Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Ibu Gagal Didik Kamu Jadi Anak Baik


__ADS_3

"Kak. Kakak pulang duluan ya. Aku mau main sama temen aku. Nanti bilangin ke Ibu ya. Soalnya tadi Ara telfon nggak diangkat."


"Iye. Kakak pulang dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Ra."


"Heh. Kamu ngagetin aja Nin."


"Kita pergi sekarang?"


"Iya. Kita mau kemana?"


"Kita jalan jalan."


"Kemana?"


"Tau ah. Yang penting kita seneng seneng bareng aja."


"Iya deh. Ayo." Nindi langsung menggandeng tangan Ara untuk masuk ke mobilnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Sayang. Adek kamu kemana?"


"Main sama temannya Bu. Ara tadi telfon Ibu buat ngabarin nggak di angkat."


"Oh. Ibu lagi nggak pegang HP?"


"Pantesan."


"Kamu mandi sama sholat dulu ya. Ibu siapin makan siang."


"Iya Bu."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Mas."


"Tadi Ara telfon aku suruh sampaikan ke kamu. Dia main sama temannya."


"Iya. Zam juga udah kasih tau."


"Kamu tanya nggak mainnya sama siapa?"


"Enggak."


"Hm yaudah. Kamu mandi gih terus sholat. Aku mau siapin makan siang dulu."


"Heh. Lupa ya. Aku mau di mandiin kamu. Biar Bibi yang siapin makannya."


"Tapi Mas..."


"Shut...Ayo."


"Maaf ya sayang. Kamu nunggu lama ya?" Kata Aya menghampiri putranya di meja makan.


"Enggak kok Bu. Aku juga baru aja duduk."


"Sudah sholat Zam?"


"Sudah Yah."


"Kita makan dulu." Aya mengambilkan makan untuk Suami dan juga anaknya.

__ADS_1


"Ibu masak sendiri lagi."


"Iya. Ayah maunya makan masakan Ibu."


"Kalo nggak ada Ara kalian akur."


"Emang biangnya anak itu."


Aya hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban suaminya.


"Ibu. Besok bikinkan Zam kentang balado sama rendang ya. Zam pengen."


"Mau besok atau nanti malam?"


"Wih. Nanti malam juga boleh."


"Kalo gitu temenin Ibu belanja ya. Cabe keritingnya lagi habis."


"Suruh Bibi aja Yang."


"Ada sesuatu yang mau aku beli sekalian Mas. Ga papa ya aku pergi sendiri?"


"Aku antar."


"Kamu nggak capek baru pulang?"


"Nggak kok. Aku anterin nanti."


"Yaudah. Makasih."


"Sama sama." Alvin mengelus lembut pipi istrinya.


"Nin masa kita ke tempat kaya gini?" Ara mencekal tangan Nindi untuk menahannya masuk.


"Ini udah malem tau. Nanti aku di cariin."


"Santai aja. Kamu kan udah kasih kabar."


"Iya sih."


Nindi langsung menarik tangan Ara memasuki club' malam.


Pukul sebelas malam Aya, Alvin dan Zam belum juga tidur masih menunggu orang memberi kabar tentang keberadaan gadis itu.


"Jam segini belum juga pulang. Di telpon ga bisa."


"Ara tadi kasih kabar katanya di rumah temannya Bu. Tapi teman yang mana Zam juga ga tau. Pas Zam tanya ga di balas."


"Nggak wajar anak gadis main sampai malam begini. Mas kamu udah dapat kabar belum?"


"Belum. Tunggu dulu. Kamu yang tenang ya." Alvin berusaha menenangkan Istrinya.


"Permisi Tuan, Nyonya." Kata seorang pria berpakaian serba hitam.


"Ini hasil dari pencarian kami." Sambil menyerahkan amplop. Aya begitu terkejut melihat foto anaknya sedang berada di tempat itu.


