
Aya sudah siap dengan pakaian casualnya. Ia sudah menyiapkan makan siang untuk anak anak dan suaminya lengkap dengan catatan.
Hari ini wanita itu akan jalan jalan seperti beberapa minggu lalu.
"Nyonya mau kemana?"
"Saya mau keluar Pak."
"Tuan nanti Marah."
"Jangan khawatir. Kalo marah biar sayang yang hadapi."
"Tapi Nyonya..."
"Sudah saya telpon ini orangnya."
"Assalamualaikum Mas."
....
"Aku mau keluar sebentar."
.....
"Ada sesuatu yang mau aku beli. Makan siang sama baju sudah aku siapin. Boleh ya?"
....
"Masa 30 menit. 2 jam."
...
"1 jam setengah."
....
"Iya Mas. Makasih. Waalaikumsalam."
"Boleh pak. Saya pergi ya."
"Baik Nyonya." Pria itu langsung membuka gerbang.
Alvin mengizinkan istrinya pergi. Ia sudah menaruh penyadap, Kamera di dashboard mobil dan beberapa penjaga untuk merekam segala kegiatan istrinya. Ini Ia lakukan agar dapat melihatnya secara langsung kegiatan apa saja yang wanita itu lakukan.
Ia mengamati Istrinya dari laptop sambil senyum senyum. Aya mampir di warung nasi Padang dan makan disana. Beberapa saat kemudian istrinya berpindah lagi mencoba cakwe dan berbagai makanan lainnya. Istrinya juga membungkus untuk dibawa pulang. Alvin begitu heran dengan kelakuan Aya. Porsi makannya meningkat. Apalagi kini Ia memberi kebebasan untuk naik mobil sendiri. Aya melanggar peraturannya untuk tidak jajan di sembarang tempat.
Aya melajukan mobilnya ke pantai. Ia akan menikmati angin pantai di siang hari mengabaikan waktu singkat yang diberikan oleh suaminya. Selesai sholat, Ia duduk sambil menikmati es kelapa muda.
Aya mengecek ponselnya. Anak anak dan suaminya sudah berkali kali menelpon. Karena di silent Aya tidak menyadari. Ia bergegas pulang agar tidak mendapat omelan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kamu telat 15 menit Yang."
"Ibu kemana aja sih. Kok nggak bilang bilang."
"Kalian kan sudah lihat catatan di meja."
"Iya. Tapi kita khawatir tau."
"Widih... kalian sekarang melampaui Ayah cerewetnya."
"Apa kamu bilang. Aku cerewet."
"Iya."
"Kamu yang bikin aku cerewet."
"Maaf Mas."
"Ibu bawa apa?"
"Macem macem. Kalian makan gih."
"Makasih Bu."
__ADS_1
"Sama sama."
"Kamu jajan sembarangan lagi." Kata Alvin yang saat ini merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Keduanya tengah menikmati waktu di balkon kamar.
"Pengen coba Mas."
"Perut kamu rata aja. Tadi kamu kan makan banyak."
"Tau darimana?"
"Feeling." bohongnya.
"Iya aku makan banyak. Semuanya enak. Bikin nagih."
Alvin mencium perut istrinya.
"Pengen anak lagi?"
"Nggak."
"Kirain."
"Paha kamu dingin." Kata Alvin karena Aya menggunakan celana pendek yang mengekspose paha mulusnya.
"Aku angetin."
"Nggak, aku capek."
"Ayo Yang."
"Apa sih?"
"Kita olahraga sore."
"Mau bikin Baby? boleh."
"Melakukan. Tapi nggak ada Baby-nya."
"Nggak asik."
"Mas." Panggil Aya ketika Alvin sudah melepas bajunya.
"Apa sih?"
"Tutup jendela Sama gordennya."
"Iya." Dengan semangat pria itu melaksanakan perintah sang istri.
"Mas."
"Apalagi?" Tanya Alvin sudah berada di atas Aya tidak sabar.
"Kunci pintunya."
"Sudah. Jangan rewel. Kamu tinggal nurut aja susah. Disini kan aku yang kerja keras."
"Kamu yang kerja keras tapi aku yang capek."
"Udah ah." Alvin mulai menjamah tubuh putih mulus istrinya meninggalkan jejak.
"Ah...Nikmat Sayang.." ******* Alvin memenuhi ruangan kamar.
"Mas..Pelan pelan." Rengek Aya.
Alvin membungkam istrinya dengan ciuman penuh hasrat.
"Aku nggak tahan..."
"Yaudah lepas..."
"Gamau...Ah...Kamu... Nikmat..."
Setelah beberapa Jam Alvin menyudahi kegiatannya karena sang istri sudah kelelahan.
Keduanya berendam di dalam bathup untuk membersihkan diri.
Alvin membawa Aya kedalam pangkuannya sambil memeluk wanita itu erat.
__ADS_1
"Kamu nggak capek Mas tiap hari minta."
"Enggak. Aku malah seneng."
"Kamu yang seneng aku yang capek."
"Mana yang capek? sini ya." Alvin meraba bagian inti tubuh istrinya.
"Awas tangannya."
"Kenapa? Aku suka ini." Kata Alvin tak mau berhenti.
"Leher Ibu gatal ya? Kok merah merah." Tanya Ara sementara Alvin tersenyum melihat gelagat bingung istrinya.
"Ah iya. Banyak nyamuk."
"Bukannya di kamar Ibu nggak ada nyamuk."
"Pas Ibu keluar tadi. Disana banyak nyamuk." Jelasnya sambil tergagap membuat Alvin menahan tawanya.
"Oh."
"Ibu."
"Ya sayang."
"Daniel Mau ketemu Papa boleh?"
"Boleh dong."
"Tapi Papa mintanya ketemu Daniel di rumah."
"Oma kamu ada?"
"Ada kok Yah."
"Jangan datang. Bahaya nanti."
"Ga papa Yah. Daniel udah nggak takut lagi sama Oma. Daniel lebih berani sekarang."
"Nanti kita temani."
"Makasih Kak." Daniel memeluk kedua kakaknya bersamaan.
"Terimakasih Bi." Kata Aya menerima semangkuk besar eskrim dengan berbagai toping di atasnya.
"Astaga Yang. Kamu belum kenyang juga. Tadi kan sudah makan macem macem."
"Kenapa sih mas. Uang banyak. Masa makan gini aja ga boleh."
"Bukan masalah uang. Kesehatan kamu itu Lo. Jajan sembarangan, makan eskrim ga kira kita."
"Biarin. Lagi pengen."
"Kalian mau nggak?"
"Mau."
"Ibu suapi gantian." Aya menyuapi ketiga anaknya dan dirinya sendiri.
"Enak.Yang kemarin kok nggak sama Ibu."
" Ini Ibu yang pesan. Tadi baru datang." Alvin menggelengkan kepalanya melihat sang istri. Makannya begitu tidak sehat dan tidak terkontrol. Jujur Ia khawatir dengan kesehatan Aya jika terus makan sembarangan seperti ini. Apalagi istrinya tidak makan sayur.
"Yang."
"Hm. Kamu mau?"
"Enggak. Kamu mulai besok harus makan sayur sama minum jus."
"Kenapa?"
"Pakai tanya kenapa lagi. Kamu makanannya ga sehat Mulu, Junk food, manis manis, berlemak, pinggir jalan. Alah aku Sampek pusing ngingetnya. Hari ini aja udah jajan banyak. Ga higienis lagi."
"Mas ma gitu. Istri pengen bukannya di dukung malah diomelin."
"Ini demi kebaikan kamu." Alvin mengusap lembut kepala istrinya.
__ADS_1