Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Mau Alasan Apalagi Kamu?


__ADS_3

"Prang...." Aya dan Alvin langsung berlari menuju sumber suara.


"Astaga sayang Kaki kamu kenapa?" tanya Aya dengan khawatir melihat keadaan kaki Ara yang sudah bersimbah darah.


"Sakit Ibu." Katanya sudah menangis.


"Ayo duduk dulu." Aya langsung membantu anaknya untuk duduk di sofa.


"Mas ambilin kotak obat."


"Iya."


"Pelan pelan Ibu. Sakit." Lirihnya sambil sesenggukan.


"Kok bisa begini."


"Maaf Ibu. Ara nggak sengaja pecahin Vas Ibu. Terus terinjak."


"Lain kali hati hati dong sayang."


"Iya Ibu."


"Tuh dengerin Ibu. Jangan petakilan jadi anak. Udah gini nangis. Dasar cengeng. Ibu kamu kalem Ayah juga nggak cerewet banget. Sikap kamu tuh nurun siapa sih? Kakak kamu juga nggak bar bar amat."


"Ih Ayah."


"Mas." tegur Aya sambil sibuk memasang perban di kaki Ara.


"Kamu kenapa Ra?" Tanya Zam baru bangun tidur.


"Kaki Adek kamu kena pecahan kaca tuh. Kamu kemana aja sih Zam?"


"Baru bangun tidur Yah."


"Perasaan Ayah ke kamar kamu tadi nggak ada."


"Aku tidur di ruang teater."


"Pantes."


"sudah jangan nangis lagi."


"Iya. Udah diem. Ayah sama Ibu mau pergi nih. Jadi tertunda kan."


"Mau kemana?"


"Mau ada urusan. Kalian di rumah aja."


"Urusan apa?"


"Ibu lagi pengen mie pangsit."


"Ikut."


"Kaki kamu sakit. Nanti Ayah bawakan."


"Pengen ikut."


"Jangan. Ntar Ayah tambah uang jajan kalian."


"Serius?"


"Iya."


"Yaudah Ok. Jangan lama lama."


"Ibu sama Ayah berangkat dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kenapa Hpnya di matikan Mas?"


"Anak anak ntar telpon. Ganggu."


"Sama anaknya sendiri begitu."


"Udah sampai nih. Ayo turun."

__ADS_1


"Iya."


Alvin merangkul pinggang istrinya mesra. Mereka duduk di tempat yang sepi setelah memesan.


"Silahkan Mas. Mbak." Kata penjual menyajikan dua mangkuk mie.


"Terimakasih pak."


"Sama sama."


"Sambelnya jangan banyak banyak. Makannya hati hati masih panas. Aku suapi ya."


"Nggak usah. Aku bisa sendiri kok."


"Baiklah. Aku ambilin sambelnya."


"Kok dikit banget Mas. Tambah lagi dong."


"Nanti perut kamu sakit."


"Dikit aja lagi."


"Nggak nurut aku cium nih."


"Nggak malu apa?"


"Mau coba?"


"Enggak. Aku mau makan."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mie pangsit Ara mana Ibu?"


"Ini. Ibu siapkan dulu." Aya pergi ke dapur sebentar lalu kembali bergabung dengan mereka sambil membawa dua mangkuk mie.


"Ibu sudah makan?"


"Sudah."


"Jangan. Punya kalian pedes. Nanti Ibu sakit perut."


"Baiklah."


Alvin tengah berdua dengan istrinya di balkon kamar. Ia akan menyampaikan sesuatu yang begitu mengganjal di hatinya selama ini.


"Yang."


"Iya Mas."


"Aku mau ngomong sama kamu."


"Ngomong aja."


"Aku tuh risih sebenarnya sama Darwin sama Rio. Mereka kayak belum bisa lupain kamu. Selalu deket deket sama kamu. Juga kalo ngomong sama kamu matanya itu nggak kedip. Kaya tatapan memuja gitu. Aku mau tegur tapi nggak enak. Mereka udah kaya sodara aku sendiri."


