
Aya duduk bersama Daniel sementara kedua anak dan suaminya berdiri dengan tatapan mengintrogasi.
"Ibu hamil?"
"Kamu hamil Yang?"
Aya masih diam tidak menjawab sambil membawa testpack yang ada di tangannya.
"Ibu..."
"Ayo dong Yang. Jangan berbelit. Kamu hamil nggak?" Tanya Alvin tidak sabaran.
"Kalo aku hamil gimana?"
"Ibu sudah janji ga akan punya anak lagi."
"Iya Yang. Kita kan udah sepakat."
"Maaf. Tapi Ibu terlanjur hamil." Katanya sambil menyerahkan testpack itu.
Alvin meraihnya dan dengan cepat mengecek.
"Gimana Yah."
"Kamu bohong ya. Wah kamu minta dihukum." Alvin menggelitik istrinya sampai Aya tertawa karena kegelian.
"Ibu jahat." Meraka ikut menggelitik Ibunya.
"Udah. Ampun. Maaf." Kata Aya menyerah.
Alvin memeluk istrinya yang kelelahan.
"Disini nggak ada adeknya." Kata Alvin mengelus perut istrinya.
"Mana jeruk Balinya tadi?" Tanya Aya.
"Ara ambilkan Ibu. Tadi masih dikupas bibi."
Ara dengan cepat pergi ke dapur untuk mengambil jeruk.
Mereka makan jeruk bersama.
"Ih pahit kaya yang punya. Hahaha...." Aya tertawa meledek suaminya.
"Kamu ya." Alvin mencium pipi istrinya gemas.
"Beneran pahit Mas."
" Emang yang kamu makan bijinya kali. Ini makan." Alvin menyuapi istrinya.
"Kok yang ini manis."
"Ibu makannya masih sama kulit. Makannya pahit." Kata Daniel.
Aya baru pertama kali makan jeruk Bali Ia tak begitu paham. Jeruk ini Ia yang minta Alvin untuk tanam dan saat ini pertama kali berbuah.
"Oh. ini yang bikin pahit."
"Iya Ibu."
"Mas."
"Iya sayang."
"Rekan kerja kamu yang istrinya kabur itu gimana?"
"Ya jadi duda lah. Kamu mau?"
"Apaan sih. Ya kalo boleh." Jawab Aya sambil tertawa membuat Alvin melotot.
"Enggak enggak cukup satu kamu aja." Katanya menggenggam tangan Alvin. Pria itu langsung luluh dengan tingkah sang istri.
"Ibu suka banget ngerjain Ayah."
"Ayah kalian terlalu kaku. Makannya Ibu ajak bercanda. Eh besok pagi sepedahan yuk. Mupung libur."
__ADS_1
"Di sekitar sini aja. Jangan macem macem. Keluar sebentar aja kamu nanti jajan sembarangan."
"Tapi Mas."
"Mau makan sayur lagi."
"Engga. Makasih."
Pagi hari setelah sarapan Mereka bersepeda di sekitar taman kompleks. Aya bersikeras ingin naik sepeda sendiri namun Alvin melarang. Jadi Aya tetap di bonceng suaminya. "Gantian Mas. Aku pengen kayuh. Aku yang bonceng."
"Jangan aneh aneh. Nanti kamu nubruk."
"Enggak enggak. Kita kan mau pulang. Aku aja yang bonceng."
"Iya deh."
Alvin mengalah dan mereka bertukar posisi.
Sepanjang perjalanan Alvin tak berhenti mengomel karena sang istri yang tidak mahir bersepeda.
"Sini aku aja. Kamu leat leot. Nanti jatuh."
"Enggak. sebentar lagi sampai rumah." Kata Aya tetap melanjutkan.
"Alhamdulillah." Kata Alvin mengelus dadanya.
"Ayah kenapa?" Tanya Zam karena mereka sampai rumah duluan.
"Ayah bersyukur. Ibu kamu naik sepeda nggak jatuh. Lain kali jangan bawa lagi. Aku ngeri." Kata Alvin.
" Yah kok gitu."
"Kamu nggak lancar naiknya. Bahaya."
"Aku pengen naik sepeda."
"Sepeda statis aja Ibu. Lebih aman."
"Zam sama aja kaya Ayahnya." Kata Aya sambil cemberut.
