Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Nggak Bisa Diem


__ADS_3

Dokter baru saja keluar dari kamar Aya. Wanita itu mengeluh sakit perut dari subuh tadi. Asam lambungnya naik. Ia hanya bisa menangis sambil mendengarkan suaminya yang terus mengoceh.


"Ini nih. Kalo dibilangin suka nggak nurut. Kejadian beneran kan. Besok besok makan sembarangan lagi aja." Kata Alvin memarahi istrinya di depan semua orang.


"Mas jangan marahin aku dong. Maaf. Perut aku sakit banget." Kata Aya memegangi perutnya.


Alvin tak tega langsung menggenggam tangan istrinya erat berharap wanita itu bisa berbagi sakit dengannya.


"Sabar Sayang. Obatnya baru aja diminum. Nanti juga baikan, dipakai istirahat ya."


"Iya Mom."


"Kalo gitu kita keluar. Biar kamu istirahat." Semuanya keluar hanya menyisakan Alvin dan istrinya.


"Mas. Sakit."


"Sabar ya. Dipake tidur aja." Alvin mengusap punggung istrinya lembut. Cukup lama menunggu akhirnya Aya bisa tertidur juga. Alvin bernafas lega karena sang istri tidak mengeluh lagi yang membuat hatinya perih.


"Ayo dimakan. Sedikit aja. Yang penting perut kamu nggak kosong."


"Mual Mas. Jangan bubur deh. Yang lain aja."


"Puding dari Oma ada Yah. Ibu mau?"


"Iya. Itu aja."


Zam bergegas mengambilkan puding untuk Ibunya.


"Ayah aja yang suapi." Kata Alvin merebut puding itu dari anaknya.


"Ayah ma gitu." Kata Zam sambil cemberut.


"Udah. Jangan manyun begitu. Jelek."


Alvin mulai menyuapi istrinya.


"Lain kali kalo kamu makan diluar nggak sama aku. Aku nggak bakalan kasih izin."


"Maaf Mas."


"Jangan diulangi lagi."


"Iya Mas."


"Ibu perutnya sudah enakan?"


"Sudah. Kalian sudah makan?"


"Nanti aja. Lagi males."


"Makan gih. Jangan sampai telat."


"Kamu kalo nasehatin bisa aja. Kamu juga telat makan."


"Iya Mas." Jawab Aya.


Sore hari keadaan Aya sudah membaik. Wanita itu sekarang sudah jalan jalan di taman belakang bersama suaminya.


"Tuan. Nyonya." Salah satu pelayan menghampiri mereka sambil mengatur nafas.


"Ada apa?"


"Diluar ada wanita yang mencari Tuan dan Nyonya."


"Siapa?"


"Tidak tau."


"Baiklah suruh masuk. Saya dan istri saya akan menemuinya."


Perintah Alvin dan langsung dilaksanakan.

__ADS_1


Aya dan Alvin datang melihat sosok wanita tengah duduk. Tidak sendiri, ketiga anaknya juga berada di sana.


"Ibu." Daniel bangkit dari duduk langsung memeluk ibunya.


"Nona mencari siapa?"


"Saya Mamanya Daniel. Saya ingin membawa Daniel bersama saya."


"Daniel nggak mau Ibu."


"Kita duduk dulu Nak. Kita bicarakan baik baik."


Mereka duduk bersama.


"Daniel. Kamu harus pulang sama Mama."


"Maaf Ma. Daniel nggak bisa. Dulu Mama buang Daniel nggak peduli sekarang Mama mau Daniel ikut Mama lagi. Daniel nggak mau. Daniel sudah menderita selama ini dan Ibu yang menolong Daniel. Daniel akan tetap bersama Ibu."


"Dia bukan orang yang melahirkan kamu."


"Memang bukan. Tapi kasih sayangnya melebihi orang yang melahirkan Daniel."


"Terserah kamu Daniel. Mama sudah mencoba untuk bertanggung jawab. Memang hidup kamu disini mewah dan terjamin. Mama tau itu."


"Ini bukan soal materi. Ini soal hati. Daniel sayang Ibu."


"Baiklah. Mama nggak akan cari kamu lagi. Buang buang waktu. Permisi."


"Silahkan." Kata Aya.


"Sudah jangan nangis lagi." Aya menenangkan anaknya.


"Iya Ibu." Daniel tak melepaskan pelukannya dari sang Ibu.


Alvin menghampiri istrinya yang sedang makan di ruang keluarga. Semuanya sudah makan duluan. Karena tadi Aya istirahat, Ia tidak makan dengan yang lain.


"Astaga kamu daritadi makan semangkuk kecil belum habis juga. Kamu kemana aja Yang?"


Jawabnya sambil fokus memperhatikan Tv.


Alvin mematikan Tv nya.


"Kok dimatiin sih?"


"Makan sampai habis. Obatnya diminum. Baru boleh nonton lagi."


"Iya." Jawab Aya patuh. Ia tak lagi membantah suaminya. Takut kena karma.


"Sudah Mas."


"Obatnya."


"Iya. Iya." Aya langsung melaksanakan perintah membuat Alvin tersenyum.


"Sudah."


"Ok." Kata Alvin menyalakan TVnya kembali.


"Film yang tadi." Kata Aya.


"Duduk sini." Alvin menepuk sofa agar Aya duduk di sampingnya karena wanita itu sedang duduk di karpet.


"Iya." Aya duduk di samping Alvin. Pria itu langsung memeluk istrinya.


"Yang."


"Hm. Ehh tunggu dulu. Aku mau ambil apel."


"Disini aja. Aku suruh Bibi."


"Enggak ah Aku ambil sendiri."

__ADS_1


"Duduk." Tegas Alvin langsung membuat Aya duduk kembali.


Alvin menyuruh orang untuk mengambilkan apel untuk istrinya.


"Sebentar lagi datang."


"Iya." Kata Aya melanjutkan menonton.


"Ini apelnya."


"Kok kalian?" Kata Alvin melihat ketiga anaknya datang. Pria itu jadi tidak bisa berduaan dengan Istrinya.


"Ayah jangan kaget dong."


"Ibu ini apelnya."


"Makasih."


"Sama sama."


"kalian nggak ada kerjaan apa?"


"Udah beres Yah."


"Hm."


"Mas."


"Ya."


"Ikan kamu kenapa tuh. Kok gitu." Tanya Aya melihat ikan mahal suaminya terlentang.


"Memang begitu."


"Jangan jangan mati lagi. Wah bisa rugi."


Aya beranjak dari duduknya menuju aquarium. Wanita itu mengetuk ngetuk kacanya membuat si ikan berenang dengan cepat ke arahnya.


"Astaga." Kagetnya membuat mereka semua tertawa.


"Lagian. kan udah di bilang emang gitu."


"Ikan nakal. Suka banget boongin orang." Kata Aya duduk kembali.


"Eh tunggu dulu." Aya kembali lagi berdiri.


"Kamu nggak bisa diem ya Yang. Daritadi gerak mulu. Kamu baru sembuh. Pusing aku liatnya."


"Bentar deh Mas. Ra sini coba liat."


"Ada apa Bu?" Ara menghampiri Ibunya.


"Kura kuranya cangkangnya warnanya beda."


"Astaga Yang Tempurung bukan cangkang."


"Iya. Itu maksudnya.


"Iya. Coba kamu perhatiin."


"Iya." Kata Ara membenarkan.


"Yang."


"Ya Mas."


"Duduk."


"Iya Iya." Aya duduk lagi bersama suaminya.


"Makan." Alvin menyuapi istrinya apel dan Aya hanya menurut.

__ADS_1


__ADS_2