Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Hati yang Saling Terikat


__ADS_3

"Sayang. Ayah sama Ibu mau bikin kue dulu ya. Kalian main sama Om Darren sama Om Ano dulu."


"Iya."


"Ano, Darren. Tolong jagain mereka dulu ya. Kakak mau ke dapur dulu bikin kue buat ultahnya Om Rio sama Om Darwin."


"Emang ultahnya barengan kak?"


"Iya."


"Jangan jangan mereka kembar lagi."


"Nggak lah. Orang lahirnya beda tahun. Dah ah Kakak mau ke dapur dulu."


"Iya."


"Yang. Kuenya tidak boleh lebih bagus dari ulang tahunku kemarin." Kata Alvin.


"Iya. Iya."


Alvin melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Aya. Pria itu menaruh dagunya di pundak sang istri yang tengah sibuk memasukkan bahan adonan ke stand mixer.


"Yang."


"Iya."


"Kamu cinta kan sama Aku?"


"Dah sejauh ini Mas. Pertanyaannya itu mulu."


"Barangkali cinta kamu mulai pudar. Aku akan lakukan apapun untuk memperbaikinya."


Aya hanya tersenyum menanggapi suaminya.


"Mau bilang kalau kamu dah tua nanti aku bakalan ninggalin kamu. Mas, kamu tau nggak. Aku nggak mau jadi istri durhaka. Aku akan setia sama kamu. Bahkan jika kamu tua nanti aku juga akan merawat dan menemani kamu." Jelasnya panjang lebar tanpa menoleh.


Alvin begitu bahagia mendengar kata kata dari istrinya. Ia mengecup pipi Aya beberapa kali dan mengeratkan pelukannya.


"Dah ah. Sana ambilin loyangnya."


"Iya. Iya." Alvin mengecup pipi istrinya sebelum pergi.


"Yang mana yang?"


"Yang kotak. Semua ukuran bawa sini."


"Ok."


Setelah jadi Aya menata kuenya dan melapisi dengan lelehan coklat. Ia juga menghiasnya hingga tampilannya benar benar cantik.


"Ih kok bangus sih Yang."


"Masih bagus punya kamu waktu itu. Punya kamu waktu itu bagus banget." Kata Aya meyakinkan suaminya.


"Masa sih?"


"Iya."

__ADS_1


Malam hari Rio dan Darwin baru saja datang ke rumah Alvin. Begitu sepi tidak seperti biasanya. Lampu di dalam rumah juga mati.


"Apa Alvin sama yang lain nggak di rumah ya?"


"Mana aku tau. Kan aku juga datangnya sama kamu."


"Kita masuk ajalah." Kata Rio sambil membuka pintu.


Keduanya berjalan dalam kegelapan hanya bermodalkan cahaya dari ponsel yang di pegang Rio. Beberapa saat kemudian lampu menjadi terang. Terdapat kue ulang tahun cantik dan nasi tumpeng yang memenuhi meja kaca besar.


"Selamat Ulang Tahun." Ucap mereka menyalami kedua orang yang masih terbengong itu.


"Heh. Kesambet kalian?"


"Om Rio sama Om Darwin kemasukan setan?" Kata Darren melihat tingkah aneh kedua orang itu.


"Nggak. Kemasukan jin." jawab Ano.


"Ah iya. Terimakasih banyak." kata keduanya setelah tersadar.


"Kalian harus berterimakasih sama istriku.Dia yang masak ini semua."


"Benarkah. Terimakasih Aya." Kedua pria bujang itu memeluk Aya bersamaan.


"Sama sama Om."


"Heh. Apa apaan kalian. Mencari kesempatan dalam kesempitan." Kata Alvin melepaskan pelukan ketiganya.


"Kita kan Om nya Vin."


"Modus memang. Itu kalian."


"Ini enak banget." Kata Rio di sela sela makannya.


"Iya." Ucap Darwin menyetujui.


"Kakak yang buat pasti enak."


"Makasih ya udah rayain ulang tahun kita. Aku nggak pernah di perhatikan kaya gini." kata Darwin sungguh terharu mendapatkan kejutan seperti ini.


