
Keluarga kecil Alvin tengah sarapan bersama. Kedua anak dan suaminya terus menempel pada Aya. Mereka tak mau berpisah karena Aya akan pergi ke Jogja pagi ini. "Kenapa Ibu nggak tinggi kita libur sih?"
"Kenapa aku nggak boleh ikut sih Yang?"
"Sudah sudah. Kita kan sudah bicara semalam. Hanya beberapa hari disana. Jangan ada yang menyusul ya. Nanti Ibu ngambek." Aya memperingati mereka.
"Tiga hari itu lama Bu."
"Iya Yang."
"Habiskan sarapan kalian. Ibu mau berangkat sebentar lagi."
Sebenarnya Aya juga bingung kenapa teman Neneknya hanya ingin bertemu dengannya sendiri. Mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan dan hanya Aya yang boleh tau.
"Sudah. Jangan pada nangis Ibu berangkat dulu." Aya menyeka air mata kedua anaknya.
"Kamu hati hati Yang. Kabari aku sering sering."
"Iya. Ibu kasih kabar ke kita. Jangan lupa minum obat dan makan teratur."
"Iya. Ibu berangkat dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Mereka melepaskan pelukannya.
"Kalian langsung ke kampus sama pak supir. Ayah mau ke kantor."
"Iya. Minta uang jajan."
"Kok minta lagi. Masa uang kalian habis."
"Itu kan yang kasih Ibu. Kita minta juga dari Ayah."
"Bisa bisanya."
"Nih." Alvin memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk Zam dan Ara.
"Makasih. Ayah emang ganteng."
"Jangan banyak ngerayu. Ayah berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Ibu kok belum kasih kabar ya kak?"
"Nanti paling. Ibu masih di perjalanan kayanya. Baru juga sejam."
"Ara." Panggil seorang.
"Iya kak."
"Kamu kok baru sampai?"
"Iya. Tadi habis antar Ibu ke bandara."
"Ibu kamu memangnya kemana?"
"Pergi ke Jogja."
"Yaudah. Kita masuk yuk."
"Iya."
Aya telah sampai di Jogja. Kota yang sangat Ia rindukan. Aya langsung memasuki mobil yang sudah menjemputnya. Ia akan ke restaurannya sebentar untuk mengecek keadaan disana.
"Pak kita ke restaurant ya."
"Baik Non."
"Bos sudah datang." Kata seorang wanita berlari melihat kedatangan Aya dan langsung memeluknya.
"Iya. Baru saja."
__ADS_1
"Bos mau minum apa? Duduk dulu."
"Cappucino 2 sama black forest 2."
"Ayo duduk pak."
"Tidak Non. Saya tunggu di luar saja."
"Ayolah pak. Kita ngopi sama sama."
"Baik Non."
"Ini Bos."
"Makasih. Silahkan dimakan pak."
"Terimakasih Non."
"Sama sama."
"Bos tumben ke Jogja nggak sama suami sama anak?"
"Lagi ada urusan. Pengen pergi sendiri."
"Tumben dikasih izin bos."
"Urgent banget soalnya. Sekalian liburan. Lumayan lepas dari mereka tiga hari. Kalo dirumah pusing denger mereka berantem Mulu."
"Iya. Anak sama suami bos posesifnya kelewatan."
"Iya. Daritadi udah di telfon 15 kali. Parah nggak tu."
"Sebanyak itu Bos angkat semua?"
"Enggak lah. Aku angkat dua kali. Aku kirim chat tadi."
"Tuh telfon lagi mereka." Aya langsung mematikan ponselnya yang sedaritadi bergetar.
"Pak. Tiga hari kedepan bapak saya kasih libur ya. Saya mau nyetir sendiri."
"Saya bisa sendiri pak. Daripada saya nganggur. Bapak istirahat saja."
"Baik Non terimakasih."
"Sama sama."
"Ih kok nggak di angkat. Sekarang ga bisa dihubungi lagi. Ayah gimana?"
