Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Aku Jawab Nanti. Sekarang Masih Malas


__ADS_3

Alvin berkali kali mengubah posisi tidurnya. Tanpa kehadiran sang istri matanya begitu sulit terpejam. Pintu kamarnya terbuka. Alvin langsung bangkit dan menghampiri istrinya.


"Kamu datang Yang. Aku kira kamu tidur sama mereka." Alvin memeluk Aya dan mencium keningnya.


"Duduk dulu. Aku cuman pengen tanya sesuatu sama kamu."


Alvin dan Aya kini duduk di sofa.


"Mau tanya apa Yang?"


"Aku harap kamu jawab dengan jujur. Niatan apa kamu suruh anak anak ke pondok pesantren? Aku rasa alasan kamu yang kemarin kemarin tidak merujuk ke alasan utamanya."


"Sebenarnya...."


"Apa Mas. Ngomong yang jelas."


"Sebenarnya aku kirim mereka ke pesantren Karna pengen berdua aja sama kamu."


Aya memijit pelipisnya pelan mendengar jawaban dari sang suami.


"Kamu keterlaluan tau nggak. Kamu ini Ayah atau bukan sih. Aku perhatiin selama ini kamu nggak ada sayang sayangnya sama anak. Kamu cuman manfaatin mereka untuk bisa tetap bersama aku seperti waktu itu Mas? Kamu belum berubah juga? Kalo kamu nggak pengen adanya mereka bilang Mas. Aku bisa rawat mereka sendiri." Kata Aya membuat Alvin tersentak.


"Aku sayang sama mereka Yang. Aku Ayahnya. Bagaimanapun kalian adalah harta paling berharga dalam hidup aku. Kamu jangan ngomong gitu dong. Kita rawat mereka sama sama. Aku minta maaf karena egois. Aku janji akan berubah." Alvin menggenggam tangan istrinya.


"Udah aku mau ke kamar Ara." Bangkit dari duduk.


"Jangan marah dong Yang." Mengikuti langkah sang istri.


"Kamu tidur sendiri."


"Tapi Yang. Tidur sendiri aku bilang. Jangan buat aku makin marah Mas."


"Yaudah Aku tidur di sini." Alvin memberi kecupan singkat sebelum istrinya pergi.


"Ibu darimana?" Tanya Ara.


"Kamu kebangun sayang. Ibu habis minum sebentar." Bohongnya.


"Kita tidur lagi Ibu."


"Iya sayang. Kita tidur lagi." Aya memeluk kedua anaknya. Ia menatap kedua anak yang tengah tertidur dengan tenang itu. Mereka sangat manis dan penurut. Aya sangat menyayangi kedua anaknya lebih dari apapun. Entah kenapa suaminya tidak demikian. Aya merasa Alvin tidak begitu memperhatikan anak anaknya. Memikirkan jalan pikiran sang suami membuat kepalanya pusing. Ia memejamkan mata dan menyusul kedua anaknya menuju alam mimpi.


Sejak pagi tadi Alvin dibuat gelisah dengan sikap istrinya. Aya begitu cuek, padahal Alvin sudah meminta maaf berkali kali karena masalah semalam.


"Yang aku minta maaf. Aku akan rubah sikap aku."


"Dimakan sarapannya. Nanti kamu telat. Aku mau ke kamar anak anak dulu."


Kata Aya berlalu pergi setelah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Alvin menghembuskan nafasnya pelan kemudian memakan sarapannya.


Alvin menghampiri istrinya di kamar Ara.


"Yang aku berangkat dulu ya."


"Iya." Kata Aya mencium tangan suaminya.


"Sayang Ayah berangkat dulu ya."


"Iya. Ayah hati hati." Alvin mencium kening kedua anak dan istrinya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab mereka bersamaan.


Alvin tak bisa berkonsentrasi saat di kantor. Pikirannya hanya tertuju pada Istrinya. Raut wajah kecewa yang ditampakkan Aya malam itu terus berputar di ingatannya.


"Huft...." Menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


"Kenapa Vin?" Tanya Rio entah sejak kapan sudah berdiri di depan meja kerja sahabatnya.


"Vin." Panggil nya lagi.


"Eh..sejak kapan kamu disitu."


"Sejak tadi. Kenapa ngelamun Mulu. Ada masalah?"


"Nggak. Cuman capek aja."


"Alah ga usah bohong. Aku tau kamu ada masalah."


