Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Pengakuan


__ADS_3

Mobil Alvin berhenti di halaman mansion. Ia segera membukakan pintu untuk istrinya dan membatu Aya turun dengan hati hati.


"Kakak." Kedua remaja itu berlari memeluk Aya.


"Kalian, kakak kangen tau." Aya membalas pelukan adik adiknya.


"Kita juga."


"Heh.Jangan lama lama kakak Aya lagi hamil."


Kata Alvin pada Darren dan Ano.


"Apa hubungannya?"


"Ah kalian nggak akan paham."


"Sayang kamu kok kesini. Kalo kamu kangen kan tinggal bilang. Kita bisa kesana. Kamu lagi hamil lo. Jangan capek capek." Omel Mommy langsung memeluk putrinya.


"Sudah aku bilangin tapi ngeyel." Kata Alvin.


"Masuk yuk. Jangan di luar aja." Daddy melepaskan pelukannya dari Aya.


" Iya."


Semua keluarga sedang berkumpul di ruang tengah. Mama, Papa, Adam dan Zahwa turut hadir di sana.


"Kamu hamil kok kurus gini dek? Makannya ga teratur ya?"


"Emang nggak makan nasi. Mual kalo makan nasi."


"Apa iya dek?" Tanya Adam memastikan jawaban suami adiknya itu.


"Iya. Suka eneg gitu kalo makan nasi."


"La terus kamu makan apa dong? jangan sampai nggak makan." Tanya Mama dengan raut wajah khawatir.


"Minum susu, makan buah sama roti gandum juga kok."


"Kamu udah cek kandungan belum? Harus rutin lo."


"Sudah kemarin."


"Lalu. Bagaimana hasilnya?"


"Sehat kok. Kembar pula." Jawab Alvin enteng.


Mommy beranjak dari duduknya berpindah lebih dekat dengan Aya.


Matanya berkaca kaca. "Benar yang dikatakan suamimu sayang?"


Aya hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi Mommy nya.


Wanita itu langsung memeluk Aya erat mendengar jawaban itu.


"Ih jangan lama lama. Istriku lagi hamil."


"Emang kenapa? Aku kan Mommy nya."


"Ya nggak papa. Aku khawatir aja. Nanti bayinya ga bisa nafas lagi. Sesak karena pelukan kakak."


Aya mencubit suaminya yang suka ngomong sembarangan itu.


"Sakit Yang." keluhnya sambil mengusap lengan bekas cubitan sang istri.


"Selamat ya sayang." Mereka memeluk Aya bergantian.


"Kamu jadi beli Villa di puncak Vin?"

__ADS_1


"Jadi dong. Sudah balik nama sertifikat nya hari Rabu lalu."


"Kamu mau pindah ke sana Vin? Udah bangun rumah aja jauh dari kita. Sekarang kamu malah mau pindah ke puncak. Kamu mau bikin aku sama anakku lebih jauh lagi. Begitu?" protes Mommy tidak terima.


"Enggak. Kita tetap tinggal di rumah lama. Itu aku beli kalo istri pengen suasana baru aja. Kalo butuh liburan."


"Oh kirain."


"Sayang habiskan harta suamimu." Canda Nenek hanya ditanggapi senyuman oleh Aya.


"Silahkan. Ga masalah. Toh semua harta aku kan emang atas nama istri."


"Iya sampai lupa. Kamu jadikan mahar nikah waktu itu."


"Vin kamu pindah dulu duduknya?"


"Emang kenapa? Aku kan pengen Deket istri."


"Kamu kan bisa tiap hari. Aku sama Zahwa mau duduk di dekat Aya." Kata Mama.


"Yaudah iya." Alvin terpaksa pindah di singgle sofa. Zahwa dan Mama duduk mengapit Aya. Keduanya mengelus perut Aya yang sudah sedikit membesar sambil mengobrol.


Aya memegangi kepalanya yang berdenyut. Darah segar keluar dari hidungnya. Semua orang panik melihat keadaan itu.


"Sayang kamu kenapa?"


"Pusing." Alvin mengelap darah di hidung Aya dengan hati hati.


"Istirahat aja ya." Aya mengangguk menuruti Papanya.


"Vin bawa istri kamu ke kamar. Kakak akan panggil dokter."


"Iya."


