Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Hampir Bertemu


__ADS_3

"Ada apa Vin?" Tanya Rio sesampainya di hotel tempat mereka menginap selesai meeting tadi. Ia menelisik wajah bahagia sahabatnya itu setelah mengangkat telepon.


"Ada Info katanya Istriku ada di kota ini." Alvi. mengguncangkan bahu Rio.


"Tau darimana?"


"Orang suruhanku. Dilacak dari transaksi kartu ATM pribadi istriku. Kita cari sekarang."


"Tunggu. Kita makan dulu. Kamu belum makan dari semalam. Jika sudah mendapat info seperti ini aku yakin Aya tidak akan kemana mana. Kita makan dulu ya."


"Baiklah."


"Aku ada restoran yang rame banget disini. Namanya Rustig Restaurant. Kita kesana sekarang. Katanya menunya enak, khas masakan rumahan."


"Tau darimana kamu?"


"Tadi kan Pak Eriston ngomong. Kamu kemana aja."


"Sorry. Gak dengerin."


"Yaudah kita kesana sekarang. Tapi ganti baju dulu."


"Hm." Jawab Alvin langsung memasuki kamarnya.


Dua orang lelaki memasuki restoran langsung menuju ruang VIP yang sudah dipesan sebelumnya.


Mereka duduk saling berhadapan hingga seorang pelayan datang memberikan buku menu.


"Silahkan Tuan."


"Saya pesan semua menu yang paling enak disini." Kata Alvin tanpa melihat buku menu.


"Baik Tuan. Akan kami siapkan." Pelayan itu berlalu pergi.


"Bos. Kita ada yang pesan semua menu paling enak di restoran ini. Dari tamu VIP nomor tiga." Kata pelayan itu tergopoh gopoh memasuki dapur dan memberikan laporan pada Aya.


"Baiklah akan aku siapkan."


"Aneh Bos. Mereka hanya dua orang. Kenapa pesan sebanyak ini. Apa sanggup menghabiskan?"


"Mungkin semangat makannya sedang meningkat." Kata Aya sambil tersenyum.


"Tolong siapkan minum dan Cake dulu ya. Agar mereka tak bosan menunggu."

__ADS_1


"Baik Bos."


Seorang pelayan memasuki ruangan Alvin dan Rio menyajikan minum dan Chess cake.


"Saya tidak pesan ini."


"Oh. Ini sengaja kami sediakan Tuan. Agar tidak bosan menunggu pesanannya. Silahkan dinikmati."


"Terimakasih."


"Sama sama Tuan."


"Makan Vin. Kayanya enak. Ini kan kesukaan kamu." Kata Rio membuat Alvin teringat istrinya. Alvin sangat menyukai cake buatan Aya. Hingga rasanya terus membekas dilidahnya. Alvin memakannya kemudian terdiam sejenak.


"Rio. Tidakkah kau sadar. Ini seperti yang dibuat istriku."


"Iya. Aku juga berfikiran begitu. Ini karna kita terlalu memikirkan Aya saja. Sudah lanjutkan makannya. Setelah ini kita cari Istrimu." Kata Rio sambil melanjutkan makannya.


Makanan tersaji di atas meja keduanya. Mereka makan dengan lahap sambil hanyut dalam pikiran masing masih. Semua makanan begitu enak persis seperti masakan Aya.


"Semua masakannya seperti yang selalu istrimu buat Vin. Baik menu maupun rasanya sama."


"Iya. Aku juga berfikir begitu."


"Aku akan panggil pelayan untuk menanyakan sesuatu."


"Mana Koki yang memasak makanan kami?"


Tanya Alvin tidak sabaran. Pelayan itu hanya diam dengan ketakutannya.


"Biar aku saja." Kata Rio mengambil alih. Karena jika Alvin yang bertanya akan panjang ceritanya.


"Bisakah kami bertemu koki yang memasak makanan kita?" tanya Rio santai.


"Maaf Tuan. Apakah masakannya tidak enak?"


Tanyanya khawatir.


"Masakannya enak. Enak banget malah. Oleh karena itu kita ingin bertemu kokinya untuk sekedar berbincang dan berterimakasih."


"Bos sudah pulang Tuan. Ini sudah jam 3 lebih. Bos sudah pulang beberapa saat lalu."


"Oh yang memasak ini Pemilik restoran sendiri?"

__ADS_1


"Iya Tuan."


"Laki laki atau perempuan?"


"Perempuan Tuan. Dia sangat cantik dan baik."


"Siapa namanya."


"Ibu Aya Tuan."


Deg. Rio dan Alvin saling melihat sesaat. Alvin kemudian bangkit dari duduknya.


"Dimana rumahnya. Katakan padaku." Sambil mengguncangkan bahu pelayan itu.


"Maaf Tuan. Saya tidak tau rumah Bu Aya."


"Kau jangan berbohong. Kubunuh kau nanti." Alvin mencengkram kerah kemeja pria itu.


"Benar Tuan saya tidak tau. Saya hanya karyawan baru disini."


"Tanyakan pada temanmu dimana alamatnya. Jika tidak kembali aku akan benar benar membunuhmu."


"Baik Tuan." Katanya langsung pergi.


Alvin dan Rio langsung berangkat menuju alamat rumah yang diberikan pelayan tadi. Mobil mewahnya berhenti di depan rumah minimalis dua lantai yang begitu terawat dan asri. Mereka masih di dalam mobil tengah mengamati seorang wanita yang sedang menyiram tanaman di depan rumah. Aya begitu fokus dengan kegiatannya sehingga tidak menyadari ada mobil berhenti di balik gerbang rumahnya. Alvin meneteskan air matanya. Ia terlalu malu untuk keluar menemui sang istri.


"Vin jangan nangis. Ayo turun." Kata Rio menepuk punggung sahabatnya.


"Aku malu."


"Jika kau begini. Masalah tidak akan selesai Vin."


"Biarkan aku tenang dulu."


"Baiklah." Kata Rio memberikan waktu untuk Alvin menenangkan diri.


Alvin sudah tenang kemudian turun. Keduanya menekan bel di samping gerbang rumah Aya berkali kali namun tidak ada jawaban. Setelah beberapa saat menunggu sosok wanita setengah abad lebih muncul menemui Alvin dan Rio.


"Masnya cari siapa ya?" tanyanya dengan logat Jawa.


"Mau cari Aya."


"Maaf Mas. Ibu Aya tidak bisa menemui Mas di rumahnya. Ibu sudah berpesan pada saya jika ada tamu laki laki tidak diperbolehkan masuk karena bisa mengundang fitnah nantinya."

__ADS_1


Tenggorokan Alvin tercekat mendengar penuturan Ibu itu. Istrinya masih menjaga diri dari laki laki meskipun tidak bersama Alvin.


"Sudah dulu ya Mas. Saya mau bersih bersih." Kata Ibu itu masuk ke dalam karena melihat keduanya terdiam.


__ADS_2