
Alvin baru saja berangkat ke kantor sekitar seperempat jam lalu.
"Ibu. Ayah sudah berangkat?"
"Sudah Sayang. Ada apa?"
"Ibu kita keluar yuk."
"Zam pengen kemana? Zam mau apa?"
"Kita ke tempat belanja Ibu. Zam pengen kacang sama keripik buat nanti cemilan buka puasa. Tapi Zam pengen beli sendiri. Jangan suruh beli Bibi. Zam pengen pergi sama Ibu."
"Ara juga mau."
"Iya. Kita beli. Ayo."
"Ibu. Ara pengen kue yang dibungkus pakai daun pisang seperti kemarin."
"Kue apa?"
"Ara lupa."
"Nagasari ya?"
"Iya itu."
"Nanti ibu bikinkan."
"Makasih Ibu."
"Sama sama sayang." Membalas pelukan anak anaknya.
Aya dan kedua anaknya berangkat setelah mengirim pesan kepada suaminya. Ia tak menunggu balasan dari sang suami karena akan lama atau bahkan tidak diizinkan.
"Assalamualaikum Mas." kata Aya mengangkat telfon saat dalam perjalanan.
.....
"Sebentar saja. Ini lagi di jalan. Kan aku sudah izin sama kamu. Masa suruh pulang lagi. Gamau ah."
....
"Jangan khawatir. Aku cepet pulang kok. Lagian kamu bisa pantau aku lewat GPS."
...
"Udah deh Mas. Kamu keterlaluan kalo suruh aku dirumah terus. Mau ngapa ngapain ga boleh."
....
"Itu mulu. Udah ah. Aku tutup. Assalamualaikum."
"Kenapa Ibu? Ayah nggak kasih Izin ya?"
"Gapapa kok sayang. Ayah cuman tanya mau pergi kemana."
"Oh. Ara kira Ayah ga kasih izin."
Sampai di supermarket Aya mengajak kedua anaknya turun. Zam dan Ara memilih berbagai makanan yang mereka suka sementara Aya hanya mengikuti di belakangnya sambil mendorong troli.
"Ibu. Zam minta ini boleh?" Tunjuknya pada botol soda.
"Jangan sayang. Nanti Zam sakit perut. Yang lain saja ya."
"Iya Ibu."
"Ibu. Ara minta coklat ini ya."
"Iya. Ambil saja. Sekalian buat kakak Zam."
"Iya Ibu."
"Ibu Zam pengen bakso."
"Nanti kita bikin di rumah sayang."
"Makasih Ibu."
"Sama sama. Ini sudah semua. Ga pengen apa apa lagi?"
"Sudah Ibu. Itu sudah penuh makanan kita semua."
__ADS_1
"Yasudah. Kita bayar."
"Pak kita jangan pulang dulu ya. Kita ke pasar sebentar." kata Aya pada supirnya.
"Nyonya. Kenapa tidak belanja di sini saja? Nanti Nyonya tidak nyaman. Pasar tempatnya kotor Nyonya."
"Saya mau beli daun pisang pak. Disini tidak ada. Antar saya ke pasar ya."
"Tapi Nyonya. Nanti Tuan marah."
"Nanti biar saya yang ngomong."
"Baik Nyonya."
"Kalian mau ikut Ibu turun atau di mobil saja?"
"Ikut turun Ibu."
"Yakin?"
"Iya." Jawab mereka mantap.
Aya menggandeng kedua tangan anaknya memasuki pasar.
"Ibu. kotor." lirih Ara.
"Shut. Jangan bilang begitu. Tidak enak jika ada yang mendengar. Kita hargai tempat juga orangnya. Disini mereka mencari nafkah."
"Baik Ibu."
Aya membeli daun pisang pada seorang pedagang di sana. "Mbak cantik kok mau belanja di tempat seperti ini. Kenapa nggak di swalayan saja bersih." Kata Ibu paruh baya itu.
"Tidak Bu. Di swalayan dan disini sama saja." Jawab Aya sambil tersenyum.
