Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Kita Memang Tak Ditakdirkan Bersama


__ADS_3

Alvin diam tak berkutik mendengar kata cerai keluar dari mulut istrinya. Pria itu berjongkok di depan sang istri. Ia menatap wajah cantik yang tampak pucat itu dengan lekat. "Kumohon jangan katakan itu lagi." Ucapnya dengan mata yang berkaca kaca. Istrinya tetap diam tanpa menjawab atau sekedar hanya menatap balik dirinya. Alvin memeluk Aya erat, air matanya kini sudah jatuh tak terbendung lagi. Perlahan Ia merasakan tubuh Aya semakin berat. Ia melepaskan peluknya menatap sang istri yang sudah memejamkan mata.


"Sayang bangun."


"Sayang kumohon bangunlah." Alvin menepuk pipi Aya lembut berusaha menyadarkannya.


Ia begitu panik langsung membaringkan Aya di ranjang dan segera menghubungi dokter.


Sepuluh menit berlalu. Dokter yang baru saja datang langsung memeriksa kondisi Aya yang tengah terbaring lemas.


"Bagaimana kondisi istri saya dok?" Tanya Alvin dengan khawatir.


"Selamat Tuan. Nyonya sedang hamil." Kata dokter paruh baya itu sambil tersenyum ikut bahagia.


"Benarkah dok?" Tanya Alvin berbinar.


"Iya Tuan. Tolong makanan dan kesehatannya selalu di jaga ya. Karena kandungannya masih lemah. Untuk lebih detailnya Tuan dapat mengajak Nyonya untuk periksa ke dokter kandungan untuk mengetahui usia kandungan nya."


"Baik dok. Terimakasih."


"Sama sama Tuan. Saya permisi."


Alvin duduk di samping Aya sambil menggenggam tangannya. Menunggu istrinya sampai terbangun. Ia mengelus lembut perut Aya yang masih rata."Akhirnya kau hadir." Kata Alvin senang karena akan menjadi seorang Ayah.


Aya membuka matanya perlahan. "Sayang kau sudah bangun?" Kata Mommy.


Aya hanya tersenyum lemah menanggapi nya. Tenggorokan nya begitu kering saat ini. "Minum." Alvin dengan sigap mengambil minum dan membantu istrinya untuk duduk.


"Masih pusing sayang?" Tanya Mama khawatir.


Aya hanya bisa mengangguk lemah.


"Orang hamil memang biasa begitu sayang. Kalo ga mual ya pusing di awal awal kehamilan atau bahkan dua duanya. Mommy dulu juga begitu."


"Maksud Mommy?" Tanya Aya kebingungan.


"Astaga Kami lupa memberi tahu."


"Kita akan jadi orang tua sayang." Kata Alvin tersenyum bahagia.


Aya tampak terkejut sebentar lalu menetralkan ekspresinya.


"Jangan sampai lelah. Kandungan kamu masih muda."


"Iya Nek."

__ADS_1


Ia sungguh tak percaya akan menjadi seorang Ibu di usianya yang masih muda.


"Dari tadi kamu belum makan sayang. Aku ambilkan ya."


"Tidak. Perutku tidak enak." Tolak Aya pada suaminya.


"Baiklah kalau begitu. Istirahatlah. Nanti sore kita ke dokter kandungan ya."


"Iya." Aya membaringkan tubuhnya dibantu Alvin.


Sore hari Alvin mengantarkan Aya untuk cek kandungan. "Hati hati sayang." Katanya sambil menggenggam tangan Aya. Membantu sang istri untuk keluar dari mobil. Alvin menuntun Aya berjalan dengan perlahan karena kondisinya masih lemas.


Keduanya langsung masuk ke dalam ruangan dokter karena sudah membuat janji.


"Selamat sore Tuan, Nyonya. Silahkan duduk."


"Sore dok."


"Nyonya mari ikut saya." Aya mengikuti dokter itu. Alvin dengan setia masih menuntun istrinya. Ia membantu Aya berbaring dengan hati hati. Dokter mulai melakukan prosedurnya. Aya dan Alvin menatap monitor sambil mendengarkan dokter yang sedang menjelaskan. "Usia kandungannya masih 2 Minggu Nyonya. Jangan terlalu kelelahan juga makan makanan yang sehat sehat."


"Baik dok."


