Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Demi Kamu. Istriku


__ADS_3

"Mas Aku mau pulang. Aku nggak betah di sini." Aya terus merengek pada suaminya.


"Nanti dulu ya. Kamu baru tiga hari disini. Perlu di rawat intensif sama dokter."


"Tolong lah Mas. Tanyain dokternya. Aku pengen pulang."


"Iya. Sebentar Mas tanyakan. Zam, Ara Ayah mau ketemu dokter. Kalian jaga Ibu ya."


"Iya Yah."


"Ibu belum sembuh. Di rawat di sini saja ya. Kita temani."


"Enggak sayang. Ibu nggak betah. Ibu pengen pulang aja."


"Yasudah. Yang penting Ibu cepat sembuh." Kata Zam mendukung keinginan Ibunya.


Seperti yang diinginkan Aya. Kini wanita itu sudah berada di rumah tentunya dengan kontrol penuh dari dokter yang sewaktu waktu akan memeriksa keadaan.


"Kamu kalo di rumah jangan aneh aneh ya."


"Iya Mom. Aku bukan anak kecil lagi. Anak juga sudah dua."


"Kamu kalo di bilangin. Mommy cuman khawatir aja."


"Oma nggak usah khawatir. Kami akan jaga Ibu dengan baik."


"Iya. Oma percaya sama kalian."


"Obatnya di minum dulu Yang." Alvin dengan telaten membantu istrinya untuk minum obat.


"Obatnya jangan sampai telat di minum."


"Iya Dad."


"Kakak nggak ke kantor?"


"Pikun atau gimana kamu. Kan ini hari Minggu."


"Oh iya. Lupa."


"Kalian tidur gih. Daritadi nguap Mulu gara gara jagain kakak di rumah sakit semalam."


"Tadi sudah tidur kak. Ano tuh yang paling pules sampai kakinya di perut aku."


"Mana ada."


"Kamu tidur. Mana sadar."


"Sudah sudah. Kalian selalu saja. Masalah tidur aja di ributin."


"Vin. Kamu jangan sampai ceroboh lagi. Kakak nggak mau anak Kakak terluka lagi."


"Iya kak. Aku minta maaf. Aku udah ceroboh. Lain kali aku akan perketat penjagaan lagi."


"Semuanya bukan kesalahan kamu Vin. Ini musibah. Kalian yang sabar. Ada hikmah di balik ini semua."

__ADS_1


"Kita pulang dulu ya."


"Nggak nginep?"


"Nggak. Nanti suami kamu nggak bisa bebas lagi."


"Itu tau. Kakak emang pengertian."


"Kita pulang juga Om. Mau jengukin PS 5 di rumah. Ntar sore kita balik lagi."


"Nggak balik juga nggak papa."


"Kita maunya balik. Mau jagain kakak."


"Udah ada Om."


"Kita juga ada." Kata si kembar.


"Tambahin aku sama Darren makin seru."


"Malah bikin pusing iya."


Hanya tinggal Aya dan Alvin di dalam kamar. Zam dan Ara pergi ke kamarnya masing masing untuk mandi.


"Mas..."


"Jangan minta maaf lagi." Kata Alvin sebelum Aya menyelesaikan kalimatnya.


"Mereka sudah..." Aya tidak dapat meneruskan kata katanya. Wanita itu menangis teringat bagaimana orang yang mereka anggap sebagai keluarga sendiri melakukan hal yang begitu keji padanya.


"Terimakasih Mas sudah datang di saat yang tepat."


"Tidak sayang. Mas salah. Mas minta maaf. Andai Mas tidak ceroboh. Kejadian seperti ini pasti tidak akan terjadi. Terimakasih karna sudah mengorbankan diri untuk menyelamatkan Mas. Kamu terluka kamu hampir meregang nyawa karena Mas." Alvin ikut menitihkan air matanya.


"Sudah kewajiban kita untuk saling melindungi."


"Mas."


"Iya sayang."


"Mas berjanjilah untuk tidak melukai siapapun. Mas harus janji agar menyelesaikan masalah tanpa kekerasan."


"Sayang. Mas..."


"Jangan lelah dan bosan untuk menjadi baik Mas. Mereka akan menanggung apa yang mereka perbuat. Jangan kotori tangan Mas untuk hal yang tidak ada gunanya. Mas merasa puas jika menyakiti namun di hati kecil Mas juga akan menyesal jika mengingatnya." Aya menggenggam dan mencium tangan suaminya. Ia tau pria itu tidak akan tinggal diam. Aya tau betul sikap Alvin yang akan membalas siapa saja yang mengusiknya. Ia juga tak segan untuk menyakiti orang. Ini pernah terjadi saat usia Aya 14 tahun. Pria itu menyuruh orang untuk memukuli teman Aya karena teman Aya berani mencium Aya tiba tiba.


"Iya sayang. Mas tidak akan melakukan itu. Demi kamu. Istriku." Alvin memeluk sang istri dengan hangat.


"Makan dulu biar cepat sembuh."


"Nggak pake sayur Mas."


"Biar kamu cepat sehat. Kamu harus makan yang bergizi."


"Iya juga. Biar adeknya juga sehat ya." Aya mengelus perutnya.

__ADS_1


"Kamu bilang apa Yang? Emang kamu hamil?"


"Siapa yang hamil?"


"Ibu hamil?"


"Enggak enggak. Kalian panik aja."


"Huft..." Mereka menghembuskan nafas lega.


"Mas. Aku nggak mau sayurnya."


"Dikit aja. Ini enak lo.."


"Iya Ibu. Itu enak lo...Rasanya manis."


"Ibu bukan anak kecil ya. Jangan bohongi Ibu. Mana ada brokoli rasanya manis."


"Abisnya Ibu nggak mau makan sayur. Kalo kita aja di suruh makan."


"Kalian kan masih masa pertumbuhan. Sayur itu penting."


"Apa apaan. Kamu dari kecil sampai punya anak juga nggak makan sayur."


"Nggak enak."


"Yaudah. Nggak pake sayur ini. Makan ya."


"Iya." Aya makan di suapi suaminya.


"Kalian sudah makan?"


"Sudah waktu Ibu tidur."


"Kamu Mas?"


"Sudah. Kita tadi makan bareng disini."


"Ibu. Gimana kalau kita pindah aja. Di sini nggak aman buat Ibu. Kita khawatir."


"Iya Yang. Aku khawatir sama keselamatan kamu. Aku nggak mau hal kaya gini terulang lagi."


"Bismillah. Semoga nggak terjadi lagi. Semoga kita selalu di lindungi. Kita nggak usah pindah. Sayang kuliahnya anak anak. Nanti Mommy juga sedih karena jauh dari kita."


"Tapi Yang..."


"Allah selalu melindungi kita Mas. Zam dan Ara juga harus tau. Allah sayang sama kita. Allah nggak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan makhluknya. Buktinya Ibu sampai sekarang masih di beri kesempatan untuk hidup. Ibu sangat bersyukur masih bisa berada di tengah tengah keluarga kecil kita. Kita harus berdoa dan berpasrah. Kita serahkan semuanya pada Allah."


"Iya Ibu."


"Aku bersyukur punya Istri seperti kamu."


"Kami bersyukur punya Ibu seperti Ibu." Zam dan Ara mengikuti Ayahnya memeluk Aya.


"Ibu juga bersyukur mempunyai suami dan kedua anak yang baik seperti kalian." Aya membalas pelukan mereka. Merasakan kehangatan keluarga kecilnya yang tanpa perdebatan beberapa hari ini.

__ADS_1


__ADS_2