" Nona muda sedang dalam perjalanan pulang sekarang."


"Baik Pak. Terimakasih ya." Aya mencoba untuk tenang.


"Sama sama Nyonya saya permisi."


"Keterlaluan Ara. Bikin malu aja." Geram Alvin.


Tepat pukul 12 malam gadis itu sampai di rumah. Setelah memastikan temannya pergi Ia masuk dengan perlahan. Ara membuka pintu disana sudah ada Ibu, Ayah dan Kakaknya yang masih menunggu.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Darimana kamu? Jam segini baru pulang."


"Ara ke rumah teman Yah."


Aya menggenggam tangan suaminya agar menahan emosi.


"Duduk dulu Ra Ibu mau tanya." kata Aya lembut tapi ini membuat Ara takut. Tidak biasanya Ibunya akan memanggil Ara begitu.


"Kamu darimana?"


"Dari rumah Nindi Bu."


Aya bangkit dari duduk dan mendekat pada anak gadisnya. Air mata yang Ia tahan sedaritadi sudah tumpah. "Ibu tidak pernah ajarkan kamu untuk berbohong Ra. Ibu juga paling tidak suka di bohongi. Ini apa Ra?"


Aya berlutut di depan anaknya. Alvin dan Zam tak tinggal diam. Mereka menenangkan Aya sebisa mungkin.


"Kamu minum Ra? Baju kamu bau alkohol."


"Enggak Ibu. Ini tadi ke tumpahan punya Nindi."


"Jadi di foto di itu benar kan? Kamu ke club'?"


"Maaf Ibu." Jawabnya sambil sesenggukan.


"Enggak. Ibu yang minta maaf. Ibu gagal didik kamu jadi anak baik."


"Ra. kamu tau kan Ibu kasih kebebasan untuk kamu buat apa? Ibu pengen anak anak Ibu menikmati masa mudanya dengan bebas tapi tidak kelewat batas. Ibu mau anak anak Ibu tumbuh dengan bahagia. Bisa bermain dan bergaul dengan temannya. Tidak seperti Ibu dulu yang hidup penuh dengan aturan. Tapi kamu udah salah gunain kepercayaan Ibu Ra. Kamu tau nggak perasaan seorang Ibu jika anak gadisnya belum pulang sampai larut malam seperti ini. Apalagi Ibu dapat foto kamu di tempat itu. Hati Ibu sakit Ra. Kami sebagai orang tua menanggung dosa anak anaknya kelak jika anaknya membuat kesalahan. Sudahlah. Kamu hari ini sholat?"


"Ara tidak meninggalkan sholat Ibu."


"Sudah makan?"


"Sudah Ibu."


"Yasudah mandi dan Istirahat. Ibu mau ke kamar dulu."


"Ibu. Ara minta maaf." Kata Ara namun Aya terus melangkah pergi.


"Kak."


"Kamu udah salah Ra." Zam juga pergi meninggalkan adiknya sendirian disana.


"Mas. Aku bukan Ibu yang baik ya."


"Enggak sayang. Kamu Ibu paling baik." Alvin memeluk dan menenangkan tangis istrinya.


"Kenapa anak kita kaya gitu?"


"Sabar Yang. Ini ujian kita sebagai orang tua. Semua yang kita miliki adalah ujian. Termasuk anak juga. Sudah jangan nangis lagi. Kita tidur. Kamu nggak boleh kecapean. Nanti kamu sakit."


"Aku minta maaf Mas."


"Kamu nggak salah. Kita tidur sekarang. Jangan berfikir yang macam macam."


"Iya."


"Selamat malam Sayang."


"Malam Mas."


Alvin mencium dan memeluk istrinya. Ia tau betapa hancurnya hati Aya melihat anak yang dididik nya dengan baik akan seperti itu. Pria itu menghela nafasnya pelan. Besok giliran dia yang akan memberi pelajaran kepada anak itu dengan caranya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2