Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Kau Cucuku


__ADS_3

Aya sudah tampil cantik dengan kebaya dan rok batik. Rambutnya di sanggul dengan make up yang sudah melekat sempurna di wajahnya. Wanita itu masih duduk di kamar. Alvin sudah siap dengan pakaian adat Jawa menghampiri istrinya. " Kamu cantik sayang." Katanya sambil berjongkok di depan sang istri.


"Mas juga terlihat tampan." Jawabnya menggoda sang suami.


"Aku memang tampan. Jika tidak tampan, aku tidak mungkin memiliki istri secantik dirimu."


"Iya. Iya. Terserah kau saja."


"Memang begitu. Ayo kesana Sayang. Semuanya sudah menunggu." Alvin membantu istrinya berjalan dengan hati hati. Aya tidak terbiasa memakai rok batik seperti ini. Jadi sedikit kesulitan saat berjalan.


Acara tujuh bulanan ini sudah di siapkan dengan matang oleh semua orang. Semalam sudah mengadakan pengajian dan santunan pada anak yatim dan kaum duafa. Meski setiap bulan mereka berdonasi ke panti, namun istrinya ingin berbaur dengan mereka. Dengan mengundang mereka ke rumah. Sang Istri meminta hal tersebut dan Alvin tentu saja menurutinya. Hari ini adalah acara adat tujuh bulanan yang di selenggarakan dengan adat Jawa. Sesuai dengan adat tanah kelahiran Kakek dan Nenek Aya.


Semua keluarga besar menyambut kedatangan Aya. Memeluk wanita hamil yang tampak cantik itu secara bergantian. Namun ada pelukan yang baru Ia dapatkan. Pelukan yang begitu asing. Pelukan dari seseorang yang belum Ia kenal sama sekali. Seorang wanita paruh baya menatapnya lekat Aya setelah melepaskan pelukannya. Matanya tampak berkaca kaca. "Kau cucuku." Katanya sambil meluruhkan air mata.


"Maaf." Kata Aya kebingungan dengan semua ini.


"Dia Oma dek. Oma kita." Kata Adam menjelaskan kepada adiknya.


"Oma? Kalian tidak pernah bercerita."


Wanita itu memeluk Aya lagi untuk kesekian kalinya. "Maafkan Oma tidak pernah menemuimu. Tapi aku benar benar Omamu Sayang, Ibu dari Mamamu." Bisiknya saat memeluk Aya.


"Mas." Aya menggenggam tangan suaminya. Ia tidak begitu terbiasa dengan orang asing.


"Oma tinggal di Bali sayang. Mulai sekarang Oma akan tinggal dengan Mama karena di sana hanya tinggal sendiri. Opa kamu sudah lama meninggal. Bertahun tahun sebelum kamu pulang kesini. Oma akan tinggal dengan Mama katanya agar lebih mudah menemuimu juga." Jelas Mama pada Aya.


"Ayo kita mulai acaranya." Kata Nenek memecah kecanggungan.


Acara di mulai dengan siraman dan di lanjutkan dengan acara acara lain sesuai dengan urutan yang sudah di tentukan. Aya hanya mengikuti semuanya di dampingi oleh sang suami. Karena jujur Ia tak begitu mengerti. Acara berlangsung dengan bahasa Jawa. Aya hanya tersenyum tanpa mengerti apa yang di bicarakan. "Kamu tau artinya Yang?" bisik Alvin pada istrinya.


"Tidak. Satu katapun aku tidak tau artinya. Kamu tau?"


"Sedikit." Jawab Alvin sambil terkekeh. Karena masa kecilnya pernah tinggal di Jawa sebelum di ajak pindah ke luar.


Semua keluarga tengah mengobrol selesai makan malam bersama. Mereka akan menginap semalam di sini. Alvin tengah menunggu istrinya yang sejak tadi belum menghabiskan susunya. "Ayo dong Yang dikit lagi."

__ADS_1


"Bentar Mas. Aku napas dulu. Aku kekenyangan tau."


"Kekenyangan apanya. Tadi kamu makan sedikit."


Aya menghabiskan susunya dengan segera sebelum suaminya mengomel terlalu lama.


"Pelan pelan dek nanti tersedak." Kata Zahwa pada iparnya.


"Bagus." Kata Alvin beranjak untuk menyimpan gelas bekas istrinya.


"Sayang kamu mau sesuatu?" Tanya Oma pada cucu perempuan satu satunya.


"Ah tidak. Sedang tidak ingin apapun."


"Es krim mau kak?" Tawar Darren pada kakaknya.


"Jangan Coba coba." Peringat Alvin yang baru datang langsung duduk di samping istrinya.


"Sayang kamu istirahat gih. Dari tadi kamu belum istirahat."


"Iya nih. Dari tadi aku suruh istirahat dia ga mau."


"Aku nggak capek Mas."


"Aku pijitin ya."


"Nggak usah. Aku ga papa kok." Tolak Aya halus pada suaminya.


"Sekarang udah nggak ada yang aneh aneh lagi kan Vin?"


"Aneh aneh apa maksudnya?" Tanya Papa penasaran.


"Itu, kiriman paket tanpa identitas untuk Aya." Jelas kakek.


"Udah enggak. Udah aman sekarang."

__ADS_1


"Bagus. Lain kali kalo ambil keputusan di selidiki dulu." Kata Daddy pada menantu sekaligus adiknya itu.


"Iya. Aku ceroboh. Lain kali ga akan terulang lagi." Kata Alvin penuh penyesalan.


"Kak. Kakak tau nggak. Selama kakak nggak ada Mommy selalu marah marah sama kita." Adu Ano pada Aya.


"Apa iya?" Tanya Aya sambil mengelus kepala kedua adiknya yang duduk berdampingan di samping kirinya. Ia tau betul Mommy nya tidak akan marah jika kedua adiknya tidak membuat kesalahan.


"Heh. Jangan Ngadi Ngadi kalian." Kata Mommy tidak terima.


"Tuh kan. Mommy marah lagi." Kini Darren yang angkat bicara.


"Sayang jangan dengerin adik adik kamu. Gimana Mommy ga marah. Sekarang mereka sering bolos. Nilainya juga merosot gara gara kebanyakan main game online."


"Daddy nggak nasihatin?" Tanya Aya pada Daddy-nya.


"Sudah tapi ya begitulah. Tidak di dengarkan."


Jawab nya pasrah.


"Kenapa kalian bolos ha. Tidak baik tau. Banyak anak yang pengen sekolah. Kalian beruntung bisa sekolah. Fasilitas juga lengkap tanpa kurang apapun. Jadi jangan seperti itu." Tutur Aya lembut. Mereka semua tersenyum akan sikap Aya sekarang. Gadis manja itu sudah berubah menjadi wanita yang dewasa.


"Maaf Kak." Lirih keduanya.


Aya memeluk keduanya "Jangan minta maaf sama kakak. Minta maaf sama Mommy sama Daddy karena mereka yang kalian buat pusing."


Ano dan Darren beranjak dari duduknya setelah Aya melepaskan pelukan. Mereka berjalan ke arah sepasang suami istri itu.


"Maaf Mom,Dad."


"Hah sini sini. Kalian buat Mommy pusing aja." Mommy dan Daddy memeluk kedua anaknya.


"Lain kali kalo di ulangi lagi. Mommy sama Daddy ga akan segan untuk menghukum kalian."


"Iya." Jawab keduanya kembali duduk di samping Aya.

__ADS_1


"Ibu muda hebat juga ya." Bisik Alvin pada telinga istrinya membuat Aya terkekeh pelan.


__ADS_2