
"Mas bajunya udah aku siapin. Aku mau mandiin anak anak dulu ya."
"Kenapa ga pake baby sitter aja sih Yang? Kalo gini kan aku jadi kurang waktu sama kamu."
"Enggak ah. Aku pengen rawat anak anak aku sendiri."
Aya langsung bergegas menuju kamar kedua anaknya.
"Anak Ibu dah bangun ya..." Aya Memberi Asi kepada anak anaknya satu persatu.
"Kita mandi dulu ya gantian. Kakak Azzam dulu nanti baru Adek Ara." Ibu muda itu begitu telaten memandikan anaknya sambil sesekali mengajak bayi itu mengobrol. Mereka hanya menjawab Ibunya dengan celotehan. Hampir setengah jam lebih. Kegiatan Aya selesai juga.
Suara pintu kamar terbuka. Aya tidak mengalihkan perhatiannya. Ia sibuk memberikan ciuman kepada kedua anaknya yang aktif berguling guling.
"Yang. Tolong pakaikan dasiku."
"Iya." Aya memakaikan dasi suaminya. Alvin tampak memperhatikan wajah istrinya yang begitu dekat. Bibirnya seketika mencium bibir mungil istrinya.
"Dah selesai." kata Aya sambil merapikan dasi Alvin.
"Mereka tidur?"
"Enggak."
Alvin menghampiri anak anaknya yang tampak tenang. Tangan dan kaki mereka bergerak gerak seakan ingin menggapai sesuatu. Beberapa saat kemudian mereka tengkurap bersamaan. Alvin mengangkat Azzara. Membawa bayi cantik itu dalam gendongannya diikuti Aya yang menggendong Azzam..
"Anak Ayah pintar. Nggak rewel." Alvin menciumi wajah putrinya.
"Nggak terasa ya Yang. Mereka udah tiga bulan aja. Perasaan baru kemarin lahirnya."
"Iya. Kamu sarapan gih Mas. Nanti kesiangan lagi."
"Temenin."
"Iya."
"Ayah mau sarapan sama Ibu dulu ya. Kalian jangan nangis." Alvin dan Aya mencium kedua anaknya dan membaringkan di box bayi dengan hati hati. Keduanya meninggalkan kamar lalu memerintahkan seseorang untuk menjaga anak anak mereka.
"Mau sarapan pakai apa Mas?"
"Mau nasi goreng. Sepiring berdua sama kamu."
"Baiklah."
"Yang. Kamu ada janji sama dokter untuk Vaksin anak anak kan?"
"Iya."
"Dokternya udah aku suruh kesini aja. Biar kamu ga usah ke rumah sakit."
"Emangnya kenapa Mas?"
"Enggak. Cuma pengen kamu di rumah aja."
__ADS_1
"Yaudah."
Selesai sarapan Alvin langsung berangkat. Aya seperti biasa, mengantarkan kepergian suaminya sampai ke halaman rumah.
"Aku berangkat dulu ya Yang. Kalau ada apa-apa segera kabari. Jangan capek capek. Jangan lupa vitaminnya diminum juga. Oh satu lagi makan buah yang banyak. Biar kesehatan kamu terjaga."
"Iya Mas."
"Aku berangkat dulu." Alvin menciumi wajah istrinya sebelum masuk mobil.
"Iya. Hati hati."
Aya kembali ke kamar kedua anaknya setelah Alvin berangkat. Itu semua tak luput dari pantauan sang suami yang sedang mengamatinya di sepanjang perjalanan melalui laptopnya.
Alvin mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Tangannya bergerak membaca lembar demi lembar dokumen yang tertata rapi di atas meja.
Setelah beberapa jam berlalu, semua berkas sudah di cek dan ditandatangani. Kini Ia beranjak dari duduk. Sedikit heran dengan sahabatnya. Belum ada kemunculan Rio sejak kedatangannya di kantor. Langkah kakinya tampak santai keluar dari ruangan.
"Rio dimana?" Tanyanya pada salah seorang karyawan.
"Pak Rio belum datang Tuan."
