Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Jangan Cengeng. Aku Ga Suka


__ADS_3

Pagi pagi Alvin sudah memarahi pekerja di rumahnya.


"Kok bisa mati bagaimana? Nanti kalo terjadi sesuatu pada keluarga saya kalian mau tanggung jawab?"


"Maaf Tuan. Ada kesalahan teknis pada sensor dan CCTV di rumah."


"Saya nggak mau tau. Cepat perbaiki."


"Baik Tuan." Kata Mereka membubarkan diri.


"Mas. Ikut Aku." Kata Aya tajam pada sang suami.


Alvin mengikuti langkah kaki istrinya.


Mereka berdua tengah berada di kamar sekarang. Alvin memeluk istrinya dari belakang.


"Ada apa Yang?"


"Duduk." dengan nada tegas.


"Yang. Aku pengen peluk kamu."


"Duduk aku bilang."


Alvin duduk sesuai dengan kemauan istrinya.


"Kenapa kamu pagi pagi udah marah marah kaya gitu. Kamu tau kan ini bulan puasa."


"Mereka yang salah Yang. Gimana aku nggak kesal. CCTV sama keamanan di rumah kita mati semua. Mereka lalai dalam kerja."


"Kan bisa di bicarakan baik baik. Ga usah teriak teriak begitu. Mana janji kamu mau kontrol emosi. Nyatanya sama aja. Kalo sampai anak anak denger gimana."


"Maaf Yang. Kamu jangan marahin aku gitu dong."


"Astaga Mas. Aku cuman nasehatin kamu. Aku nggak marahin kamu. Kamu jadi laki kok ya lembek gini sih. Tadi aja marah marah." Kata Aya melihat suaminya sudah berkaca kaca.


"Jangan galak galak dong sama aku. Aku janji ini kali terakhir. Aku nggak akan ngulangin lagi."


"Janji Mulu kamu."


"Aku minta maaf Yang. Aku salah. Lain kali nggak lagi. Beneran deh. Asalkan kamu jangan marah sama aku." Alvin memeluk istrinya.


Kepala Aya pening memikirkan tingkah suaminya. Pria itu kadang begitu keras namun jika Aya nasihati akan berubah seperti sekarang ini. Sangat tidak dewasa malah cenderung seperti anak kecil jika di depannya. Bahkan suatu ketika Alvin pernah menangis karena dimarahi Aya saat pria itu membuat kesalahan.


"Dah. Jangan cengeng. Aku ga suka."


"Jangan marah lagi." Alvin merengek.


"Iya. Lagian aku cuman nasehatin kamu. Jadi orang jangan suka marah marah. Waktu itu kan kamu udah janji sama aku kalo bakal jaga emosi. Sekarang kok balik lagi kaya dulu emosinya."


"Aku cuman kebawa suasana Yang. Aku khawatir."


"Dah Mas. Itu juga bukan kesalahan mereka. Mereka sudah bekerja dengan baik selama bertahun tahun. Kamu hargai orang lain dong."


"Iya. Maaf."


"Kamu nggak malu apa kaya anak kecil gini?"


"Kan cuma sama kamu."


"Udah ah aku mau belanja."


"Kemana?"

__ADS_1


"Ke Mall buat beli isian parcel untuk yang kerja di rumah kita. Semalam kita kan udah bahas itu. Dan kamu juga sudah setuju. Jadi jangan ingkar janji."


"Kenapa nggak suruh orang aja sih Yang."


"Kamu udah janji."


"Yasudah. Ayo kalo gitu."


"Kamu ganti baju. Aku panggil anak anak dulu."


"Iya." Sekitar 15 menit bersiap, Alvin dan Aya beserta kedua anaknya langsung berangkat untuk berbelanja.


Selama dua jam mereka berkeliling mall membeli apa yang dibutuhkan.


"Zam sama Ara mau apa sayang?" Tanya Aya sebelum membayar belanjaan.


"Enggak pengen apapun Ibu."


"Beneran?"


"Iya."


"Kita pulang kalo gitu."


"Tunggu Ayah. Kita pengen ke pantai dulu. Boleh kan?"


