Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Sekali Buat Langsung Jadi


__ADS_3

Alvin mengajak keluarga kecilnya untuk berlibur di Villa. Mereka sudah sampai pagi tadi. Sebenarnya pria itu ingin mengajak istrinya saja. Namun kedua anaknya bersikeras untuk ikut.


"Ibu. Kita sepedahan ya."


"Ibu ikut."


"Oke. Zam bonceng."


"Tapi Ayah...."


"Pada mau kemana?" Alvin datang menghampiri mereka di teras depan.


"Mau sepedahan Mas."


"Kamu kan nggak bisa."


"Aku di bonceng Zam."


"Jalan kaki aja sama aku. Biar mereka naik sepeda."


"Tapi.."


"Ayo..." Alvin menggandeng tangan istrinya.


"Naiknya sepedanya pelan pelan." Tutur Aya melihat dua anaknya tengah bercanda sambil bersepeda.


"Iya. Ibu."


"Ibu."


"Ya."


"Bakar jagung yuk."


"Di Villa nggak ada orang cuman kita aja. Jangan aneh aneh. Nggak ada yang petik jagungnya."


"Emang penjaga Villa kemana Ayah?"


"Ayah suruh libur selama kita disini."


"Oh..."


"Ayo Yah. Kita petik jagungnya sendiri."


"Iya Mas. Mereka pengen tuh."


"Yasudah."


"Kamu tunggu sini aja Yang. Biar aku sama anak anak yang petik."


"Aku ikut. Janji nggak bakal sentuh."


"Awas aja kamu kalo ikut ikutan. Nanti gatel gatel lagi."


"Nggak kok. Kan udah janji. Ayo."


"Itu masih muda Yah." Kata Zam saat Alvin hendak memetik jagung.


"Darimana kamu tau?"


"Kan dulu aku suka ikut penjaga Villa petik jagung. Jadi tau lah."


"Kalo gitu kamu aja yang pilih."


"Ok. Deh."


"Aku pulang duluan ya Mas. Mau siapin makan siang."


"Sama aku aja."


"Anak anak gimana?"


"Biarin. Nggak terlalu jauh juga."


"Zam. Ara. Ibu duluan ya. Mau masak. Kalian hati hati."


"Iya Ibu."


Aya tengah sibuk memilih bahan sedangkan Alvin tak berhenti memeluknya sedari tadi.


"Mas. Kamu duduk sana. Aku lagi ribet nih."


"Nggak mau."


"Oh astaga. Punya suami gini banget."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Nggak papa. Kamu duduk gih. Biar aku cepet selesai."


"Cium dulu."


"Nggak."


"Yaudah kalo ga mau. Aku gini terus."


"Iya iya." Alvin dengan cepat mencium bibir istrinya cukup lama.


"Enak. Aku yang cium. Kalo kamu nanti pasti di pipi atau di kening."


"Sudah. Sana duduk."


"Iya." Alvin hanya mengamati istrinya yang begitu cantik. Entah kenapa. Ia juga bingung terhadap dirinya sendiri. Ia begitu mencintai Aya dan tak bisa jauh dari wanita itu.


"Yang."


"Hm.."


"I Love you."


"Kamu kok nggak jawab?" tanya Alvin sambil cemberut.


"Mandi sana Mas. Tadi berangkat kesini kamu belum mandi."


"Ogah. Kamu nggak mau mandiin."


"Aku lagi repot."


"Yaudah. Nanti."


"Masakan Ibu enak. Ara sampai nambah dua kali." Katanya di sela sela makan.


"Nanti malem kaya gini lagi ya Bu."


"Iya."


"Ayah makan sendiri kenapa sih?" protesnya melihat sang Ayah dengan manja minta di suapi.


"Biarin."


"Mas."


"Iya."


"Nggak mau. Maunya kamu mandiin."


"Jangan aneh aneh deh. Aku udah mandi."


"Lagian kamu mandi nggak nunggu aku."


"Kamu ketiduran tadi. Sana mandi."


"Nggak."


"Yaudah Ayo."


"Ayo." Alvin menggandeng tangan istrinya menuju kamar mandi.


