Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Bikin Candu


__ADS_3

Aya tengah mengumpulkan pekerja di rumahnya. Besok mereka akan pulang ke kampung halaman masing masing untuk merayakan lebaran yang terhitung kurang 3 hari lagi.


"Ini ada sedikit pemberian dari kami. Semoga suka ya. Sayang tolong kasih ke Bibi dan Paman." Perintah Aya kepada kedua anaknya.


"Baik Ibu."


"Bisa tidak?"


"Bisa Ayah." Jawab mereka meskipun sedikit kerepotan.


"Terimakasih Nona muda. Tuan muda."


"Sama sama Paman dan Bibi." Jawab keduanya sambil tersenyum.


"Nyonya. Ini terlalu banyak." kata Mereka cukup terkejut dengan apa yang diberikan Aya.


"Tidak. Ini rezeki. Jangan di tolak."


"Terimakasih Nyonya. Allah yang akan membalas kebaikan Nyonya dan Tuan. Kami minta maaf Selama kerja di sini pernah membuat kesalahan baik di sengaja atau tidak."


" Saya juga berterimakasih. Karena sudah bekerja dengan baik disini. Saya mewakili suami dan kedua anak saya juga minta maaf jika sikap kami kurang berkenan."


"Iya Nyonya. Sudah kewajiban kami Nyonya. Terimakasih sudah memperlakukan kami dengan sangat baik. Membantu kami jika kesulitan."


" Sama sama. Baiklah sekarang istirahat besok harus bangun pagi untuk berangkat."


"Baik Nyonya."


"Nyonya." Kata mereka sebelum beranjak pergi.


"Iya."


"Boleh kami peluk Nyonya?"


"Tidak." Jawab Alvin tegas. Aya menggenggam tangan suaminya.


"Boleh." katanya lembut sambil bangkit dari duduk.


"Yang laki laki jangan." Kata Alvin dengan sorot mata tajam.


"Terimakasih Nyonya sudah memperlakukan kami seperti keluarga di sini."


"Sama sama. Kita memang keluarga kan." Kata Aya membalas pelukan mereka satu per satu. Alvin sudah tidak heran lagi mereka begitu menyayangi Aya. Istrinya memperlakukan mereka dengan baik. Seperti keluarga sendiri.


Aya, Alvin dan kedua anaknya tengah duduk di teras belakang selesai mengantar kepergian para pekerja sampai depan rumah. Alvin sudah menyiapkan transportasi untuk mereka pulang kampung. Sesuai dengan permintaan istrinya.


"Kuku kalian sudah panjang. Sini Ibu rapikan?"


"Iya Ibu."


"Ibu kita bikin kuenya kapan?" Tanya Ara yang tengah duduk di pangkuan Aya.


"Nanti Sayang." jawab Aya fokus memotongi kuku anak perempuannya.


"Habis jumatan ya Ibu. Tunggu Zam dulu."


"Iya."


"Yang. Tadi kak Aslan telfon katanya Mommy kamu kangen."


"Kemarin baru aja kita dari sana."


"Tau tuh. Tiap hari ketemu juga."


Aya hanya tersenyum menanggapi Alvin yang menggerutu.


"Sekarang giliran Zam. Sini sayang."

__ADS_1


"Iya Ibu."


"Yang."


"Iya."


"Kalau aku Jumatan sama Zam. Kamu sama Ara di rumah nggak ada yang jagain dong. Semuanya kan pada mudik."


"Gapapa Mas. Lagian jumatan ya cuma sebentar. Kamu nggak usah khawatir."


"Atau aku minta Mommy kamu datang kesini aja buat temenin."


"Ga usah."


"Beneran?"


"Iya. Lagian keamanan di rumah kita juga berfungsi dengan baik."


"Yasudah kalo gitu." Jawab Alvin meski sedikit was was.


Sesuai rencana, Aya ditemani anak anak dan suaminya tengah membuat kue di dapur. Ia sudah membuat dengan Ara terlebih dahulu agar cepat selesai ketika mereka sedang jumatan.


"Kamu kok ga nunggu kita Yang. Sudah banyak banget. Kamu capek pasti."


"Enggak kok. Kan di bantu Ara."


"Zam pengen bantu Ibu."


