
Hari Minggu, mereka semua berkumpul di rumah Aya.
"Kenapa manyun begitu Vin?" Tanya Rio.
Huft.. Alvin menghembuskan nafasnya pelan. "Istri aku?"
"Aya kenapa Vin?" Tanya Mommy ikut menimbrung.
"Nggak kenapa napa."
"lah...Gimana sih."
"Aku cuman kesel aja."
"Kesel kenapa?"
"Gimana nggak kesel. Kalo dia ngomel ngomel suka pake bahasa Mandarin. Parahnya nggak cuman bahasa itu aja. Kadang juga ganti ganti bahasa. Aku nggak ngerti sama sekali." Kata Alvin sambil cemberut membuat mereka semua tertawa.
"Ada untungnya Aya belajar bahasa waktu SMA dulu. Kalo mengutuk kamu pun, kamu ga bakal ngerti."
"Dasar." Alvin menendang kaki Darwin.
"Pake google translate dong Vin."
"Ah. Ribet. Mau dengerin ocehan istri aja harus pakek google translate segala."
"Aya." Panggil Darwin melihat Aya baru datang.
"Iya Om."
"Anak anak mana sayang?"
"Lagi lihat ikan di ruang keluarga Mom."
"Kalo gitu Mommy ke sana ya."
"Iya Mom."
"Ada apa Om?" Tanya Aya pada Darwin sambil duduk di samping suaminya.
"Kamu kalo marah suka mengutuk suamimu ya. Kalo pakai bahasa asing kan dia ga ngerti."
"Enggak. Mana berani aku. Meskipun dia nggak ngerti pun aku gak berani lah Om ngutuk suami sendiri."
Alvin tersenyum ingin sekali mencium dan memeluk istrinya. Tapi Ia masih ngambek dengan Aya.
"Aya."
"Ya Om."
"Aya, ton mari est de mauvaise humeur en ce moment.(Aya, suamimu sedang ngambek sekarang) Kata Darwin dengan bahasa Perancis nya.
"Vraiment? Elle a l'air trop mignonne comme ça (Sungguh? Dia terlihat begitu manis jika seperti ini) Jawabnya sambil tersenyum.
"Ah kalian ngomong apaan. Bikin pusing." kata Rio memegangi kepalanya.
"Rio ojisan wa totemo kawaīdesu(Om Rio sangat lucu.)"
__ADS_1
"Darwin. Istriku ngomong apa?"
"Katanya kamu sangat manis jika ngambek begini. Tapi yang terakhir aku tidak tau. Aku nggak bisa bahasa Jepang."
Alvin menatap istrinya sambil tersenyum.
"Am I really cute when I sulk like this?(Apakan benar aku manis saat ngambek begini?)"
Aya terkekeh sambil menatap suaminya dalam dalam.
"Je retire ce que j'ai dit. On dirait que j'avais tort.(Saya menarik apa yang saya katakan. Sepertinya aku salah)"
Aya berlalu pergi meninggalkan mereka semua.
"Darwin. Dia bilang apa?"
"Dia menarik kembali ucapannya. Dia sudah salah menilai."
"Wah kebangetan." Alvin mengejar istrinya.
"hein stupide. Pourquoi suis-je même leur traducteur ? (hah bodoh. kenapa aku malah jadi penerjemah mereka.)" Darwin berdiri dari duduknya meninggalkan Rio sendirian.
"Kaya orang bodoh aku. Nggak ngerti sama mereka semua."
"Hah...kalian keterlaluan." teriaknya frustasi.
"Mas." Teriak Aya menggema di kamar.
"Ada apa sih Yang?" Tanya Alvin sambil tersenyum melihat istrinya masih memakai bathrobe. Ia sengaja mengerjai istrinya. Melihat wajah cemberut Aya adalah hiburan tersendiri bagi Alvin. Begitu lucu dan menggemaskan.
"Walk in closet nya tidak bisa dibuka. Aku mau ganti baju."
"Itu kan kamu. Bukain dong. Aku mau ganti baju nih."
"Tunggu sebentar. Mending kita duduk dulu." Alvin menuntun istrinya untuk duduk di pangkuannya.
"Ngapain sih? Aku mau ganti baju."
"Nggak usah. Gini aja udah cantik. Aku suka. Apalagi kalo ga pake baju." Alvin mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan ngada ngada kamu. Tadi kan sudah mandi bareng. Sekarang bukain."
"Iya aku buka." Alvin hendak menarik tali bathrobe istrinya.
"Mau ngapain?" Aya mencekal tangan Alvin.
"katanya suruh buka. Istri aku emang nggak sabaran ya."
"Ih bukan ini. Bukain pintunya. Kamu gimana sih. Aku sudah kedinginan ini."
"Yaudah aku peluk biar ga dingin." Alvin memeluk istrinya erat.
"Mas." Rengek Aya.
"Iya sayang. Mau lebih hangat lagi. Baiklah..."
Alvin semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Mas.."
"Lima belas menit." menenggelamkan wajahnya ke dada sang istri.
Aya dan Alvin berada di walk in closet sekarang. Ketika wanita itu hendak keluar namun pintunya terkunci lagi.
"Mas."
"Apa sih Yang. Kamu kangen aku Mulu."
"Jangan terlalu percaya diri kamu. Kuncinya kamu kemanain sih. Aku mau keluar ini."
"Tadi pengen masuk."
"Iya tadi sebelum ganti baju. Ini kan sudah ganti baju. Sekarang aku pengen keluar. Mana kuncinya?"
"Aku masih pengen disini."
"Terserah kamu. Aku pengen keluar."
"Kalo aku nggak keluar, kamu juga ga boleh keluar."
"Ih kamu kok nyebelin gini sih."
"Kamu juga. Siapa suruh ngomel ngomel pakai bahasa lain yang nggak aku ngerti. Coba jelasin kamu ngomong apa aja." Katanya sambil memangku sang istri. Alvin memeluk istrinya dan menyenderkan kepalanya di punggung Aya.
"Yang mana? Aku ngomong banyak."
"Yang intinya saja. Apakah kamu jelekin aku atau apa katakan, aku nggak akan marah kok."
"Nggak aku nggak berani jelekin kamu. Aku cuman bilang 'Mas jadi orang jangan suka bohong, kasian anak anak sudah kamu beri janji tapi kamu ingkari. Mas, kamu harus kasih contoh yang baik dong. Mas, tolong kalau anaknya salah di nasehati baik baik bukan dimarahi. Mas, Sama anak jangan perhitungan.' Aku bilang begitu."
"Perasaan banyak banget."
"Iya tapi intinya itu."
"Nggak ada lagi?"
"Nggak."
"Bohong dosa Lo."
"Oh iya kemarin kemarin aku bilang gini. Tapi kamu janji nggak akan marah ya."
"Apa dulu."
"Janji dulu."
"Iya. Iya."
"Tiān nǎ, duìbùqǐ. Dànshì wǒ kěyǐ yǒu yīgè xīn zhàngfū ma? Zhège tài biàntàile."
"Apa artinya?"
"Ya tuhan, maafkan aku. Tapi bisakah aku memiliki suami baru? Yang ini terlalu mesum."
"Oh nakal kamu. Berani minta suami baru."
__ADS_1
"Katanya nggak marah. Kamu sudah janji. Aku cuma bercanda."
Alvin mencium bibir istrinya. "Kamu harus dihukum." Ia mulai menggelitik Aya sampai wanita itu tertawa kegelian.