Selesai sholat Alvin mengajak istrinya untuk tidur siang. "Kamu nggak pake baju gitu. Nggak kedinginan apa?"


"Enggak. Kan kita pelukan."


"Ini kenapa lebam?" Tanya Aya melihat punggung suaminya sedikit membiru.


"kena alat gym kemarin."


"Aku ambilin obat dulu." Aya bergegas mengambil obat dan mengoleskan pada punggung suaminya.


Alvin menarik sang istri sampai jatuh di atasnya. Alvin memeluk istrinya erat.


"Katanya mau tidur?"


"Tidurnya gini aja."


"Aku nggak nyaman."


"Kalo begini nyaman?" Tanya Alvin membaringkan istrinya di samping dan memeluk.


"Lebih nyaman."


"Kamu wangi Yang."

__ADS_1


"Kan habis mandi. Udah ah. Tidur. Aku ngantuk habis minum obat."


"Iya. Padahal aku mau ajak kamu...."


"Tidur."


"Iya."


Malam hari semuanya tengah berkumpul di halaman belakang.


"Jagain dulu Yah. Jangan sampai gosong. Ara mau ambil sosis dulu."


"Ya."


"Ibu sosisnya mana?"


"Ini. Ibu sudah kasih bumbu. Tinggal di bakar."


"Ok." Ara berlari lagi untuk membakar sosisnya.


"Kamu terusin. Ayah keringetan nih kamu suruh jaga panggangan."


"Iya."


"Ra. Jangan ngeleng. Jangan sampai gosong punya aku." teriak Zam yang sedang sibuk menyiapkan minum.


"Malam malam begini kamu bikin es Zam."


"Iya Yah. Seger kan kalo makannya panas minumnya dingin."


"Bisa bisanya." Alvin duduk menghampiri istrinya yang duduk menyajikan hot pot.


"Dah siap semua nih." Ara datang menyajikan semua hasil jerih payahnya.


"Mari makan." Kata gadis itu bersemangat.


"Ibu nggak mau jagungnya?"


"Nanti aja. Ibu mau makan yang lain."


"Biar aku aja. Ini masih panas." Alvin mengambilkan daging dan sayuran untuk istrinya. Pria itu dengan sabar meniup sampai dingin agar istrinya tidak kepanasan.


"Ini."


"Aku bisa makan sendiri Mas."


"Aku suapi."Aya hanya bisa menuruti keinginan suaminya.


"Ayah gimana, Yang namanya hot pot enaknya dimakan panas panas."


"Kalian nggak paham ya. Makan panas nggak baik. Bisa merusak gigi juga."


"Iya sih."


"Kamu nggak makan Mas?"


"Masih kenyang banget."


"Yah. Ayah dulu banyak yang ngejar nggak?"


"Ngapain tanya begitu?"


"Kalo Ibu kan banyak yang ngejar. La kalo Ayah gimana?"


"Nggak banyak. Tapi ada. Ayah kan orangnya galak, dingin, cuek. Jadi nggak banyak yang berani suka sama Ayah. Ayah nggak pernah pacaran juga. Banyak yang bilang Ayah nggak normal karena itu. Sampai Ibu juga pernah tanya sama Ayah tentang itu."


"Masa sih. Gimana Ibu tanyanya?"


"Ibu tanya. Kenapa nggak pernah punya pacar atau dekat sama cewek. Jangan jangan ga normal ya."


"Terus Ayah jawab gimana?"


"Ya Ayah jawab. Ayah normal. Bahkan bikin selusin anak sama Ibu aja bisa. Tapi yang terakhir itu Ayah jawab dalam hati karna waktu itu Ibu belum jadi istri Ayah. Sekarang terbukti kan. Kalian sekali buat aja langsung jadi."


Aya tersedak mendengar ocehan suaminya yang begitu blak blakan.


"Astaga Yang. Kamu nggak papa?" Tanya Alvin khawatir.


"Minum dulu Bu."


"Bahas apa sih ini. Nggak faedah banget."


"Faedah Yang. Biar anak anak tau...."


"Udah. Nggak usah di terusin."

__ADS_1


"Iya." Kata mereka menurut.


__ADS_2