Alvin menghampiri istrinya yang sedang memainkan ponsel sambil duduk berselonjor di sofa balkon kamar. Ia merebut ponsel istrinya.
"Enggak." Alvin menyimpan ponsel Aya di sakunya.
"Ini waktu kita berdua. Nggak ada yang boleh ganggu."
"Kamu ma gitu. Aku lagi balas chat dari Mommy."
"Biarin. Dia juga ngerti."
Alvin ikut duduk membawa sang istri ke pelukannya.
"Angin disini enak ya."
"Iya. Adem. Banyak pohon soalnya."
"Kamu suka."
"Suka. Tapi ada ulatnya nggak Mas?"
"Enggak. Kan udah di semprot."
"Kalo ada. Hi...geli.."
"Kulit kamu makin halus Yang." Kata Alvin meraba paha istrinya.
"Jangan Mulai. Aku capek."
"Ayolah."
"Aku capek. Beneran."
"Yasudah. Istirahat." Kata Alvin mengalah.
"Mas. Kok kamu nggak tertarik sama cewek lain. Padahal di luar sana banyak yang menarik."
__ADS_1
"Karna hati aku dan tubuh aku hanya untuk istriku seorang. Dimata Mas kamu yang paling baik, kamu yang paling cantik, dan kamu yang paling menarik dari segalanya. Mas cinta dan sayang sama kamu melebihi apapun."
"Mas beneran?"
"Masih tanya begitu. Iyalah. kalo nggak beneran Mas nggak akan menunggu kamu sampai mas dikatain gay. Mas juga nggak akan buat surat palsu itu untuk mendapatkan kamu. Mas juga nggak akan pindah namakan semua kekayaan Mas untuk kamu. Semua itu Mas lakukan sebagai bukti cinta Mas ke kamu."
"Perjuangan Mas panjang ya. Pengorbanan Mas juga besar. Aku bangga sama Mas."
"Harus." kata Alvin sambil tersenyum.
Aya mengelus dada bidang suaminya.
"Mas dulu tiap malem temenin aku tidur ."
"Iya, kamu dulu sering mimpi buruk." kata Alvin sambil menahan diri menerima sentuhan dari istrinya.
"Mas aku pengen sesuatu?"
"Apa? Awas aja kalo aneh aneh."
"Ayo beli..."
"Tuh kan." Potong Alvin.
"Aku belum selesai ngomong. Ayo beli es oyen sekalian jalan jalan."
"Kamu ma gitu. Manja kalo minta sesuatu."
"Ayo Mas. Kita ajak anak anak sekalian."
"Berdua aku berangkat. Kalo sama anak anak gausah."
"Yaudah Ayo. Berdua."
Alvin melajukan mobilnya ke pantai. Ia telah menuruti keinginan sang istri membeli es Oyen tadi.
"Kok di kunci Mas. Aku mau turun."
"Ga jadi, kita ke Mall aja. Kamu jangan liat keluar. Banyak cowok lagi Volley ga pake baju tuh."
"Mana?" Tanya Aya menantang.
"sekali aja kami tengok. Wah. Aku bikin perhitungan sama kamu."
"Nggak. Yaudah ayo ke Mall."
Alvin selalu menggandeng tangan istrinya saat berkeliling. Keduanya selesai makan bersama.
"Pak haji'. Kalo minum jangan sambil jalan dong."
"Iya Istriku." Kata Alvin menurut.
"Kita duduk dulu aja."
Aya dan Alvin duduk berdua di bangku.
"Misi Om. Boleh kenalan dengan anaknya."
Kata seorang pemuda menghampiri keduanya membuat Alvin mendidih.
"Umur kamu berapa?"
"35 Om."
"Oh. Pekerjaan kamu apa?" Tanya Alvin mengintrogasi membuat Aya menahan tawanya.
"Saya dosen Om."
"Oh. Saya CEO dan Juga suami dari wanita yang ingin kamu ajak berkenalan."
"Oh Maaf Tuan. Saya permisi." Katanya cepat cepat pergi.
"Sialan." Umpat Alvin membuat Aya tertawa cekikikan.
"Kamu seneng?"
__ADS_1
"Aduh suamiku sayang ngambek lagi. Uluh uluh jangan dimasukkan ke hati ya..."
Aya mengelus punggung suaminya.