Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Terimakasih mau Menerima Daniel


__ADS_3

Sarapan pagi ini berbeda. Ara yang menyiapkan semuanya. Hanya menyiapkan, yang memasak tetap Ibunya.


"Ma. Daniel ada acara wisuda. Mama sama Om mau nggak temani Daniel untuk datang. Kak Zam sama Kak Ara juga. Papa nggak bisa datang soalnya."


"Kalo Om nggak bisa Niel. Om harus survey lokasi hari ini. Maaf ya."


"Ga papa Om."


"Mama akan datang. Mas aku bawa mobil sendiri ya."


"Hati hati."


"Iya."


"Wisudanya jam berapa Niel?"


"Jam 9 kak."


"Aduh. Pengen datang juga. Tapi kakak ada kelas. Maaf ya."


"Nggak Papa kak."


"Ibu. Kita berangkat dulu ya."


"Aku berangkat juga Yang."


"Iya hati hati."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Ayo siap siap kamu harus berangkat. Ini sudah jam 8 lo."


"Daniel nggak bisa pilih baju Ma."


"Mama pilihkan. Ayo."


Aya sibuk memilihkan baju untuk Daniel. Karena ini acara formal, Aya memilih celana bahan, kemeja dan jas. Terlihat santai tapi juga terkesan formal. Sangat cocok dan pas di pakai Daniel.


"Ganteng anak Mama. Ini rambutnya dirapikan dulu." Aya menyisir rambut Daniel.


"Sudah siap."


"Makasih ya Ma."


"Iya. Tunggu sebentar ya. Mama mau ganti baju."


"Iya Ma."


Daniel begitu bangga menggandeng tangan wanita yang dipanggilnya Mama itu memasuki aula tempat acara.


"Wih Daniel tumben keren. kakak kamu?"


"Mama aku."


"Oh. Masih muda sekali. Maaf tante. Soalnya belum pernah ketemu Mama Daniel. Selamat pagi Tante." Mencium tangan Aya.


"Selamat pagi." Jawab Aya ramah.


"Aku duduk dulu ya."


"Iya."


Daniel tak mau melepaskan genggaman tangannya Dari Aya. Meskipun keduanya tengah duduk sekarang.


Daniel tak berhenti melihat foto wisudanya dengan ditemani sang Mama. "Kamu minta hadiah apa sayang? Karna kamu dapat nilai terbaik."


"Daniel kemarin kan sudah di belanjain banyak sama Mama."


"Itu beda. Sekarang ini hadiah. Kamu minta apa?"


"Kita makan Pizza Ma. Daniel baru dua kali makan pizza. Eh tapi ga boleh nanti sama Om."


"Ayo. Nggak papa."


"Tapi Ma."

__ADS_1


"Udah. Kita kesana sekarang."


Aya dan Daniel tengah menikmati pizzanya. "Enak nggak?"


"Enak Ma. Makasih ya."


"Sama sama."


"Kita harus cepet Ma. Nanti Om cariin."


"Om tadi mau pulang sore katanya."


"Kak Zam sama Kak Ara."


"Kalau mereka sudah di rumah. Ini mereka nitip pizza sama Boba. Makannya santai saja."


"Iya Ma."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Wih yang udah lulus."


"Iya dong."


"Ini pizza sama Boba kalian."


"Makasih Ibu."


"Sama sama."


"Kamu makan pizza yang?"


"Loh kok di rumah. Katanya pulang sore."


"Ga jadi."


"Sudah makan?"


"Belum. Aku nunggu kamu."


"Yaudah aku siapin."


"Nilai ujian kamu gimana Niel?"


"Bagus dong."


"Gimana. Kuliah mau ambil jurusan apa?"


"Manajemen aja."


"Bagus itu. Kalo mau tanya tanya sama Om Darren aja. Dia dosen disana."


"Iya kah?"


"Iya."


"Oh iya kak. Kalo Om Ano, dia juga dosen?"


"Enggak. Dia urus perusahaan Opa."


"Oh."


"Kamu nggak makan Niel?"


"Sudah tadi. Daniel kekenyangan."


Daniel dan Zam baru saja pulang Volley dari kompleks.


"Minum dulu."


"Makasih Bu."


"Makasih Ma."


"Daniel. Agak deketan sini. Mama mau ngomong sama kamu."


"Ada apa Ma?" Daniel duduk lebih dekat dengan Aya.

__ADS_1


"Buka baju kamu."


"Tapi Ma."


"Mama bilang buka Niel."


"Kenapa sih Bu?"


"Ada apa sih Yang?" Alvin duduk bergabung bersama mereka.


"Mas lihat aja." Daniel membuka bajunya. Di beberapa bagian tubuhnya banyak bekas luka. Yang paling parah ada di punggung.


"Daniel. Siapa yang melakukan ini sama kamu."


"Ini sudah lama kok Om."


"Siapa Daniel? Jawab."


"Mamanya Papa Ma. Waktu itu Daniel nggak sengaja pecahin piring."


"Kapan?"


"Sekitar dua tahun lalu."


Aya memeluk Daniel erat. "Kita ke rumah sakit."


"Ini sudah tidak sakit Ma."


"Kita check saja. Mama nggak mau kamu kenapa napa."


"Papa kamu tau?"


"Belum Ma. Tapi Mama jangan cerita sama Papa. Kasian Papa nanti."


"Daniel. Papa kamu harus tau."


"Jangan Om. Cukup kita saja yang tau. Daniel mohon jangan kasih tau Papa."


"Baiklah."


Daniel pulang dari rumah sakit. Kondisinya baik baik saja. Hanya trauma dan perlu obat untuk menghilangkan bekas lukanya.


Felix datang untuk menjenguk Daniel hari ini mereka tengah berkumpul di ruang tengah membicarakan hal serius.


"Oma akan tinggal bersama Papa Niel."


"Felix. Bagaimana jika Daniel tinggal disini. Dia akan lebih aman. Aku dan istriku akan merawatnya dengan baik. Kami akan jadi orang tua yang baik." Kata Alvin membuat Aya sedikit terkejut tapi senang.


"Apa kalian tidak repot? jujur aku terlalu sibuk bekerja sehingga tidak mempunyai waktu untuk mengontrol Daniel di rumah."


"Sama sekali tidak. Disini Zam juga mendapat saudara dan teman bermain. Bagaimana? Jangan khawatir tidak bisa bertemu dengan Daniel. Kamu bebas mengunjunginya kapanpun. Menginap juga boleh."


"Terimakasih kak. Karna aku tidak bisa menjamin keselamatan Daniel di rumah. Aku yakin kehidupannya akan lebih baik disini. Aku ikhlas. Kalian orang baik. Tapi jika Daniel setuju."


"Bagaimana Daniel kamu mau kan?"


"Mau Ma. Daniel terimakasih banyak sama Papa karena mau merawat dan membiayai Daniel sampai saat ini." Daniel memeluk Papa nya.


"Sama sama."


"Mulai sekarang panggil Om Ayah dan Mama Ibu."


"Iya Yah. Terimakasih mau menerima Daniel. Daniel sangat senang."


"Iya."


"Ayah sama Ibu sudah diskusi dengan kak Zam dan Kak Ara?"


"Sudah. Mereka setuju."


"Pa. Barang yang di kamar Daniel bisa Daniel bawa kesini kan?"


"Tentu saja. Besok Papa kabari jika Oma tidak di rumah. jadi kamu bisa ambil."


"Makasih Pa."


"Sama sama."

__ADS_1


"Makasih Mas."


"Sama sama Sayang." Alvin menggenggam tangan istrinya dengan erat.


__ADS_2