Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Kamu Pembohong Mas


__ADS_3

Aya tengah menyiram tanaman setelah mengangkat telpon dari suaminya. Mereka sama saja ternyata. Masih sering berdebat bahkan lebih parah saat tidak ada Aya di tengah mereka. Darwin dan Rio yang ada disana juga tidak melerai. Keduanya hanya pasrah menyaksikan. Aya mengabaikan panggilan yang terus masuk sedari tadi karena Ia mematikannya sepihak. Hari ini Ia akan jalan jalan menikmati liburnya, besok baru bertemu dengan teman Neneknya sesuai dengan janji yang mereka buat. Aya sengaja mengambil waktu 3 hari karena dua hari untuk berlibur seorang diri.


Aya tersenyum menikmati waktu berendamnya di bathup. Ia bahkan sudah lama tidak merasakan mandi sendiri tanpa ada yang mengganggu. Begitu tenang dan santai. Sudah cukup lama. Ia beranjak dan membilas seluruh badannya sampai bersih. Wanita itu menuju walk in closet memakai body lotion. Ia memakai celana jeans dan kaos dipadukan dengan kemeja yang tidak di kancing. Sentuhan terakhir dengan memadukan sepatu kets, topi dan kacamata hitam. Tampilannya seperti seorang remaja di tambah wajahnya yang begitu cantik. Setelah dirasa siap Ia menenteng tas kamera nya untuk bersiap pergi.


Aya mengendarai mobilnya dengan santai. Ia mampir di sebuah kedai bakso sederhana di pinggir jalan. Ia langsung masuk dan memesan.


"Pak. Baksonya satu ya. Minumnya es jeruk."


"Baik Mbak. Silahkan duduk."


"Iya Pak."


"Silahkan Mbak." Penjual itu menyajikan baksonya di meja.


"Iya Pak. Terimakasih."


"Sama sama. Boleh saya duduk disini Mbak?"


"Oh boleh pak. Silahkan."


"Mbaknya bukan orang sini ya?"


"Bukan pak. Saya asli Jakarta. Saya disini tengok bisnis sama ada janji dengan seseorang." Jawab Aya sambil sibuk memotong baksonya.


"Oh."


"Bapak Jualan sudah lama?"


"Lumayan Mbak. Sudah 10 tahun."


"Pantes rame. Bakso bapak juga enak." Kata Aya setelah mencicipi.


"Iya. Itu resep turun temurun Mbak."


"Mbak sudah ada pacar. Kalo nggak mau nggak kenalan sama anak saya. Umurnya sudah banyak tapi belum menikah juga."


"Saya sudah menikah Alhamdulillah. Saya sudah punya dua anak."


"Ah maaf Mbak saya nggak tau. Saya lihat mbak orang baik. Makannya Saya asal saja pengen kenalkan Mbak sama anak Saya tanpa bertanya. Saya sudah pusing soalnya. Anak saya belum nikah juga."


"Tidak apa pak. Semuanya sudah di takdirkan sama Allah. Bapak berdoa saja supaya cepat bertemu jodohnya. Saya sama suami saya juga begitu. Kami tidak menyangka jika kami berjodoh. Kami beda usia 17 tahun. Dulu kami dijodohkan."


"Mbak penurut ya. Mau di jodohkan begitu."

__ADS_1


"Sebenarnya saya juga punya tujuan hidup sendiri pak. Tapi atas dasar balas budi saya ke Nenek saya rela di jodohkan. Karena saya dulu tidak dirawat orang tua saya sendiri. Yang rawat saya Tante, Om, juga kakek dan Nenek saya."


"Oh begitu." Kata penjual itu mendengar cerita Aya.


Aya sibuk memotret susana Malioboro di malam hari. Setelah pergi dari pantai Aya menyempatkan diri untuk mampir di salah satu tempat favoritnya di Jogja.


"Assalamualaikum." Aya mengangkat telpon dari suaminya.


"Aku lagi di Malioboro. Lagi makan sate."


"Sedikit kok."


"Iya. Aku sudah minum. Aku sudah makan juga."


"Maaf sayang. Tadi HP Ibu mati."


"Besok malam Ibu pulang."


"Iya. Kalian mau dibelikan apa?"


"Iya."


"Iya Mas. Sebentar lagi aku pulang. Janji setelah beli oleh oleh aku pulang."


"Iya. assalamualaikum. Love Yo too."


Aya mengakhiri panggilannya langsung bergegas menuju toko oleh oleh.


Aya telah sampai rumah pukul 8 malam. Ia bergegas membereskan belanjaannya dan langsung mandi. Ia sangat lelah dan ingin langsung istirahat.


"Waalaikumsalam Eyang."


"Iya Eyang. Aya sedang dirumah."


"Iya Eyang. Besok Aya ke rumah eyang."


"waalaikumsalam Eyang. Selamat istirahat juga."Aya menutup panggilannya.


Pukul 4 pagi Aya terbangun karena mendengar suara adzan. Ia bergegas mencuci muka dan mengambil wudhu untuk sholat. Selesai melakukan kewajibannya wanita itu pergi ke dapur menyiapkan cake yang semalam Ia buat. Hari ini akan dibawa untuk mengunjungi rumah sahabat neneknya itu. Mereka akan bertemu jam 8 pagi.


Sosok wanita berjalan dengan anggun memasuki pendopo di salah satu rumah sambil menenteng tas tangan dan paper bagnya. Begitu cantik dan elegan dengan kebaya yang melekat sempurna di tubuhnya. Sosok wanita tua berdiri dari kursi langsung menghampiri Aya dan memeluk wanita dua anak itu.


"Eyang kangen kamu nak."

__ADS_1


"Iya juga kangen Eyang."


"Ayo duduk dulu nak."


"Terimakasih Eyang." Keduanya duduk bersama.


"Ini Aya buat khusus untuk Eyang."


"Ini apa sayang?" Tanyanya sambil menerima paper bag dari Aya.


"Ini brownies kesukaan Eyang."


"Terimakasih sayang. Tidak usah repot repot."


"Sama sama Eyang. Tidak repot kok."


"Bagaimana kabar kamu dan keluarga disana."


"Alhamdulillah baik Eyang."


"Nak. Maaf Eyang suruh kamu jauh jauh datang kesini. Ada yang ingin Eyang sampaikan ke kamu." Ia menggenggam tangan Aya.


"Tidak apa Eyang. Apa yang ingin Eyang sampaikan?"


"Eyang memang hanya ingin menyampaikannya ke kamu. Ini amanah dari kakek dan Nenek kamu sebelum mereka pergi." Eyang menyerahkan Map coklat pada Aya.


"Ini apa Eyang?"


"Bukalah Nak. Kamu akan tau semuanya."


Aya membuka map itu dan membacanya dengan teliti. Ia sangat terkejut dengan semua ini.


"Penyelidikannya keluar bulan lalu tepat setelah Nenekmu meninggal. Nenekmu berpesan pada Eyang untuk mengambil hasilnya dan menyampaikan ke kamu. Karena suasana masih berkabung waktu itu Eyang nggak berani


bicara."


Aya menitihkan air matanya yang tak bisa dibendung lagi.


"Apa Mommy sama Daddy tau ini Eyang?"


"Tidak sayang. Hanya suamimu dan keluarga kandungmu yang tau. Suamimu menjanjikan akan memperbaiki hubungan kamu dengan mereka jika mau membantu dalam hal ini."


"Kamu pembohong Mas."Gumam Aya merasa kecewa dengan suaminya sambil melihat kertas wasiat yang Alvin akui di tulis oleh Ibunya.

__ADS_1


__ADS_2