"Istriku marah. Dari semalem aku di cuekin."


"Emang perkaranya apa?"


"Dia tau kalo aku ngirim anak anak ke pesantren Karna punya maksud lain."


"Maksud lain apa?"


"Nggak mungkin kamu nggak tau."


Rio tertawa mendengar jawaban sahabatnya.


"Lagian kamu emang kebangetan jadi orang. Kalo anaknya ngga mau kasih aku aja."


"Jangan sembarangan kamu. Aku sayang sama mereka. Cuman butuh quality time aja bareng istri."


"Ya nggak gitu juga caranya Vin."


"Udah ah. Sana pergi. Malah bikin pusing ngomong sama kamu."


"Iya. Iya." Kata Rio berlalu pergi meninggalkan ruangan sahabatnya.


"Assalamualaikum." Alvin memasuki rumah.


"Waalaikumsalam Tuan."


"Nyonya sedang di kebun buah bersama Tuan dan Nona muda. Tadi Nyonya berpesan pada saya jika keperluan Tuan dan makan siang sudah disiapkan."


"Iya." Alvin bergegas pergi ke kamarnya.


"Jangan lompat lompat sayang. Nanti jatuh."


"Ibu Ara mau jeruk tapi nggak sampai."


"Ibu ambilkan."


"Duduk yuk. Dah banyak ini." Ajaknya pada Zam dan Ara.


"Iya."


Aya dan kedua anaknya duduk bersama di bangku. Ia mengupaskan buah untuk kedua anaknya.


"Ibu. Kita tidak akan ke pesantren lagi kan?"


"Enggak. Kalian sekolah di tempat biasa saja."


"Makasih Ibu." Keduanya memeluk Aya erat.


"Sama sama Sayang. Ngomong ngomong kalian di sana sudah belajar apa saja?"


"Belajar mengaji."


"Sudah itu saja?"


"Iya."

__ADS_1


Alvin menghampiri kedua anak dan istrinya.


"Yang."


"Ayah sudah pulang."


"Iya Sayang." Alvin mencium kening kedua anak dan istrinya.


"Sudah makan?"


"Belum."


"Kenapa?"


"Nunggu kamu."


"Aku nggak lapar. Kamu aja Mas. Aku udah siapin."


"Nanti kamu sakit Yang."


"Nanti kalau lapar juga makan." Jawab Aya tanpa memandang suaminya. Ia masih kesal tentang tingkah suaminya. Ia akan memberi pria itu sedikit pelajaran.


"Ibu. Kata Pak Kyai 3 hari lagi puasa ya?"


"Iya."


"Kita ikut puasa seperti tahun lalu. Puasa penuh."


"Kalau puasa di bangunin sahur jangan malas ya."


"Iya Ayah."


"Nanti kalau kalian niat puasa sungguh sungguh. Ngaji dan sholatnya rajin. Ibu kasih hadiah pas lebaran."


"Beneran Ibu?" Tanya mereka dengan mata berbinar.


"Ibu mana pernah bohong."


"Makasih Ibu. Kita akan rajin ibadahnya."


"pinter." Alvin mengusap kepala mereka.


"Yang. Temenin makan dong."


"Makan sendiri. Aku sibuk."


"Kamu kok gitu. Aku lapar ini. Kalo kamu nggak temenin aku nggak mau makan."


"Ayah kan udah besar. Makan sendiri lah."


"Ayah mau di temani Ibu."


"Yaudah." Kata Aya menuruti suaminya.


"Ayo kalian masuk juga."


"Iya Ibu."


Aya menyuapi suaminya di ruang makan. Sementara kedua anaknya sedang menonton film di ruang keluarga. "Kamu masih marah?" Tanya Alvin pada istrinya yang sedaritadi hanya diam.


"Kamu jangan diemin aku kaya gini dong Yang. Aku tau aku salah. Aku minta maaf."


"Yang. Jangan gini lah. Di diemin sama kamu nggak enak."


"Yang. Jawab dong. Kamu tega banget sama aku." rengek Alvin karena tidak mendapatkan jawaban dari sang Istri.


"Udah. Lanjut makannya. Jangan merengek kaya gitu."

__ADS_1


"Kamu belum jawab aku Yang."


"Aku jawab nanti. Sekarang masih malas." Kata Aya melanjutkan menyuapi suaminya.


__ADS_2