terimakasih sudah menerimaku, membimbingku dan mengajariku berbagai hal dalam hidup ini. Terimakasih juga atas segala pengabdian tulusmu sebagai seorang Istri dan Ibu untuk anak anak kita."
"Sudah kewajiban ku Mas."
"Sekali lagi Terimakasih Istriku. Aku sangat mencintaimu." Alvin mencium bibir Aya dan membawa wanita itu dalam dekapnya. Alvin tersenyum. Ia sangat bersyukur atas kesempurnaan hidupnya. "Terimakasih ya Allah atas segala yang kau berikan. Aku akan menjaga apa yang engkau percayakan padaku. Itu janjiku." batin Alvin sambil memejamkan mata menyusul sang istri ke alam mimpi.
-Tamat-
__ADS_1