"Iya. Tolong tata kuenya di loyang ya."


"Baik Ibu."


Alvin dan Zam menata kue di loyang dengan telaten.


"Sudah semua. Tinggal di oven aja. Habis ini ngapain Yang?" Tanya Alvin selesai dengan kegiatannya.


"Tolong yang sudah dingin di masukkan ke dalam toples. Aku masukin ini ke oven dulu."


"Iya."


"Zam tolong parutin kejunya ya."


"Kalo Ara Ibu?"


"Ara. Ibu minta tolong. Bawa kotak kuenya kesini ya."


"Iya Ibu." kata Ara langsung bergegas.


Mereka menatap bangga toples toples kue yang sudah terisi memenuhi meja besar.


"Ibu bikinnya banyak banget."


"Iya sayang. Untuk dibagikan ke semua keluarga." Jawab Aya sambil memasukkan toples toples ke dalam kardus.


"Ga sabar pengen Icip."


"Tunggu buka ya."


"Kita puasa penuh. Kurang tiga hari lagi."


"Iya. Kalian hebat. Ibu bangga sama kalian. Sesuai janji Ibu. Lebaran nanti Ibu kasih hadiah."


"Terimakasih Ibu." Memeluk Aya.


"Ayah nggak di peluk nih."


"Iya." Mereka beralih memeluk Alvin. Pria itu membalas pelukan kedua anaknya dengan hangat.

__ADS_1


Suasana tampak sepi karena hanya Alvin, Istri dan kedua anaknya di rumah sebesar ini. Mereka tengah berada di ruang keluarga selesai sholat tarawih.


"Zam adiknya jangan di jahili dong, mau nangis lo." Kata Aya melihat Zam terus mencubit pipi Adiknya karena gemas. Ara sedaritadi hanya merengek bersembunyi di belakang ibunya.


"Maaf Ibu. Zam gemas."


"Minta maaf sama adiknya."


"Ara kakak minta maaf."


"Dimaafkan." Kata Ara membalas pelukan saudaranya.


"Begitu kan enak."


"Ibu. Pengen es krim."


"Malam malam begini?"


"Iya Ayah. Dimakan pakai brownies buatan Ibu pasti enak."


"Ibu ambilkan. Sebentar ya. Tunggu sini."


"Iya Ibu."


"Kamu mau nggak Mas?"


"Boleh deh. Suapi."


"Ayah manja."


"Biarin. Kalian tadi sudah di suapi Ibu. Sekarang giliran Ayah."


Beberapa saat kemudian Aya kembali membawa tiga mangkuk eskrim dengan potongan brownies di dalamnya.


"Ini untuk kalian."


"Terimakasih Ibu."


"Sama sama Sayang."


"Ini untuk kamu Mas."


"Suapi Yang."


"Ih. Makan sendiri."


"Ayolah." Rengek Alvin manja tanpa malu sedikitpun kepada kedua anaknya.


"Yasudah." Aya mulai menyuapi suaminya. Alvin mencium bibir istrinya sekilas. Tanpa sepengetahuan anak anaknya. Mereka terlalu fokus makan tanpa memperhatikan tingkah Ayahnya. "nggak tau tempat ya. Kalo anak anak lihat bagaimana?" Tanya Aya pelan.


Alvin tersenyum dan mencium bibir istrinya lagi berkali kali.


"Mas." Geram Aya melihat tingkah konyol suaminya.


"Bibir kamu manis. Bikin candu." Bisik Alvin pada sang Istri. Tangan pria itu mulai mengelus paha Aya dengan lembut.


"Aku pengen Yang." Katanya dengan suara berat.


"Ayah pengen Apa?" Tanya Zam tiba tiba membuat Alvin menarik tangannya dengan cepat.


"Itu....Ayah..." Alvin berusaha memutar otaknya untuk mendapat jawaban yang tepat.


"Ah. Ayah pengen makan lagi." Jawabnya sedikit gugup.


"Oh." Jawan Zam melanjutkan makannya.


Aya hanya tersenyum melihat suaminya.

__ADS_1


"Suka ya lihat aku begini. Kamu nakal ya." Kata Alvin pelan.


"Salah sendiri." Jawab Aya sambil terkekeh pelan.


__ADS_2