"Ini vitaminnya diminum setiap hari."


"Sama sama." Jawab dokter sambil tersenyum.


Aya tengah menunggu suaminya di dalam mobil. Alvin masih membeli susu hamil untuk Istrinya. Ia memang membelinya sendiri. Tidak menyuruh orang. Selama kehamilan istrinya dia akan menjadi suami yang siaga. Memenuhi segala kebutuhan istrinya tanpa menyuruh orang lain.


"Maaf sayang aku kelamaan." Kata Alvin sambil memasuki mobil.


"Tidak apa." Jawab Aya singkat. Pria itu memeluk istrinya sepanjang perjalanan tanpa melepaskan barang sedetikpun.


Sampai di rumah Aya langsung menuju dapur di temani suaminya.


"Nyonya butuh sesuatu?" Tanya salah seorang pelayan.


"Biar aku saja." Tegas Alvin.


"Baik Tuan." Kata mereka meninggalkan pasangan suami istri itu.


"kamu mau minum sayang?"


"Iya."


"Duduklah aku ambilkan sebentar."

__ADS_1


"Ini minumnya." Avin menyerahkan segelas air putih pada istrinya.


"Terimakasih."


"Sama sama sayang. Aku buatkan susu dulu."


Aya tengah mengamati suaminya. Pria itu begitu antusias dan bersemangat. Alvin tampak menakar susu itu dan memasukkan ke dalam gelas dengan hati hati sambil sesekali membaca petunjuk yang ada di kardusnya.


"Ini sayang diminum susu sama vitaminnya."


"Iya."


"Kamu makan ya, dari tadi kan belum makan."


Bujuk Alvin duduk di samping istrinya sambil membelai wajah wanita itu dengan lembut.


Aya menggeleng sambil menghabiskan susunya.


"Mau kemana Yang?" Tanya Alvin melihat istrinya beranjak dari kursi.


"Mau ambil apel."


"Aku ambilkan Yang. Kamu duduk aja."


Alvin mengambil beberapa apel dan mengupasnya perlahan. Pria itu memotongnya agar Aya lebih mudah untuk makan.


Aya tengah sibuk mencari ponselnya. Ia membuka laci. Tanpa sengaja Ia menemukan struk pembayaran atas nama suaminya. "Susu dan vitamin agar cepat hamil." gumam Aya. Belum sempat Ia menemukan jawaban. Getaran panggilan masuk pada ponsel Alvin menyita perhatiannya.


Sedari tadi sudah Aya abaikan namun tak berhenti juga. Suaminya juga belum selesai mandi. Aya berinisiatif mengangkat panggilan itu untuk memberitahukan bahwa suaminya masih mandi. "Rio." lirih Aya kemudian mengangkat panggilan itu. Belum sempat membuka suara Ia sudah mendengar kenyataan yang membuat hatinya terluka lagi.


Vin selamat ya rencana kamu berhasil. Istri kamu ga akan ninggalin kamu Karna kamu berhasil membuatnya hamil. Semuanya nggak sia sia. Ga nyangka kamu akhirnya jadi Ayah juga. Btw Susu sama Vitaminnya ok kan?


Alvin baru saja keluar dari kamar mandi terdiam mematung mendengar rahasia yang selama ini Ia jaga sudah di ketahui istrinya. Ia mendengar ocehan dari sahabatnya itu dengan lancarnya mengatakan apa yang seharusnya tak di dengar sang istri. Aya mematikan sambungan telponnya mengabaikan suara di sebrang sana yang memanggil manggil suaminya karena tak kunjung mendapat jawaban.


"Sayang Aku mohon dengarkan penjelasan ku dulu."Alvin menghampiri Aya dan memeluknya.


"Aku tetap dengan keputusan ku." Kata Aya dingin menusuk hari suaminya.


"Sayang jangan katakan itu lagi. Aku mohon." Tubuh Alvin sudah bergetar hebat menahan air matanya yang ingin keluar.


"Kau menginginkan anak ini untuk mengikatku agar aku tak meninggalkanmu." Aya tersenyum miring sambil menjeda kalimatnya.


"Kau salah. Kita memang tak ditakdirkan bersama." lanjutnya dengan sorot mata tajam.


Alvin tetap memeluk Istrinya. Tak mau lepas sedetikpun. Tubuh pria itu mendadak lemas dan jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2