"Mas. Tidak akan terjadi sesuatu jika kita saling percaya satu sama lain. Sebenarnya aku juga sadar dengan semua itu. Tapi aku menghargai mereka sebagai keluarga dan Om aku. Aku mencoba bersikap biasa. Aku nggak mau mereka terluka. Perlahan mereka akan mengerti. Mereka tidak akan berani berbuat macam macam Mas. Mereka hanya sekedar menyimpan. Tidak akan bertindak terlalu jauh."


"Mereka nggak nikah juga. Gimana kalo kita kenalin ke orang."


"Sudah berapa kali kamu coba dan nggak berhasil juga. Setiap orang punya zona nyamannya masing masing. Memaksa hanya akan menyakiti. Jika ada kegagalan maka takdir dan orang yang terlibat akan di salahkan. Biarkan waktu yang menjawab. Mereka punya pilihan hidupnya masing masing. Berkeluarga adalah kewajiban. Namun jika seseorang tidak siap, merasa terpaksa dan mempunyai niat tidak baik dalam pernikahan juga akan membawa dampak negatif."


Alvin menghela nafasnya panjang mendengar penuturan istrinya. Semua yang dikatakan Aya memang benar Ia tak akan memaksa kedua orang itu. Mereka punya jalan hidupnya sendiri.


Malam hari keluarga kecil Alvin tengah berkumpul di ruang tengah.


"Masih sakit?"


"Sudah tidak Ibu."


"Sini kaki kamu. Ibu ganti perbannya."


"Zam. Tolong ambilkan kotak obatnya."


"Iya Ibu."

__ADS_1


"Ini Ibu."


"Makasih sayang."


"Sama sama."


Aya melepas dan mengganti perban Ara dengan telaten. Gadis itu mengamati Ibunya dengan lekat. Ia begitu bersyukur mempunyai Ibu pengertian, baik, sabar dan bertanggung jawab seperti Aya. Bukan hanya sempurna di fisik tetapi juga hatinya yang cantik.


"Sudah."


"Heh. Kenapa melamun."


"Ayah ganggu aja. Ara kan lagi liatin Ibu."


"Memang Ibu kenapa?"


"Nggak. Ara cuman bersyukur punya Ibu kaya Ibu."


"Dah jangan memuji. Ntar ujung ujungnya minta jalan jalan."


"Ayah sewot mulu."


"Emang gitu adanya."


"Besok kamu ke kantor kan Mas?"


"Iya. Memangnya kenapa Yang?"


"Enggak. Sebelum tidur ingetin aku buat siapin baju kamu ya."


"Iya."


"Besok kan bisa Bu."


"Kalau mendadak nanti Ayah buru buru. kalo di suapin dari malem kan enak tinggal pakai. Ga usah pilih pilih lagi."


"Oh."


"Ibu temenin Ara tidur ya. Hujannya lebat banget Ara takut."


"Udah gede. Jangan manja."


"Bukan manja Ayah. Ara beneran takut. Ada kilat kilat Ara nggak bisa tidur kalo nggak peluk Ibu."


"Tinggal tutup hordennya kan bisa."


"Tapi suaranya bikin takut."


"Semua kamar kedap suara. Mau alasan apalagi kamu?"


"Kaki Ara sakit. Ara mau tidur sama Ibu."


"Kaki kamu cuman sakit sedikit. Nggak parah. Jangan aneh aneh. Ibu tidur sama Ayah. Ayah nggak bisa tidur kalo nggak sama Ibu."


"Tiap hari Ayah udah tidur sama Ibu."


"Suami Istri kan memang harus tidur bareng."


"Sudah ah. Masalah tidur aja kok di ributin."


"Ibu mau kemana?"


"Mau ke teras belakang sebentar. Tadi jam tangan Ibu ketinggalan disana."


Alvin langsung menggandeng tangan Aya menuju kamar dan menguncinya.


"Apaan sih Mas?"


"Kamu tidur di sini. Nggak boleh sama Ara."


"Nanti dia cariin aku."


"Biarin. Kita tidur aja."


"Ntar dulu aku mau siapin baju kamu buat besok."


"Besok Aja."

__ADS_1


Alvin mematikan lampu kamar dan membawa istrinya ke ranjang.


__ADS_2