Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Memanfaatkan Suasana


__ADS_3

Alvin terus memandangi istrinya yang tertidur pulas. Ia takut Aya tak bisa mengingatnya lagi. Semalaman Ia tak bisa tidur memikirkan hal itu.


Pria itu mengelus lembut pipi istrinya. "Masa kamu nggak ingat aku Yang?"


"Kenapa kamu nggak ingatnya cuman sama aku?" Tanyanya pelan.


Malam hari semua berkumpul di ruangan Aya. Darwin dan Rio baru datang bersama si kembar.


"Ibu." Panggil Zam dan Ara langsung memeluk Aya.


"Gimana keadaan kamu Ya?" Tanya Darwin.


"Dah baikan Om."


"Pelan pelan. Ibu belum sembuh total." Tutur Alvin.


"Zam sama Ara kangen."


"Ibu juga kangen." Aya membalas pelukan hangat kedua anaknya.


"Ibu masih sakit?"


"Enggak kok."


"Yang kamu masih nggak inget sama aku?"


"Maaf." Kata Aya dengan raut wajah bersalahnya.


"Tidak apa. Nanti di ingat perlahan." kata Rio.


"Ibu kapan pulang?"


"Nanti tanya dokter dulu."


"Kita temani ibu tidur di sini ya."


"Jangan nanti kalian sakit. Ikut Om sama Oma pulang aja ya."


"Tapi Bu.."


"Nurut ya. Kalian kan anak baik."


"Iya."


"Kalian pulang aja. Biar aku yang temani Istriku."


"Aku ikut Vin."


"Iya Om. Kita di sini aja." Kata Darren.


"Pulang aja. Istirahat di rumah temani Zam sama Ara."


"Yaudah. Kalau ada apa apa cepat hubungi ya."


"Iya."


"Sayang kita pulang dulu ya."


"Ibu kita pulang." kedua bocah itu memeluk Aya erat.


"Iya sayang hati hati." Kata Aya.


Alvin menyuapi istrinya dengan telaten.


"Aku dah kenyang Om."


"Masih sesuap lagi. Habiskan."


"Baiklah." kata Aya menurut.

__ADS_1


Alvin meletakkan piring di atas nakas. Ia duduk di ranjang menghadap istrinya.


"Kamu bener bener nggak inget aku?"


"Enggak Om."


Alvin menangkup wajah sang istri dan mengecup bibir mungil itu singkat.


"Masih tidak ingat?"


Aya hanya menggeleng pelan. Alvin mengecup bibir istrinya lagi beberapa kali.


"Masih tidak ingat?" Tanyanya lagi untuk kesekian kalinya.


"Tidak."


Alvin menatap wajah istrinya lekat, air matanya menetes jatuh dengan perlahan.


"Aduh Mas jangan nangis dong." Kata Aya kepanikan.


"Aku hanya bercanda."


Alvin membelalakkan matanya melihat tingkah konyol sang istri.


"Kamu boongin aku?"


"Maaf."


"Tega ya kamu." Kata Alvin bersedekap dada dan mengalihkan pandangannya pura pura marah.


"Maaf Mas. Jangan marah dong. Jangan ngambek gitu."


"Tau ah."


"Ih gitu. Kamu juga sering ngerjain aku."


"Tapi aku nggak sampai separah ini. Kamu tau nggak aku semaleman gak bisa tidur gara gara hal ini."


"Maaf."


"Mas kalo kamu ga maafin aku. Nanti aku dosa besar."


"Salah sendiri."


"Ih. Kamu belum makan kan? Sini aku suapi. Asal kamu maafin aku." Bujuk Aya.


"Iya aku belum makan. Suapi. Tapi belum seratus persen aku maafin kamu." Kata Alvin memanfaatkan suasana. Kapan lagi istrinya merayu seperti ini. Batinnya.


"Gapapa deh. Sini aku suapi."


Aya menyuapi suaminya yang sedaritadi masih cemberut karena ulahnya. Ia hanya berniat mengerjai suaminya, tidak tau jika Alvin akan semarah ini.


"Udah dong Mas marahnya. Sini tidur sama aku." Aya menggeser tubuhnya agar sang suami dapat tidur di sampingnya.


Alvin tidak mengatakan apapun langsung berbaring di samping Aya.


"Jangan marah dong aku kan hanya bercanda."


"Kamu tau nggak, aku takut kalau kamu nggak inget aku lagi. Itu hal yang menyakitkan Yang. Kamu udah buat aku panik setengah mati tau."


"Maaf Mas. Janji deh nggak akan aku ulangi lagi."


Aya mengelus kepala suaminya lembut. Alvin memeluk istrinya, menyembunyikan kepalanya pada ceruk leher Aya.


"Masih marah?"


"Masih."


"Kirain udah enggak."

__ADS_1


"Cium."


"Iya. Sini sini." Aya mencium kedua pipi dan kening Alvin.


Pria itu menarik tengkuk sang istri dan mencium bibir pink Cherry itu dalam dalam.


"Manis." Kata Alvin mengusap lembut bibir Aya dengan ibu jarinya.


"Dah nggak marah kan?"


Alvin menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Kalau kamu boongin aku lagi awas aja. Aku buat kamu terjaga semalaman."


"Aku masih sakit."


"Banyak alasan. Tadi kamu bilang baik baik aja."


"Kan tadi. Sekarang beda lagi."


"Ngeles mulu."


Alvin mengungkung tubuh Aya dan menciumi seluruh wajah dan leher Istrinya.


Ia kemudian kembali lagi ke posisi semula. Membiarkan sang istri istirahat karena kondisinya masih lemas.


"Berhari hari ga denger suara kamu rasanya hampa banget Yang." keluh Alvin.


"Masa sih?"


"Iya. Aku kesepian. Aku ga bisa tidur. Makan pun jarang. Lihat, beberapa hari kamu sakit aja berat badan aku turun banyak." Alvin mengadu manja pada Aya.


"Uh kasian kamu. Nanti kalo aku udah sembuh aku masakin yang enak enak."


"Enggak boleh masak. Kamu istirahat aja."


"Masa ga boleh? Kamu nggak kangen masakan aku?"


"Kangen. Tapi kesehatan kamu lebih penting."


"Kalo aku sembuh total, bolehkan masak?"


"Nanti aku pikirkan. Sekarang yang terpenting kamu sembuh dulu."


"Iya."


"Yang."


"Iya."


"Gimana kamu bisa jatuh di kamar mandi sih?"


"Waktu itu habis cuci tangan. Lantainya licin. Jadi terpeleset jatuh. Habis itu aku nggak inget lagi. Kamu yang bawa aku ke rumah sakit Mas?"


"Iya. Aku panik banget waktu itu. Aku takut."


"Dah. Sekarang kan udah gapapa."


"Lain kali hati hati dong Yang."


"Iya."


"Atau kalo kamu mau ke kamar mandi tinggal bilang ke aku aja. Nanti aku temenin. Mandiin juga. Kurang baik apa aku jadi suami?"


"Itu sih emang mau ya kamu." Kata Aya sambil mendengus.


"Sekarang tidur yuk. Kamu harus banyak banyak istirahat."


"Iya."

__ADS_1


"Selamat malam Istriku." Alvin menciumi wajah dan bibir Aya.


"Selamat malam Mas." Jawab Aya berada dalam dekapan hangat suaminya.


__ADS_2