"Sama."
"Papa sama Daddy?"
"Nggak bisa juga."
"Kemana sih. Kok nggak kasih kabar lagi."
"Cari cogan Vin. Aya bosen sama kamu."
"Iya. Kalian mau dicariin Ayah baru tuh."
"Ayah harus susul Ibu."
"Ayah. Jangan. Nanti Ibu ngambek kalo Ayah nekat."
"Tapi..."
"Jangan dengerin Daddy sama Papa. Mereka usil aja. Mana mungkin Ibu kaya gitu."
"Yaudah. Tapi Ibu kalian gimana? Ayah khawatir tau."
"Vin. Nyambung nih." Kata Darwin.
__ADS_1
"Mana mana."
"Waalaikumsalam Ya." Alvin langsung merebut ponsel Darwin dan langsung mengalihkan ke video call.
"Kamu kemana aja sih. Daritadi hubungi nggak diangkat."
"Lagi mandi Mas."
"Ibu kebangetan masa kita telfon nggak diangkat."
"Maaf sayang."
"Ya. Kamu disana cari laki baru ya."
"Ih Om apaan sih. Aku disini ada urusan tau."
"Kirain. Kalo mau cari jangan jauh jauh aku kan ada."
"Sialan kalian." Umpat Alvi.
"Astaghfirullah Mas. Mulutnya."
"Biarin. Mereka kurang ajar."
"Ibu kapan pulang?"
"Astaga. Baru juga sampai tadi ditanya kapan pulang."
"Kita kangen sama Ibu. Kita bosen sama Ayah terus."
"Oh bosen sama Ayah ya. Ok.. Kalian jangan minta uang lagi sama Ayah."
"Heheh. Bercanda Yah."
"Tau ah."
"Ya. Aku ganteng ngga?"
"Ganteng."
"Kalo Aku."
"Ganteng."
"Ganteng mana sama suami kamu?"
"Kenapa tanya begitu?"
"Pengen tanya aja."
"ah nggak faedah. Udah dulu ya. Aku mau sholat."
"Sebentar dulu dong Yang."
"Apalagi sih. Oh Iya. Kalian yang akur di rumah. Jangan berantem Mulu."
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Tergantung anak anak kamu nyebelin atau enggak."
"Pokoknya jangan pada berantem aja. Udah ya.."
"Tunggu dulu. Jangan dimatiin."
"Kenapa sih. Udah adzan tuh."
"Tunggu Ya. Kasian Alvin tidur sendiri."
"Biarin. Udah ya. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Eh tunggu Yang. Waalaikumsalam." Jawab mereka karena Aya sudah mematikan panggilannya.
Aya tengah menikmati suasana sore di balkon. Begitu tenang dan damai. Ia hanya sendiri di rumah karena menyuruh ART di rumahnya berlibur saat Ia di sana. Tidak ada perdebatan suami dan anak anaknya lagi. Momen seperti ini benar-benar mengistirahatkan jiwanya. Wanita itu menyesap lemon tea nya. Ini adalah hal yang Ia butuhkan. Beristirahat untuk dirinya sendiri. Jika sekarang di rumah, pasti Ia akan jengah dengan kedua anak dan suaminya yang begitu manja. Tak memberikan waktu utuk menikmati waktunya. Aya sayang kepada mereka namun di sisi lain Aya juga merasa tertekan dengan keadaan yang mengharuskannya untuk bersabar, memberi contoh, dewasa, penengah dan penurut sebagai seorang Ibu sekaligus istri. Ia menjadi Ibu di usia sangat muda dimana kebanyakan remaja tengah bersenang senang. Ia sekarang juga harus memikul tanggung jawab sebagai seorang istri dan Ibu dari dua anak remaja yang seharusnya di masa seperti ini orang cenderung lebih fokus ke karir. Aya menghela nafasnya pelan. Semuanya begitu berat namun harus dijalani. Aya tau ini adalah nikmat yang harus disyukurinya.