Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Kita Punya Luka Masing Masing


__ADS_3

"Beneran nggak nginep? Kita baru aja pulang loh. Masih kangen." Tanya Mommy saat mereka mengantar keluarga kecil Alvin ke depan.


"Lain kali aja Mom. Zam suka rewel sekarang. Minta pulang terus kan daritadi."


"Zam beneran ga mau nginep di rumah Opa?"


"Zam mau pulang Opa."


"Yaudah kalo gitu." Kata Mommy dengan raut wajah sedihnya.


"Udah deh kak. Jangan memelas. Nggak ngaruh."


"Diem kamu Vin."


"Cium tangan dulu sayang. Bilang makasih Karna di bawakan oleh oleh."


"Iya Ibu." Keduanya mencium tangan semua orang.


"Terimakasih oleh olehnya. Zam sama Ara suka."


"Sama sama sayang." mereka Memeluk kedua anak kecil yang menggemaskan itu.


"Makasih ya oleh olehnya."


"Sama sama sayang."


"Kita pulang dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati hati."


"Iya."


"Alvin banyak berubah ya sekarang." Kata Kakek tiba tiba.


"Iya. Udah nggak nyolot lagi kalo ngomong."


"Kak Aya selalu marahin kalo salah. Makannya gitu."


"Beneran?"


"Iya Mom kata kak Aya gini. 'Mas kalo ngomong jangan sembarangan dong. Kasih contoh yang baik buat anak anaknya.' Gitu." Kata Darren menirukan.


"Hahahaha. Bagus bagus. Aya emang hebat."


"Ya kan aku Mommy nya." Katanya sambil berlalu pergi.


"Hah kalian dari mana aja di tungguin dari tadi?" Kata Darwin melihat Aya dan Alvin memasuki rumah.


"sini sini Om kangen kalian." kedua pria itu bangkit dari duduk dan menggendong Zam dan Ara.


"Om sudah lama?"


"Lumayan. Kalian darimana?"


"Dari rumah Mommy. Anterin Darren sama Ano pulang. Oh iya ini oleh oleh untuk Om Darwin dan Om Rio. Katanya daritadi kalian di hubungi ga diangkat."


"Wih. Makasih ya. Nanti aku sama Darwin kesana deh."


"Sekarang aja."


"Kenapa sih Vin. Kamu ngusir kita?"


"Bagus kalo ngerasa."


"Kita kesananya nanti aja."

__ADS_1


"Iya. kita masih pengen disini."


"Dasar."


"Ya. Masakin Om dong. Udang asam manis kaya kemarin. Kalo orang lain yang masak rasanya beda."


"Enak aja main suruh suruh istri orang."


"Napa sih Vin. Kalo Aya mau biarin."


"Iya. Mau makan sekarang Om?"


"Nanti juga ga papa. Kamu istirahat dulu aja."


"Aku ga capek kok Om. Aku masakin sekarang."


"Kamu ngapain sih Yang. Biar orang dapur aja yang masak."


"Gapapa Mas."


"Yaudah aku temenin."


"Iya."


"Vin anak anak udah tidur. Ini mau di bawa ke kamar aja."


"Iya. Biar aku aja yang bawa."


"Gausah, kita aja."


"Yaudah. Hati hati jangan sampai bangun."


"Iya."


"Kamu kenapa sih Yang?"


"Mereka minta apa selalu kamu turuti." Kata Alvin sambil cemberut.


"Mereka Om aku. Keluarga kita."


"Tapi kamu berlebihan deh. Jangan jangan kamu ada rasa lagi sama mereka."


Aya menghadap suaminya, lalu menatap wajah Alvin lekat.


"Mas kamu ngomong apaan sih."


"Aku kan cuman menduga."


"Jangan sembarangan kamu."


"Tapi kamu selalu perhatian sama mereka. Suami mana yang nggak cemburu lihat istrinya begitu sama orang lain."


"Siapa yang nggak bikin kamu cemburu? Sama anak sendiri aja cemburu."


"Ih aku serius."


