Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Puasa Pertama Daniel


__ADS_3

"Sayang. Ayo bangun. Sudah waktunya sahur." Aya mencium pipi anak gadisnya.


"Iya Ibu." Gadis itu bergegas mencuci muka.


Wanita itu beralih ke kamar sebelah, yaitu kamar Zam.


"Sayang bangun. Waktunya sahur. Hari pertama jangan malas." Aya melakukan hal yang sama pada anak lelakinya.


"Iya Ibu. Zam bangun."


"Bagus. Ibu mau ke kamar Daniel dulu."


Aya membuka pintu kamar Daniel. Dia sudah bangun ternyata. Baru saja keluar dari kamar mandi.


"Wah. Sudah bangun. Ibu tadinya mau bangunkan kamu."


"Daniel sudah bangun Ibu." Ia memeluk Aya.


"Ayo sahur. Keburu imsak nanti."


"Iya Ibu."


"Makan kurma dulu."


"Siap. Ini yang kita suka." Kata Ara bersemangat.


"Ibu. Nanti kita ke bazar ramadhan yuk."


"Hari pertama masa sudah buka?"


"Sudah. Kata teman aku buka."


"Daniel ikut boleh?"


"Boleh. Tapi kamu harus tahan lapar. Disana makanannya enak enak."


"Aku boleh kesana kan Mas?"


"Boleh. Jangan beli makanan yang nggak sehat. Apalagi gorengan."


"Pastel sama lumpia boleh Yah?"


"Bukannya itu digoreng?"


"Ada yang di oven. Biar nggak ada minyaknya."


"Kamu nggak lagi bohongi Ayah kan?"


"Enggak. Kalo nggak percaya tanya Ibu."


"Emang iya Yang?"


"Aku juga baru dengar."


"Ih Ibu nggak ngeh sama kode Ara."


"Mau puasa jangan bohong kamu Ra."


"Cuma bercanda kak. Nanti Ara mau beli pukis, putu Ayu, biji salak, lemper."


"Semua aja kamu beli."


"Iya. Wah. Ara nggak sabar."


"Udah. Kalian jangan ngomong Mulu. keburu imsak nanti."


"Iya Yah."


Daniel tersenyum bahagia merasakan puasa pertama kali dengan keluarga yang hangat seperti ini.


Siang hari cuaca sangat terik Alvin dan Aya tengah duduk melihat anak anaknya yang sedang bermalas malasan di karpet sambil memandangi aquarium besar di ruang keluarga.

__ADS_1


"Di luar panas."


"Kamu sudah haus niel?"


"Sudah. Daniel tahan kok Yah."


"Nggak papa nanti juga terbiasa. Dulu Zam dan Ara waktu umur lima tahun juga begitu. merengek terus. Lama lama mereka juga biasa."


"Yah. Arapaimanya Ayah kok nambah satu. Kapan datangnya?"


"Kemarin. Kalian di kampus. Mana tau."


"Ara pengen pegang."


"Jangan macem macem Ra. Nanti ikannya takut liat kamu."


"Emang iya Yah?"


"Nggak tau."


"Yah beli ikan lagi atau belut listrik."


"Nggak. Nanti ikan Ayah mati semua."


"Ibu..."


"Ada ada aja. Bahaya tau. Lagian belut listrik juga predator. kasian ikan ikan kecil nanti mati."


"Iya juga."


"Kalian tidur siang sana. Biar nggak lemes gitu."


"Nanti Ibu tinggal lagi."


"Nggak. Nanti Ibu bangunkan."


"Yaudah. Ara mau tidur." Anak anak tidur, Alvin juga mengajak istrinya tidur siang. Ia memandangi wajah istrinya yang cantik. Jemarinya mengelus lembut pipi merah jambu Aya. "My beloved Wife." Gumamnya pelan.


"Mas. Aku mau itu ya?" tunjuknya pada dodol Betawi.


"Ambil aja."


"Bener?" Tanya Aya heran. Karena suaminya tidak terlalu melarangnya akhir akhir ini.


"Iya."


"Makasih Mas."


"Sama sama."


"Ibu. Kita udah. Pulang yuk."


"Kalian kaya orang mau jualan. Banyak banget."


"Ara kalap. Semuanya terlihat enak."


"Udah yuk. Pulang. keburu Adzan nanti. Ibu belum siapin bukanya."


"Iya."


Semuanya tengah berbuka bersama. Aya juga mengajak semua pekerja di rumah.


"Nyonya. Tadi Nyonya dicari pak Lurah."


"Mau apa pak Lurah cari istri saya?"


"Katanya mau diskusi masalah acara bersih bersih Tuan."


"Kenapa sama istri saya?"


"Tidak tau Tuan."

__ADS_1


"Lain kali kalo dia cari istri saya. Bilang temui saya saja." Kata Alvin cemburu mendengar lurah muda itu mencari istrinya. Apalagi dia duda. Semuanya juga menahan tawanya melihat ekspresi Alvin yang tampak kesal sedangkan Aya santai saja.


"Baik Tuan."


"Habis ini kita tarawih Ibu?"


"Iya."


"Masjidnya dimana?"


"Masjid di rumah ada. Kita sholat di sana sama semuanya."


"Iya Ibu."


Aya mengajak keluarganya berkumpul di taman belakang setelah sholat tarawih.


"Kenapa senyam senyum dari tadi kesambet ya." Zam menegur Daniel.


"Nggak. Seneng aja. Bisa puasa, bisa sholat, bisa buka bareng keluarga. Makasih semuanya."


"Sama sama."


"Yang. Tidur yuk. Aku udah ngantuk."


"Iya. Kalian tidur juga ya. Jangan sampai kemaleman. Besok harus sahur."


"Iya Bu." Jawab mereka patuh.


Alvin menunggu istrinya yang tengah mencuci muka. "Katanya ngantuk. kok belum tidur?"


"Aku nunggu kamu. Nggak peka banget."


"Iya iya." Aya bergegas menghampiri suaminya.


Pria itu membaringkan kepalanya dengan nyaman di paha sang istri.


"Mas."


"Iya Sayang."


"Kira kira Mamanya Daniel itu dimana ya?"


"Di Hongkong sama suaminya. Udah punya dua anak sekarang."


"Suaminya yang.."


"Iya. yang selingkuhannya itu."


"Nggak pernah mencoba tanya atau cari Daniel?"


"Kata Felix enggak."


"Keterlaluan. Kok bisa ya. Anak di tinggalin gitu aja."


"Orang tua kamu juga sama kan."


"Iya. Tapi aku bersyukur bisa hidup seperti ini. Aku berterimakasih sama semua yang udah jagain aku dari kecil. Termasuk kamu Mas."


"Sama sama Sayang."


"Kamu nggak perlu hamil lagi udah nambah anak satu. Nggak perlu jagain bayi dan biarin aku tidur sendiri. Ga perlu begadang buat nyusui. Sekarang prioritas kamu cuma aku. Anak anak sudah dewasa sekarang."


"Oh. Maunya begitu ya ternyata."


"Hehe iya. Eh yang Semenjak kamu ngambek sama Ara waktu itu dia nggak petakilan lagi. Kalo di suruh juga langsung nurut nggak banyak protes."


"Bagus dong."


"Lain kali ngambek aja lagi Yang. Biar dia jadi anak yang lebih baik."


"Kamu ada ada aja. Aku ngantuk Mas. Mau tidur."

__ADS_1


"Iya. Ayo tidur." Alvin mematikan lampu kamarnya dan memeluk sang istri agar merasa nyaman.


__ADS_2