
Tunggu aku di rumah Yang. Sebentar lagi aku pulang kok. Jangan capek capek dan jangan aneh aneh.
"Iya."
"Dasar posesif." Gerutu Aya setelah mematikan telponnya. Semenjak pergi tadi Alvin sudah menghubunginya berkali kali. Itu membuatnya risih. Di angkat tidak penting, kalau tidak diangkat nanti marah. Aya menghela nafasnya pelan memikirkan tingkah suaminya. Wanita itu mengelus kandungannya yang sudah berusia sembilan minggu.
"Nanti jangan seperti Ayahmu ya Nak." Lirih Aya.
"Siapa yang tidak boleh seperti Ayahnya?" suara bariton Alvin mengagetkan Aya. Dengan cepat pria itu duduk di samping istrinya untuk meminta penjelasan.
"Itu. Aku ..." Aya bingung harus menjawab apa. Pria itu mencium bibir mungil itu dengan lembut kemudian mengelus perut istrinya. "Jadilah seperti Ayah nak. Dan bantu Ayah menjaga ibumu yang keras kepala ini." Kata Alvin sambil tersenyum menatap Istrinya.
"Siapa yang keras kepala?"
"Kamu lah."
"Kok gitu?"
"Enggak enggak."
"Kamu mau makan dulu atau mandi dulu mas?"
"Mandi dulu aja. Gerah."
"Bajunya udah aku siapin."
"Temenin dong."
"Enggak ah. Aku mau di sini aja."
"Ayolah." Rengek Alvin pada Aya.
"Iya iya." Wanita itu memilih menuruti suaminya.
"Pela pelan." Alvin menggenggam tangan Aya untuk berjalan bersama.
"Kamu sudah mandi Yang? Kalo belum ayo mandi bareng."
"Aku dah mandi dari tadi."
"Kalo gitu mandi lagi aja. Pasti gerah."
"Enggak."
"Kalo gitu aku mandi sendiri nih?"
"Iya."
"Yaudah kalo gitu. Aku mandi dulu Yang." kata Alvin bergegas mandi. Ia tak mau membuat istrinya menunggu terlalu lama.
Alvin mengajak istrinya ke halaman belakang. Ia sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan siang di sana.
"Kamu mau makan pake apa Mas?"
"Apapun yang kamu siapin aku makan."
"Iya, awas dulu. Jangan peluk gitu. Aku susah mau ambilnya."
"Iya iya." Alvin terpaksa melepas pelukannya.
Aya menyiapkan makanan untuk suaminya lalu duduk kembali.
__ADS_1
"Aku nggak mau." Kata Aya menutup mulutnya saat Alvin hendak menyuapinya.
"Kenapa? Kamu belum makan lo. Lagi hamil begini kamu harus makan banyak. Beberapa hari ini kamu nggak makan nasi. Masih mual ya? "
"Iya. Aku nanti makan yang lain aja."
"Yaudah kalo gitu. Suapi."
"Kaya anak kecil aja."
"Ayolah. Kalo anak kita lahir nanti juga kamu bakalan sibuk sama dia."
"Namanya juga anak. Prioritas utama." Jawab Aya sambil menyuapi suaminya.
"Yang."
"Hm."
Alvin mengecup bibir Aya karena mendapat jawaban cuek dari istrinya.
"Ada apa?"
"Kamu cuek banget. Aku kan pengen tanya serius."
"Yaudah tanya. Aku jawab."
"Kamu nggak ada kepengen apa gitu?"
Aya mendongakkan kepala menatap suaminya. "Itu yang kamu bilang pertanyaan serius?"
"Iya dong. Kalo kamu mau sesuatu kan aku bisa penuhi."
"Kalo pun aku pengen kamu ga bakal kasih."
"Tidak bukan itu."
"Lalu apa?"
"Aku pengen masak sendiri."
"Enggak." Tegas Alvin.
"Tuh kan. Kamu ma gitu."
"Yang aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu. Sama anak kita. Kamu nggak boleh kecapean. Ingat kan kata dokter." Alvin menangkup wajah istrinya berharap wanita itu mengerti. Kondisi Aya masih sama seperti dulu karena kecelakaan yang lalu. Wanita itu masih harus rutin mengkonsumsi obatnya. Dengan kehamilannya ini Alvin harus ekstra menjaga istri kecilnya.
"Aku mohon kamu mengerti ya."
"Iya. Ini dihabiskan dulu." Aya melanjutkan menyuapi suaminya.
"Mau rasa apa Yang?" Tanya Alvin hendak membuatkan susu untuk istrinya. Pria itu membeli begitu banyak susu kehamilan agar istrinya bisa memilih rasa kesukaannya.
Aya tampak duduk sambil berfikir sejenak.
"Vanila aja."
"Ok." Alvin dengan cekatan membuatkan susu untuk istrinya. Aya hanya mengamatinya karena tak boleh membantu.
"Ini susunya. Dan vitaminnya juga di minum Yang." Alvin duduk di samping istrinya.
"Kamu nggak makan nasi mau makan apa? Jangan sampai kamu lapar. Makan buah ya?"
__ADS_1
"Boleh."
"Mau apa aku ambilkan."
"Aku mau pilih sendiri."
"Disitu saja. Aku ambilkan."
"Ayolah. Aku pengen pilih sendiri."
"Baiklah baiklah hati hati."
"Iya."
Alvin membuka kulkas besar itu lebar lebar. Begitu banyak buah, sayur, daging dan makanan sehat lainnya untuk sang istri tercinta.
Aya tampak memilih.
"Es krim ya Mas?"
"Enggak boleh. Kamu harus makan buah. Makan yang sehat sehat."
"Yah. Sekali aja."
"By..." Tegas Alvin membuat Aya mengurungkan niatnya.
"Iya iya."
Aya memilih berbagai buah dan cemilan sehat yang disediakan suaminya.
"Sudah." Kata Aya sambil menutup pintu kulkasnya.
"Yakin. Ini cukup? Kamu harus makan banyak lo."
"Sudah. Ini sudah kenyang." Kata Aya meyakinkan.
Selesai sholat Sepasang suami istri itu tengah sibuk menonton film. Alvin menyenderkan tubuh sang istri ke dada bidangnya. Wanita itu sibuk makan sambil fokus menonton. Alvin mencium istrinya berkali kali merasa gemas dengan Aya yang tak berhenti mengunyah.
"Ih jangan ganggu." Rengek Aya merasa risih dengan sikap suaminya karena bibir dan tangan Alvin tak bisa berhenti.
Alvin tak menghiraukan keluhan istrinya. Ia mengelus perut Aya dengan lembut memberikan kenyamanan pada wanita yang tengah hamil itu.
"Yang."
"Ya."
"Aku ada rencana deh buat beli Villa di puncak."
"Buat apa?"
"Ya kalo kamu bosen di sini. Pengen liburan kita kan bisa ke sana."
"Jangan buang buang uang. Kan udah punya rumah di sini."
"Kan kalo kamu bosen kita bisa liburan ke sana. Lagipula udaranya sejuk. kamu pasti suka. Aku juga akan beli perkebunan di sana. Boleh ya?"
"Terserah Mas aja."
"Makasih Sayang."
"Iya."
__ADS_1
Alvin mencium pucuk kepala sang istri dan mengusapnya lembut.