Alvin terus menggenggam tangan Aya.


"Kata dokter kan baik baik saja mas. Ini hanya efek luka lama."


"Kamu susah kalo di bilangin."


"Kakak nggak papa?"


"Enggak kok. Cuman pusing sedikit."


"Biarkan Aya istirahat. Kita keluar dulu."


Mereka menuruti perintah Kakek. Memberikan Aya waktu untuk istirahat agar kondisinya segera membaik. Mereka memberikan kecupan singkat sebelum pergi.


"Kamu tidur aja Yang. Aku di sini kalo kamu butuh sesuatu." Alvin membaringkan tubuhnya di samping sang istri sambil memeluknya.


"Aku nggak ngantuk Mas."


"Yang penting istirahat. Kita pulang nanti kalo keadaan kamu udah baik."


"Iya." Kata Aya memejamkan matanya.


"Udah sore. Nggak nginep Aja?"


"Enggak. Kita pulang aja."


"Nginep di rumah Mama aja sayang."


"Minggu lalu kan udah Ma."


"Tapi Mama masih kangen. Kamu nginep di rumah Mommy kamu aja tiga hari masa di rumah Mama cuman dua hari."


"Lain kali aja Ma."

__ADS_1


"Kita pulang dulu ya." Pamit Alvin pada semuanya.


"Hati hati."


"Iya." Semuanya memeluk Aya satu per satu.


"Hati hati ya dek." Kata Zahwa melepas pelukan pada iparnya.


"Iya." Jawab Aya sambil tersenyum.


Mobil melaju pelan meninggalkan mereka semua yang masih tetap berdiri di sana.


"Susunya diminum dulu Yang." Alvin menghampiri Aya sambil membawakan segelas susu.


"Terimakasih."


"Sama sama sayang." Alvin mengecup bibir Aya singkat.


Wanita itu meneguk susunya sampai habis.


Alvin tersenyum melihat sisa susu yang berada di bibir istrinya. Dengan usil dia mencium bibir Aya dan menyesapnya. "Susunya enak juga."


"Kamu mau?" Tawar Aya pada suaminya.


"Ya enggak lah Yang. Masa iya aku di suruh minum susu buat ibu hamil."


"Kirain."


"Kamu mau kemana Yang. Udah malem tidur yuk."


"Mau ke balkon sebentar."


"Dingin tau."


"Enggak kok."


Aya berjalan sementara Alvin mengekor di belakangnya.


Setelah berhenti di belakang pembatas. Alvin memeluk istrinya dengan hangat. Menghirup aroma tubuh istrinya dalam dalam. Bibir pria itu mengecupi leher jenjang sang istri dan menghisapnya.


"Ih geli tau."


Alvin tidak menghentikan aksinya dan terus melanjutkan. Tangannya menelusup baju tidur Aya dan membelai perut Istrinya.


"Sayang."


"Iya."


"Kamu adalah satu satunya wanita yang ada di hati aku. Sejak dulu dan selamanya."


"Iyakah?" tanya Aya.


Alvin membalikkan tubuh istrinya perlahan. Wajah mereka begitu dekat. "Kamu ga pernah dengar kan aku dekat dengan wanita. Siapapun itu. Kecuali kamu. Karna itu dulu kamu mengira aku ini gay."


Aya tersenyum mengingat hal itu. Saat dia menanyakan apakah Alvin normal atau tidak karena memang benar Ia tak pernah mendengar Alvin dekat dengan wanita manapun.


"Aku normal tau. Buktinya aku bisa membuat Ini." Kata Alvin mengusap perut istrinya.


"Kamu nggak tau betapa tersiksanya aku saat bersamamu. Bayangkan aku menahannya selama itu. Aku sering mencuri ciuman mu waktu kamu tertidur pulas. Itu bagaikan obat bagiku." Lanjutnya membuat Aya menutup mulutnya.


"Astaga kamu..."Kata Aya tak bisa berkata kata lagi mendengar pengakuan suaminya.


"Bahkan aku melakukannya setiap malam."


Kata Alvin sambil tersenyum.


"Sekarang aku tidak perlu sembunyi sembunyi lagi karena kamu milikku." Alvin mencium bibir Aya dengan lembut untuk menutup pengakuan nya di malam ini.

__ADS_1


__ADS_2