"Boleh. Tapi jangan lama lama ya. Panas benget soalnya. Nanti kalian kehausan."


"Iya. Ibu."


Sampai di pantai Alvin dan Aya duduk berdua sambil menjaga anak anaknya.


"Jangan terlalu dekat air ya. Nanti basah."


"Iya Ibu."


"Anak kalo di ajak bicara halus pasti nurut."


"Emang aku kurang halus bicara sama mereka?"


"Emang mereka pernah ga nurut sama kamu?"


"Engga juga sih."


"Ibu pulang yuk." Ara dan Zam menghampiri kedua orangtuanya.


"Kenapa? Kan baru sebentar."


"Dah capek Bu. Nanti kehausan."


"Yaudah. Kita pulang."


"Ayah. Ibu mana?" Tanya keduanya memasuki kamar Alvin dan Aya.


"Ada apa? Ibu lagi cuci tangan."


"Penting Ayah."


"Ada apa sih rame benget." kata Aya baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ibu Ara mau tanya sesuatu."


"Duduk dulu."

__ADS_1


"Iya Ibu."


"Mau tanya apa?" Aya mengelus kepala anak anaknya.


"Ibu. Ara tadi waktu wudhu telan air. Batal tidak?"


"Ara melakukannya sengaja atau tidak?"


"Tidak Ibu. Tadi kakak Zam ngagetin Ara."


"Tidak batal Sayang. Kan waktu itu Ustadz sudah bilang."


"Iya juga. Ah Ara lupa."


"Kalian sudah sholat?"


"Sudah Ibu."


"Tidur siang gih. Biar lapar atau hausnya nggak berasa."


"Tidur sama Ibu ya."


"Iya."


"Ayah nggak di ajak nih?"


"Kalau Ayah mau ikut juga gapapa."


Alvin menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya. Mereka terus menempel pada Aya.


"Ibu kenapa kenapa parcelnya banyak sekali?" Tanya Zam sedang membantu Ibu dan Ayahnya membungkus parcel.


"Ini untuk Bibi dan Paman yang bekerja di rumah sayang."


"oh. Ada acara apa Ibu memangnya?"


"Tidak ada acara apa apa sayang. Ini hadiah hari raya untuk mereka. Kita ada rezeki. Baiknya di bagikan."


Zam dan Ara menganggukkan kepala paham. Sementara Alvin hanya tersenyum melihat kesabaran istrinya menjawab banyak pertanyaan dari anak anak.


"Kenapa ga suruh bungkus orang lain aja sih Yang. Kamu kan ga perlu capek capek."


"Ga papa Mas. Aku pengen aja. Mereka kan lagi sibuk juga. Oh iya Mas. Kamu bayar zakatnya kapan?"


"Iya lupa. Besok deh aku bayar."


"Zakat apa Ibu?"


"Zakat fitrah."


"Bukan Zakat yang tiap bulan Ayah bayar ya?"


"Bukan Sayang. Itu beda lagi. Zakat fitrah itu zakat wajib yang dikeluarkan selama bulan Ramadhan. Hukumnya wajib bagi setiap muslim. Kalo Zakat yang Ayah bayar setiap bulan itu Zakat penghasilan sayang. Diambil dari pendapatan Ayah setiap bulannya."


"Oh. Masih ada lagi jenis Zakat Ibu?"


"Masih ada. Zakat Mal atau zakat harta. Dibayar setiap tahunnya. Untuk membersihkan harta."


"Ternyata jenis Zakat banyak ya Ibu?"


"Iya. Kalian kalo mau besok bisa ikut Ayah bayar Zakat."


"Boleh Ayah?"

__ADS_1


"Tentu saja boleh." Jawab Alvin.


Ia terkesan dengan istrinya. Begitu telaten meladeni keingintahuan sang anak. Harusnya sebagai seorang Imam Ia bisa menjadi teladan yang baik. Memberikan ilmu untuk istri dan anak anaknya. Ia merasa belum cukup baik sebagai seorang suami dan Ayah. Betapa beruntungnya Alvin memiliki istri seperti Aya.


__ADS_2