Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Aku Minta Maaf


__ADS_3

Suasana menjadi tegang di ruang tengah. Semua penjaga hanya bisa menunduk tak berani menatap Alvin yang tengah berdiri sambil mersedekap dada di depan barisan. Aura kemarahannya begitu mendominasi ruangan. Membuat nafas mereka sedikit tercekat. Hawa seketika menjadi panas, padahal pendingin ruangan ada di setiap sudutnya. Seorang laki laki segera menghampiri Alvin dengan nafas ngos ngosan. "Katakan." Tak memberi kesempatan untuk mengatur oksigen yang keluar masuk dalam tubuh pria itu.


"Maaf Tuan."


"Cukup." Teriaknya menggema di seluruh ruangan.


"Saya sudah katakan jangan biarkan istri saya keluar Apapun alasannya. Apa kalian tidak ingat ha?"


"Maaf Tuan. Tapi Nyonya tadi mengatakan sudah Izin Tuan. Katanya ada urusan penting di sekolah Tuan Muda." salah satu dari mereka memberanikan diri untuk menjelaskan.


"Omong kosong. Kenapa kalian tidak memberi tahu saya?"


"Maaf Tuan." kata mereka serempak.


Aya baru pulang mendengar keributan di ruang tengah. "Sayang kalian ikut Om Darren sama Om Ano dulu ya. Nanti Ibu susul."


"Iya Bu."


"Kakak mau kemana?"


"Ada sedikit urusan. Kalian bawa Zam sama Ara ke kamar dulu ya."


"Iya kak."


Pintu terbuka lebar. Aya memasuki ruang tengah. Semua orang bernafas lega disana.


"Nyonya." Sambut mereka bersamaan.


"Sayang, Kamu darimana?" Alvin langsung berhambur memeluk istrinya.


Aya tersenyum ramah tidak menanggapi suaminya.


"Kalian boleh bubar."


"Terimakasih Nyonya. Kamu permisi."


"ya."


"Kamu darimana sih? Aku khawatir tau." Alvin mengecupi wajah istrinya.


"Duduk." Kata Aya tegas langsung dituruti oleh Alvin.


"Kamu darimana? Dari tadi kamu belum jawab."


"Mas. Jangan gini lah. Aku mau kamu minta maaf sama mereka."


"Apa? minta maaf? aku kan ga salah."


"Kamu marah marah tadi. Kamu bilang kamu ga salah?"


"Mereka yang salah. Mereka lalai dalam tugas."

__ADS_1


"Aku tadi emang keluar, ke sekolah Darren sama Ano."


"Kan ada supir Yang. Kalau memang mau jemput."


" Ada rapat tadi di sekolahnya."


"Kan bisa sama aku. Lagian kenapa kamu ga izin dulu sih."


"Aku dah coba hubungi kamu tapi nggak aktif."


"Maaf."


"Lain kali di cari tau dulu dong. Jangan asal marah marah begitu."


"Iya. Maaf."


"Kamu liat nggak mereka pada takut semua. Kamu kontrol emosi kamu dong Mas. Kamu dah punya anak. Kasih contoh yang baik dong."


"Iya Yang. Aku minta maaf." Jawab Alvin sambil menundukkan kepalanya. Ia takut jika Aya marah dan mengabaikannya.


"Kamu suka benget minta maaf. Tapi kejadian seperti ini sudah terulang berkali kali. Mas, Mau sampai kapan kamu Kurung aku di rumah kaya gini. Sedari dulu aku selalu nurut apa yang kamu katakan. Kamu bilang aku ga boleh keluar sama teman teman, ok aku turuti. Kamu antar jemput aku tiap hari. Selalu mengawasi aku dimanapun dan kapanpun sampai sekarang umur aku udah 24. Itu bukan waktu yang singkat. Kamu keterlaluan tau nggak. Selama bertahun tahun aku hidup seperti tahanan. Tidak boleh kemana mana. Tidak punya kebebasan sama sekali. Aku manusia biasa Mas. Aku juga butuh waktu untuk diriku sendiri. Aku punya rasa bosan."


Alvin tak bisa berkata kata lagi mendengar semua yang diucapkan istrinya. Pria itu memeluk istrinya erat. Ia tak mau Aya marah padanya.


"Jangan marah. Aku salah. Maaf."


Wanita itu menepuk punggung suaminya dengan lembut. Ia tau seberapa besar Alvin mencintainya dan Ia juga sadar pria itu begitu takut kehilangan.


"Beneran?" Tanya Alvin sambil menangkup wajah istrinya.


"Iya." Kata Aya sambil tersenyum.


"Terimakasih."


"Sudah makan?"


"Kamu nggak di rumah. Mana bisa aku makan."


"Yaudah mandi dulu sana. Setelah itu langsung makan."


"Temani."


"Aku mau mandiin anak anak dulu."


"Aku nggak di mandiin?"


"Enggak." Kata Aya berlalu pergi disusul Alvin di belakangnya.


"Darren sama Ano PR nya sudah selesai belum?" Tanya Aya ketika mereka berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam.


"Sudah beres semua."

__ADS_1


"Bagus."


"Ara turun. Nanti kamu jatuh." Kata Alvin memperingati anak perempuannya yang sedang berdiri di atas kursi dekat aquarium.


"Ara pingin liat ikan dari dekat Ayah."


Baru saja Aya ingin angkat bicara untuk menegur anaknya. Suara terjatuh mengejutkan mereka semua. Ara menangis keras membuat semua orang segera melihat kondisinya. Aya dengan cepat menghampiri dan menggendong anak perempuannya.


"Ada apa Nyonya?" tanya mereka tergopoh gopoh dengan raut wajah khawatir.


"Ah tidak apa kok. Hanya terjatuh saja. Kalian istirahat saja ya. Maaf mengejutkan."


"Baik Nyonya. Tuan. Kami permisi."


"Iya." Kata Aya sambil tersenyum.


"Kan Ayah udah bilang jangan naik naik nanti jatuh. Nggak pernah dengerin sih. Makanya kaya gini jadinya. Kalo udah jatuh nangis kan." Alvin mengomel membuat Ara semakin menangis.


"Udah....cup....cup.. Mana yang sakit sayang?"


gadis kecil itu tidak menjawab hanya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang Ibu sambil sesenggukan.


"Dah jangan nangis. Sini Om gendong."


Ara hanya menggeleng menolak Darren dan Ano.


"Adek turun. Kasian Ibu." Kata Zam.


"Gamau."


"Sama Ayah aja ya."


"Enggak."


"Yaudah. duduk. duduk." Aya duduk memangku Ara yang masih setia memeluk nya.


"Zam ngantuk?"


"Iya."


"Yaudah tidur ya."


"Ibu temani kan?"


"Iya."


"Kakak ke kamar dulu ya. Kalau nonton jangan sampai kemalaman."


"Iya kak." Keduanya mengecup pipi Aya dan si kembar.


Aya berbaring di samping kedua anaknya setelah mengganti pakaian mereka. Alvin juga ikut berbaring. Posisi anak anak berada di tengah sekarang. Memberikan jarak pada sepasang suami Istri itu.

__ADS_1


Setelah memastikan tertidur pulas. Alvin perlahan melepaskan pelukan anak anaknya pada sang istri. Ia menggendong Aya yang tengah tertidur dengan tengang dan membawanya ke kamar. Pria itu merebahkan tubuh ringan istrinya di ranjang. Ia ikut tertidur memeluk erat tubuh Aya.


__ADS_2