Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Percontohan


__ADS_3

"Kakak." Darren dan Ano berhambur memeluk Aya yang sedang munyuapi kedua anaknya.


"Kebiasaan. Masuk rumah salam dong."


"Maaf kak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Zam sama Ara lagi makan ya?" Mereka beralih memeluk kedua bocah menggemaskan itu.


"Iya Om."


"Kalian ganti baju sana terus makan."


"Iya kak."


"Sayang." Alvin berjalan memasuki rumah diikuti dua orang dibelakangnya langsung mencium istri dan kedua anaknya.


"Ini juga. Kasih contoh yang baik dong sama anaknya. Kasih salam gitu."


"Maaf maaf Sayang. Aku bakal jadi contoh yang baik kok."


"Kita akan jadi Ayah yang baik buat mereka." Kata Rio menambahi.


"Assalamualaikum." tiga pria itu memberi salam bersamaan.


"Waalaikumsalam."


"Ganti baju sana Mas. Udah aku siapin. Makan siangnya juga. Sekalian Om Darwin sama Om Rio."


"Ntar dulu. Mau napas." Kata Rio mendudukkan diri di samping Darwin yang tengah memangku Ara.


"Kamu dah makan Yang."


"Belum. Aku masih kenyang."


"Makan Ya. Nanti kamu sakit kalo telat makan."


"Aku masih kenyang Om. Beneran deh."


"Om sakit?" Tanya Zam.


"Nggak kok. Om cuman capek. Diluar cuaca panas banget."


"Alasan."


"Apaan sih Vin. Emang panas diluar. Masa kamu nggak ngerasa."


"Iya sih."


"Darwin..."Panggil Rio pada orang yang sedang memangku Ara.


"Apa?"


"Nggak papa."


"Dasar ga jelas."


"Minum yang dingin dingin enak nih."


"Om mau apa?"


"Boleh nih?"


"Ngomong aja. Mupung aku ngebolehin." Kata Alvin.


"Sop buah kayanya enak."


"Yaudah. Selesai suapin mereka aku bikinin."


"Aku boleh minta sesuatu nggak?"


"Apa Om?" Tanyanya pada Darwin.


"Rujak buah."


"Iya pas tuh rujak buah sama Sop buah."


"Iya nanti aku bikinin."


"Makasih Aya sayang." Kata Darwin menjulurkan tangannya hendak memeluk Aya.


"Mau ngapain. Aku patahin tangan kamu."


Ia tak gentar langsung berdiri dan memeluk Aya sekilas dan berlalu pergi ke kamar.


"Sialan." umpat Alvin hanya di tertawaan oleh Rio.


"Mas."


"Apa sih Yang? Dia kurang ajar tau."


"Omongannya di jaga. Ada anak anak nih. kalo sampai mereka tiru gimana."

__ADS_1


"Maaf. Tapi aku kesel banget."


"Udah udah. Bersih bersih sana terus makan."


"Temenin Yang."


"Aku sibuk."


"Yah."


"Udah jangan manja." Kata Rio menepuk bahu sahabatnya.


Semuanya tengah berkumpul di teras belakang.


"Seger banget panas panas gini minum sop buah."


"Zam sama Ara mana kak?"


"Lagi tidur siang."


"oh."


"Rujaknya kepedesan nggak Om?"


"Enggak kok Ya. Udah pas. Enak." Katanya tak berhenti mengunyah.


"Kamu nggak pernah makan rujak ya. Lahap gitu."


"Pernah Vin. Tapi dah lama banget."


"Pantesan."


"Aku mau juga."


"Masih banyak Om. Ini pakai garpu."


"Makasih Ya. Sering sering bikin ya."


"Iya."


"nggak..nggak. Enak banget kalian bikin istri aku capek capek. Minta Bibi sana kalau mau."


"Beda Vin rasanya."


"Alasan."


"Bener kok. Ga bohong aku." Kata Darwin serius.


"Bakar apa? Rumah kamu."


"Jangan dong vin. Kan baru aja kebeli. Kamu tega benget."


"Bakar sosis, daging, Apa gitu."


"Ada ada aja ni orang idenya. Tapi boleh juga."


"Nanti aku yang belanja."


"Jangan Yang. Biar Rio aja."


"Kok aku."


"Kan yang punya ide situ."


"Temenin dong."


"Aku sama Darren ikut Om."


"Oke."


"Sebentar aku tulis bahan bahannya."


"Ok."


"Aku dah kirim ke Om."


"Ok. Udah nggak ada yang kelupaan kan?" Tanya Rio memastikan.


"Enggak semuanya dah lengkap kok."


"Kalo gitu sana berangkat."


"Nanti dong Vin. Masih panas. Nanti aku item lagi."


"Kaya cewek aja kamu lama lama." Kata Darwin mulai jengah.


"Biar Aku aja Yang. Kamu duduk aja." Kata Alvin menggantikan istrinya.


"Sebentar lagi."


"Duduk nggak. Kalo nggak aku gendong nih."


"Ih. Bisanya cuman mengancam."

__ADS_1


"Biar kamu ga kecapean." Katanya sambil mengecup kening Aya sebelum sang istri pergi.


"Heh Rio. Kamu yang punya ide malah enak enakan menganggur."


"Apa sih Vin. Aku lagi potongin daging nih."


"Sini gantian. Bau asap aku habis mandi."


"Suruh Darwin tuh."


"Aku sibuk gendong Zam."


"Biar aku aja Om."


"Emang bisa No."


"Bisa lah."


"Oke."


Alvin langsung menghampiri dan menggendong putrinya.


"Ibu mana Sayang?"


"Lagi ke dapur sebentar. Ambil susu."


"Kamu minta susu ya."


"Iya."


"Om. Zam mau sama Ibu." Katanya melihat kedatangan Aya.


"Iya iya."


"Kenapa Sayang?" Aya menggendong anak lelakinya setelah memberikan susu pada Ara.


"Zam mau sama Ibu."


"Iya."


"Dah matang ni. Makan yuk." Rio menyajikannya di atas meja. Mereka makan bersama.


"Mereka cepet banget tidurnya." Kata Alvin melihat bocah kembar itu tertidur pulas di pangkuan ibunya.


"Iya Om."


"Biar aku bawa satu Yang. Kamu kayanya ga nyaman."


"Ga usah. Nanti bangun."


"Yaudah. Tapi kamu nanti pegal."


"Nggak papa kok."


"Besok ke Villa kamu yok Vin."


"Mau ngapain?"


"Liburan lah. Kita belum pernah kesana."


"Tergantung."


"Tergantung apa?"


"Ibu negara mau pergi nggak?"


"Mau ya Ya....Please. Aku belum pernah kesana sama sekali. Alvin nggak pernah ngajak aku."


"Jangan kaya anak kecil deh Om. Iya iya besok kita pergi."


"Liburnya berapa hari sih?"


"5 hari. Lumayan."


"Emang Darren sama Ano libur juga?"


"Libur kak. Buat Try out kelas 3. Jadi kita libur."


"Kalo Om, Om ni liburnya kenapa? Perasaan tanggal merah cuman 3 hari."


"Yang 2 harinya emang kita pengen libur Ya. Sesekali nggak kerja. Mau dinginin pikiran." Kata Darwin.


"Oh."


"Kita berangkat subuh aja. Biar ga terlalu mancet. Kalo ada di antara kalian yang susah bangun. Otomatis di tinggal."


"Gitu amat Vin."


"Salah sendiri. Terutama kamu Rio. Kalo tidur kaya kebo."


"Nggak lah. Masa aku gitu."


"Tau ah." Kata Alvin yang sudah malas berbicara dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2