"Beda mbak. Disana kan bersih. Tempatnya orang orang elit kaya mbak."
"Saya orang biasa kok Bu."
"Jangan bohong. Mobilnya saja mewah begitu."
"Harta cuma titipan Bu."
Aya hanya tersenyum menanggapinya.
"Ini anaknya mbak?"
"Iya."
"Kirain adiknya. Namanya siapa nak?"
"Zam sama Ara Bu." Jawab mereka sopan.
"Cantik dan ganteng. Sopan pula."
"Sama apalagi mbak?"
"Ibu itu apa?" Tanya Ara.
"Ini nangka sayang. Ara mau coba?"
Ara mengangguk semangat.
"Sama nangka juga pisangnya sekalian Bu."
"Baik mbak."
"Semuanya berapa?"
"Semuanya 120 ribu mbak."
"Ini kembaliannya ambil aja Bu."
"Masih banyak mbak. Masih 80 ribu."
"Rejeki Ibu."
"Terimakasih Mbak. Semoga rejekinya lancar."
"Amin. Sama sama Bu, saya permisi dulu."
"Iya hati hati."
__ADS_1
Sampai di rumah Aya langsung menuju ke dapur bersama kedua anaknya.
"Bi tolong kupasin nangkanya ya."
"iya Nyonya."
"Ibu. Kapan kita bikin nagasarinya?"
"Mau sekarang atau nanti?"
"Ibu nggak capek? Kalau capek Ibu istirahat dulu saja."
"Ibu nggak capek kok. Kita bikin sekarang ya."
"Ara bantu."
"Zam Juga."
Alvin baru pulang langsung menghampiri istrinya di kamar. "Assalamualaikum." Katanya langsung memeluk Aya.
"Waalaikumsalam. Ada apa sih Mas."
"Kamu ke pasar ya?"
"Iya. Kan aku udah bilang."
"Kamu gimana sih. Aku kan nggak kasih izin."
"Kamu kasih izin tadi."
"Aku kasih izinnya kamu ke supermarket bukan ke pasar."
"Aku kan perginya cuman sebentar Mas."
"Aku khawatir tau. Aku takut terjadi sesuatu."
Alvin memeluk istrinya lagi setelah beberapa saat memperhatikan wajah cantik itu.
"Jangan gitu ah. Kamu terlalu berlebihan jadi orang."
"Kamu nggak tau aja berkali kali aku hampir kehilangan kamu. Aku takut masa masa itu terulang lagi."
"Tenang Mas. Semuanya baik baik saja kok."
"Pokoknya mulai sekarang kalo kamu pergi nggak sama aku. Aku nggak bolehin."
"Mas kok kamu gitu lagi. Aku sudah bukan anak kecil. Kamu jangan perlakukan aku kaya gini dong."
"Pokoknya kamu harus nurut."
"Mas." Rengek Aya.
"Demi kebaikan kamu." Mengusap lembut kepala Istrinya.
"Kamu keterlaluan."
"Maaf keputusan ku sudah bulat." kata Alvin.
Alvin dan Aya berkumpul di ruang keluarga bersama kedua anaknya setelah sholat tarawih.
"Nangkanya enak Ibu." Kata Ara sambil terus mengunyah.
"Makannya pelan pelan sayang."
"Zam kamu nggak mau?"
"Zam udah kekenyangan Ayah."
"Adik kamu aja belum kenyang tuh."
"Perutnya muat banyak." Kata Azzam memperhatikan Ara yang tengah fokus dengan makanannya.
"Yang. Mereka sekolahnya kapan?"
"Bulan depan. Kasih Izin aku temenin mereka ya Mas. Aku mohon."
"Iya. Tapi kamu harus kabarin aku terus" Alvin mengizinkan karena tak tega dengan Istrinya.
"Makasih Mas. Aku akan selalu kabari kamu kok."
"Sama sama Sayang." Alvin memeluk dan mengecup kening sang istri.
__ADS_1