"Baiklah." Jawabnya sambil berlalu pergi menuju ke ruangan sahabatnya.
Tanpa permisi Ia masuk. Pandangannya tertuju pada kursi kerja temannya. Ia mendudukkan diri dengan santai. Sangat jarang Alvin berkunjung ke sini. Ternyata suasananya tak jauh beda dengan ruangannya. Alvin membuka laci kerja sahabatnya. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihat. Foto istrinya yang begitu banyak. Berjuta pertanyaan berputar di benaknya. Ia sebenarnya tak ingin menaruh curiga atas sikap Rio selama ini pada sang istri. Namun setelah menemukan hal seperti ini, kecurigaan nya selama ini terjawab sudah.
Alvin berdiri dari duduknya saat Rio datang.
Pria itu tampak sedikit terkejut dengan apa yang sedang di pegang sahabatnya.
Alvin tampak mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Diam kau." Kata Alvin dengan nada tinggi.
"Kau tidak berhak bicara sekarang." Katanya dengan nafas naik turun.
"Apa kau menyukai istriku ha?" Bentaknya sangat keras.
"Ya. Aku memang menyukai Istrimu. Tapi aku bisa jelaskan semuanya Vin."
"Kurang ajar kau." Alvin mencengkram kerah kemeja sahabatnya.
"Sabar Vin. Aku bisa jelaskan." Kata Rio memohon.
"Sejak kapan. Sejak kapan ha?"
"Sudah lama."
Alvin melepaskan cengkraman nya dari pria itu. Ia begitu kecewa, namun tidak tega untuk menyakitinya. Ia sangat ingat betul mereka melalui suka duka bersama. Pria itu sudah dianggapnya seperti adik. Seperti saudaranya sendiri.
Alvin melangkahkan kakinya pergi dari sana, sebelum emosinya tak dapat terkendali lagi. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Dengan bertemu istrinya Ia akan mendapat ketenangan.
"Mas kok sudah pulang?" Tanya Aya melihat kedatangan suaminya.
__ADS_1
Alvin tidak menjawab langsung memeluk istrinya erat.
"Ada apa sih Mas? Mas ada masalah?"
"Nggak papa sayang. Kerjaan aku udah selesai aja. Jadinya aku pulang."
"Oh."
"Anak anak tidur Yang?"
"Iya habis minum ASI tadi langsung tidur."
"Temenin aku ya."
"Iya."
Aya dan Alvin duduk di sofa. Pria itu bersandar manja di dada istrinya. Ia meminta Aya untuk mengelus kepalanya.
"Kamu ada masalah apa sih Mas?"
"Nggak ada kok. Aku cuman pengen dimanja kamu aja."
"Kalau ada masalah cerita."
"Enggak kok Yang." Kata Alvin meyakinkan.
"Yang." Panggil Alvin pada Istrinya lembut.
"Iya."
"Kamu nggak akan ninggalin aku kan?"
"Ngomong apaan sih Mas?"
"Aku cuman khawatir aja."
"Nggak usah ngomong gitu. Aku nggak akan ninggalin kamu kok."
"Beneran Ya."
"Iya."
Alvin mencium bibir istrinya.
"Aku mau liat anak anak dulu."
"Kan masih tidur."
"Kan tadi. Sekarang mana tau sudah bangun."
"Belum bangun kok."
"Darimana kamu tau. Awas ah. Aku mau lihat anak anak dulu."
__ADS_1
"Iya iya." Alvin bangkit dan mengikuti Istrinya.
"Anak Ibu dah bangun ya." Aya menggendong Azzam sedangkan Alvin menggendong putrinya. Kedua bayi itu hanya berceloteh menanggapi kedua orang tuanya yang mengajak mengobrol. Alvin mendapatkan sebuah fakta mengejutkan hari ini. Sahabatnya sendiri diam diam mencintai sang istri. Ia sebenarnya sudah menaruh curiga. Namun Ia tak mau berburuk sangka. Ia melihat anak dan Istrinya. Harta paling berharga yang Alvin miliki. "Aku menyayangi kalian. Aku akan menjaga kalian." Gumamnya dalam hati.