"Aku juga serius. Mas, Kamu masih punya aku, punya keluarga, Punya anak anak. Mereka punya siapa selain kita? kamu pernah berfikir sampai ke situ nggak sih."


"Yang."


"Mas. Aku tau kamu merasa tidak nyaman dengan semua ini. Tapi demi apapun aku nggak ada rasa sama mereka. Aku anggap mereka seperti Om ku sendiri. Mereka cuman punya kita. Jika kita tidak membahagiakannya siapa lagi? Mereka sudah melalui kehidupan yang sulit. Dimana tidak mendapat tempat di keluarga kandungnya. Aku pun juga demikian. Tidak pernah merasakan kehangatan pelukan seorang ibu yang telah melahirkan. Kamu juga sama, di tinggal orang tua ketika masih muda. Kita punya luka masing masing. Punya cerita yang hampir sama. Apa salahnya jika kita membentuk keluarga dan saling membahagiakan satu sama lain. Ikatan darah tak selamanya akan lebih kuat dari keterikatan batin seseorang. Keluarga tak semestinya harus memiliki asal usul dari satu orang yang sama."


Alvin memeluk istrinya.


"Aku egois." Gumamnya.

__ADS_1


"Mulai sekarang jangan berfikir macam macam lagi."


"Iya Sayang. Aku minta maaf sama kamu karna sudah berfikir yang tidak tidak."


"Dimaafkan." Kata Aya sambil tersenyum.


"Pelan pelan makannya. Kalian kaya ga makan setahun tau nggak."


"Enak Vin."


"Ya kenapa ga buka restoran aja?" Tanya Darwin di sela sela makannya.


"Tidak mendapat izin dari Komandan."


Alvin mencubit gemas pipi Istrinya setelah mendengar jawaban dari mulut Aya.


"Kenapa ga diizinin Vin. Masakan Aya enak tau. Pasti untung besar."


"Emangnya aku bangkrut apa sampai mengizinkan istriku capek capek kerja."


"Bukan masalah bangkrut enggaknya. Ini kan hobby. Biarkan istrimu mengekspresikan diri lewat bakat bakatnya."


"Heh. Istriku saja mengurus si kembar udah menguras habis waktuku berdua dengannya. Ini malah di suruh buka usaha lagi. Dia nanti pasti ga ada waktu sama sekali buat aku."


"Dasar. Kamu aja yang manja."


"Ya punya istri harus manja dong."


"Bisa bisanya."


"Rio, Dasiku yang kamu pinjam waktu itu kok belum di balikin. Kamu ilangin ya?" Tanya Alvin membuat Rio tersedak.


"Belum kamu balikin?" Tanya Darwin.


"Besok aku balikin."


"Dari kemarin bilangnya besok mulu."


"Iya besok deh. Lagian kenapa sih Vin. Cuman dasi aja. Kamu kasih uang ke aku aja cuma cuma. Giliran dasi aja kamu pelit. Buat aku aja ya."


"Enak aja kamu. Itu dari istriku tau. Pokoknya kalo besok sampai nggak balik. Tak bunuh kamu."


"Mas." Tegur Aya pada suaminya.


"Dia keterlaluan Yang." kata Alvin membela diri.


"Iya iya. Emang dasinya dari kamu Ya?"


"Dasi yang mana sih Om? Dasinya Mas Alvin banyak."


"Dasi merah maroon."


Aya mencoba mengingat ingat.


"Oh iya. Itu kado ulang tahun dari aku. Sampai lupa. Waktu itu aku masih umur lima belas. Dah lama."


"Wih lama juga. Tapi masih bagus. Kaya baru."


"Aku simpan baik baik. Jarang pakai takut rusak. Sekali pakai kamu sembarangan pinjam. Ga izin lagi."


"Ya maap. Ada klien penting kamu waktu itu. Pas aku juga kelupaan ga bawa dasi."


"Besok harus udah kembali ke aku."


"Udah ah. Lanjut makannya."

__ADS_1


"Iya Sayang." Kata Alvin menyudahi perdebatannya dengan Rio.


__ADS_2