"Sama sama Om. Kita kan keluarga."


"Uh Ayaku memang cantik dan baik." Darwin memeluk Aya gemas sambil mengelus kepalanya lembut.


"Heh. Lepaskan Istriku."


"Iya iya. Galak amat."


"Ibu." kata bocah tiga tahun itu menghampiri Aya.


"Oh kalian bangun Sayang. Sini sini." Mereka duduk di pangkuan Aya.


"Om Darwin sama Om Rio ulang tahun sayang. Ucapin gih. Kasih selamat." Tutur Aya kepada kedua buah hatinya.


"Iya."


Mereka mendekat dan berjalan ke arah Rio dan Darwin. Kedua bocah itu memeluk mereka bergantian.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun Om. Semoga sehat dan panjang umur."


"Terimakasih sayang." Membalas pelukan si kembar.


"Duduk sama Om sini. Om pangku."


"Mau sama Ibu." Katanya kembali lagi ke pangkuan Aya.


"Kalian nggak kangen Mommy? Udah seminggu lo Mommy balik lagi ke New York." Tanya Aya kepada kedua adiknya.


"Enggak kak. Kan sering video call juga."


"Emang ngurus apa lagi sih. Kok balik ke sana lagi? Baru juga seminggu pulang."


"Nggak tau. Paling juga perusahaan Ayah."


"Ayah udah tua juga masih aja ikutan ngurus perusahaan."


"Biarin. Dikasih tau juga nggak di dengerin." Jawab Alvin pada Rio.


"Oh hampir lupa. Om Ini kado dari kita. Semoga suka." Aya menyerahkan dua kotak untuk Darwin dan Rio.


"Wah ada hadiahnya juga." Katanya terlihat sangat senang.


"Boleh buka?"


"Boleh."


"Aku buka duluan." Rio sangat bersemangat membukanya.


"Makasih." Katanya sambil berkaca kaca. Ia sangat menginginkan jam tangan ini. Namun terlalu sayang uang. Harganya sangat mahal, setara setahun gajinya. Namun, di malam ini Ia benar benar dapat menyentuh dan memilikinya. Rio menepuk kedua pipinya untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi.


"Terimakasih Ya. Aku aja sayang pake uang tabungan untuk beli ini. Ya meskipun ada. Aku juga bisa beli beberapa. Tapi sayang aja. Tapi disisi lain aku pengen banget. Kenapa kalian belikan? Inikan sangat mahal."


"Mas Alvin cerita. Katanya Om suka jam tangan itu. Sampai kebawa mimpi juga."


"Hush Aya. Aku malu. Makasih ya."


"Sama sama."


"Om Darwin kadonya ga mau di buka juga?" Kata Ano mengingatkan.


"Ah iya. Aku buka." Darwin membukanya perlahan. Ia terbengong sebentar lalu tersadar. Entah darimana Ia harus memulai. Ia begitu bahagia sekarang.


"Kalian dapat ini darimana?"


"Adalah. Yang penting nggak nyuri."


"Makasih ya. Aku nggak nyangka bakal dapat hadiah spesial kaya gini di hari ulang tahun ku."


"Sama sama Om."


"Untuk cari guci yang kamu inginkan itu sulit tau. Sangat langka. Untung teman aku punya kenalan."


"Makasih banget. Aku cari ini udah lama. Tapi nggak ada hasil."


"Ini berarti rejekinya Om."

__ADS_1


Darwin sangat bahagia. Belum pernah ada yang merayakan hari ulangtahunnya. Bahkan ingat saja tidak. Ia mengamati satu demi satu wajah mereka masing masing. Ia akan mengingat wajah itu sampai kapanpun. Ternyata keluarga tak hanya melulu tentang aliran darah yang mengalir di tubuh mereka. Kadang yang sedarah akan jadi lawan dan orang lain justru akan menjadi teman. Darwin sadar bahwa inilah keluarga yang sesungguhnya. Meskipun hanya orang asing yang tak memiliki ikatan apa apa. Namun, hati yang saling terikat merupakan kunci dari segalanya.


__ADS_2