
Hari ini Alvin mengunjungi Mall ditemani istrinya. Keduanya memasuki Mall disambut ramah oleh semua orang.
"Mau ngapain kita Mas?"
"Mau keliling."
"Ih kaya nggak ada kerjaan aja."
"Mampir beli kaos kaki ya Mas. Kaos kaki Zam ilang."
"Dia taronya sembarangan aku buang."
"Kamu."
"Iya. Kita beli."
Alvin tak berhenti merangkul pinggang istrinya. Karena jika menggandeng tangan Aya, Ia akan dikira ayahnya seperti kemarin.
Aya membeli beberapa pasang kaos kaki untuk masing masing anaknya.
"Udah. Kita beli baju buat anak anak juga."
"Iya." Kata Alvin hanya menurut.
"Yang." Panggil Alvin.
"Iya."
"Beli itu ya."
"Apa?" Aya mengikuti sorot mata suaminya yang tertuju pada toko yang menjual berbagai macam dan model lingerie.
"Jangan macem macem kamu. Ayo pergi."
"Lah...." Alvin tampak kecewa.
"Tuan Alvin." Sapa seseorang.
"Tuan James. Apa kabar?" Keduanya berjabat tangan.
"Baik. Bagaimana dengan Tuan. Lama tidak bertemu."
"Alhamdulillah Baik. Perkenalkan ini istri saya."
"Aya."
"James." Jawab Pria tua itu sambil bersalaman.
"Ayo duduk dulu."
"Baik Tuan James." Mereka menikmati minum sambil mengobrol.
Aya merasa bosan memutuskan untuk ke toilet.
"Mas aku ke toilet ya."
"Iya hati hati."
"Permisi Tuan."
"Silahkan Nona."
"Istri anda masih muda Tuan."
"Iya. Kalau kita jalan berdua saya dikira Ayahnya." Mereka tertawa bersama.
"Anak usia berapa?"
"Sudah 17 sekarang."
"Dengar dengar kembar ya?"
"Iya cowok cewek."
"Langsung dapat sepasang."
"Iya."
"Bagaimana menjadi orang tua?"
__ADS_1
"Ya seperti inilah. Tapi saya jarang mendidik mereka. Istri saya yang berperan dalam masalah mendidik anak. Makannya mereka nurutnya sama istri. Apalagi yang cewek, kalo belum istri saya turun tangan dia belum nurut juga."
"Anak tuan Felix ikut Tuan Daniel sekarang?"
"Iya. Kami sepakat untuk menjadikan Daniel anak."
"Ya saya sudah tau kisahnya. Kasihan anak itu."
"Iya."
Setelah temannya berpamitan Aya belum juga kembali membuat Alvin khawatir. Ia langsung mengecek CCTV di pos penjaga. Istrinya sedang berkeliling dengan leluasa tanpanya. Alvin mengambil Mic untuk membuat pengumuman.
"Untuk Nyonya Ayara Syailendra Alexander silahkan menuju ke sumber suara di pos penjaga lantai 1 karena suaminya menunggu di sini." Alvin sampai mengulanginya beberapa kali.
Seketika Aya menjadi pusat perhatian. Ia berjalan cepat sambil memakai maskernya menahan malu. Wanita itu segera menuju ke pos penjagaan untuk bertemu suaminya.
Aya berjalan menuju Alvin yang tersenyum tak berdosa. Pria itu ingin sekali tertawa melihat istrinya yang malu. Namun sebisa mungkin Ia menahan untuk menjaga wibawa dan juga etika.
"Mas bikin malu." Lirih Aya saat sudah berada di depan Alvin.
"Gitu aja malu."
"Ih nyebelin. Ayo pulang."
"Iya. Lagian kamu tuh pamitnya ke toilet malah kelayapan."
"Kan masih di sekitar Mall."
"Aku khawatir."
"Tau ah." Jawab Aya cemberut.
Keduanya sampai di rumah.
"Udah ah jangan ngambek gitu."
"Mas nyebelin. Aku malu tau."
"Maaf. Maaf." Alvin memeluk istrinya.
"Makasih Ibu." Ketiga anak Aya memeluknya erat.
"Iya Ibu."
"Eh...Bukan Ilang dibuang Ayah."
"Iyalah Ayah buang. Taro sembarangan."
"Ini semangkanya Nyonya." seorang pelayan menghampiri Aya.
"Makasih Bi."
"Sama sama Nyonya. Saya permisi."
"Iya Bi."
"Nggak ada yang pada mau nih?"
"Kita udah makan tadi."
"Yaudah buat Ibu aja." Aya memakan semangkanya dengan semangat.
"Kaya bocah aja berantakan." Alvin mengelap bibir istrinya.
Sore hari Aya tengah berkumpul dengan anak anak dan suaminya di halaman belakang.
"Ini es batu sama gula cairnya." Zam dan Ara baru datang. Rencananya mereka akan membuat es kelapa muda.
"Mas pecahin kelapanya."
"Aku?" Tunjuk Alvin pada diri sendiri.
"Iya."
"Kenapa nggak suruh.."
"Kamu kan ada."
"Iya. Iya."
__ADS_1
Alvin menuruti keinginan istrinya. Pria itu tampak kesulitan.
"Biar Daniel aja Yah."
"Kamu bisa?"
"Daniel coba." Daniel dengan cepat membuka kelapa muda itu.
"Pinter kamu Niel. Sayang airnya di masukin ke es batu kasih gula."
"Iya Ibu." Jawab Ara patuh.
Aya menggambil daging buah kelapa dengan sendok kemudian mencampurkannya ke dalam air kelapa yang sudah di beri es dan air gula.
"Es nya udah jadi."
Mereka menikmati es kelapa muda sambil makan durian.
"Yang ini nggak manis." Kata Zam.
"Itu Ayah kalian yang pilih."
"Kok aku Yang."
"Tadi kan kamu yang pilih paling besar itu. Aku ma pilihnya yang kecil kecil."
"Iya. Kamu makannya jangan banyak banyak."
"Iya. Lima lagi aja."
"Enggak boleh 1 aja lagi. kamu udah makan banyak tadi. Nanti perut kamu sakit."
"4 deh."
"Satu."
"3 kalo gitu."
"Satu cukup."
"2 deh Mas. Please."
"Dua yang kecil."
"Yah...." Keluh Aya.
"Minggu depan kalian libur semester kan?"
"Iya Ibu."
"Kita liburan gimana?"
"Mau.. Tapi jangan ke luar negri. Bosen. Kita ke Jogja aja."
"Kita berdua ke bali Yang. Mereka biar ke Jogja." ucap Alvin tanpa bersuara.
"Oh No..No..." Kata Aya membalas ucapan suaminya.
"Yaudah kita ke Jogja. Ibu juga kangen bakpianya."
"Ini liburan pertama Daniel." Katanya sangat senang.
"Kamu seneng?"
"Iya Ibu. Makasih."
"Sama sama."
"Aku kasih izin liburan kesana. Ada beberapa syarat yang harus di patuhi. Ibu negara harus dengar baik baik. Jangan masuk kuping kanan keluar kuping kiri."
"Mas..."
"Yang pertama. Tidak boleh jalan jalan sendiri. kemanapun pergi harus sama suami. Yang kedua tidak boleh jajan sembarangan."
"Tapi Mas.."
"Yang ketiga nggak boleh telat makan. Yang keempat yang paling penting. Jangan sampai telat minum obat. Setuju kita pergi kalo nggak setuju nggak jadi."
"Iya jadi. Setuju." Ucap Aya cepat.
__ADS_1
"Bagus." Alvin mengusap lembut kepala istrinya.