Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Uangnya Banyak. Habiskan Saja


__ADS_3

Aya kini sedang dalam perjalanan pulang setelah melepas gips nya di rumah sakit bersama sang suami dan anak anak.


"Gimana hari pertama sekolah sayang?" Tanya Aya pada kedua anaknya.


"Lancar Ibu. Kami juga punya teman banyak."


"Bagus. Baik baik ya sama temannya."


"Iya Ibu."


"Ibu. Nanti antar jemput kita ke sekolah ya. Seperti teman teman lainnya." kata mereka penuh harap.


"Ibu nanti capek. Kalian kan bisa berangkat sama Ayah atau diantar pak supir."


"Tapi Ayah..."


"Iya. Nanti Ibu antar jemput kalian."


"Tapi Yang..."


"Kamu sudah janji waktu itu Mas. Jangan diingkari."


"Iya." Pasrah Alvin teringat janjinya dulu untuk membiarkan Aya mengurus sekolah anak anaknya.


"Turunnya hati hati Yang." Alvin dan kedua anaknya membantu Aya turun dari mobil.


"Iya."


"Kalian mandi, sholat habis itu makan ya."


"Mandiin sama Ibu ya."


"Iya. Ayo."


"Kalian sudah besar mandi sendiri dong."


"Biarin Mas. Kenapa sih."Aya menggandeng tangan anaknya menuju kamar mereka. Aya memandikan keduanya satu per satu dengan telaten. Membantu mereka mengenakan pakaian.


"Kalian habis ini sholat. Ibu tinggal dulu ke kamar ya."


"Iya Ibu." Mereka mencium pipi Aya sebelum pergi sholat.


Aya membuka pintu kamarnya. Ia mendapati Alvin yang tengah duduk di sofa menyilangkan kedua kakinya. "Kamu belum mandi Mas?"


"Gimana sih Yang. Aku kan nungguin kamu tau." Katanya manja.


"Aku lagi nggak mau mandi. Tadi sudah mandi sebelum ke rumah sakit."


" Kamu kan punya kewajiban mandiin aku. Mau kabur ya. Tidak bisa." Alvin bangkit dari duduknya memeluk sang istri dengan erat.


"Kaya punya tiga anak rasanya."


"Cuman 2. Satu lagi siapa Yang?"


"Kamu lah. Siapa lagi. Manjanya kamu melebihi mereka."


"Biarin. Namanya juga suami manja sama istri itu wajar Yang. Ayo mulai laksanakan tugas kamu."


"Iya..Iya.."


Alvin menggandeng tangan istrinya menuju kamar mandi. Pria itu menanggalkan seluruh pakaiannya kemudian berendam di bathup. Aya menyabuni seluruh tubuh suaminya. Alvin begitu menikmati setiap sentuhan dari sang istri.


"Yang."

__ADS_1


"Iya."


"I love you."


"Too."


Alvin tidak terima mendapat jawaban singkat dari istrinya. Ia mengubah posisinya dengan cepat dan memeluk Aya. Kemudian mencium bibir istrinya dengan rakus.


"Ih basah aku." Rengek Aya kesal karena ulah suaminya sekarang bajunya menjadi basah.


"Ayo mandi sini sekalian."


"Enggak. Aku nanti ganti baju aja."


"Marah. Jangan marah dong Yang." Kata Alvin melihat istrinya cemberut.


"Tau ah." Aya melanjutkan kegiatannya.


Selesai makan siang Aya dan Alvin berkumpul di ruang kelurga bersama Darwin dan Rio yang juga ikut makan bersama tadi.


"Ya."


"Iya Om."


"Hukum Tato itu bagaimana?"


"Jelas haram Om. Rasulullah SAW bersabda: Allah melaknat orang-orang yang mentato dan yang minta untuk ditato.” Alvin dan yang lainnya hanya diam mendengarkan penjelasan Aya dengan seksama.


"Oh. kalau terlanjur punya tato. Shalatnya sah tidak?"


"Tatonya haram Dan sholat adalah kewajiban, jika ditinggal dosa. Jadi shalatnya orang bertato itu sah, tapi hukum membuat tato itu haram atau berdosa. Jika mereka sudah tau hukum Tato adalah haram maka wajib untuk menghilangkannya."


"Kenapa tato haram Ya?" Tanya Darwin.


Alvin merangkul bangga istrinya. Ia begitu terkesan atas pengetahuan Aya. Sebagai imam saja Ia tak begitu mengetahui tentang ini. Terlalu sibuk membuat dirinya lupa akan urusan akhirat. Untung istri tercinta sering mengingatkan dan membimbingnya.


"Ngomong ngomong kenapa Om tanya tentang itu? Om Rio ada tato?"


"Ah enggak. Aku cuman penasaran aja. Karna tadi di masjid ketemu orang tatonya banyak banget. Sampai leher pula." jelasnya sambil bergidik ngeri.


"Oh."


"Mana berani Rio di tato. Liat jarum suntik aja gemeteran." Kata Alvin membuat Darwin tertawa.


"Om Darwin. Om Rio." Sapa Zam dan Ara ikut bergabung.


"Kalian darimana. Habis makan kok ngilang?" Rio memangku Zam dan Ara duduk di pangkuan Darwin.


"Dari kamar Om."


"Gimana sekolah di hari pertama Sayang?"


"Seru Om. Kita banyak teman."


"pinter kalian."


"Ayah."


"Ya sayang."


"Zam sama Ara pengen kucing."


"Jangan Ya. Ibu alergi kucing. Nanti Ibu sakit kalo kalian pelihara kucing."

__ADS_1


"Biarin Mas. Asal bulunya nggak kemana mana. Ga papa kok."


"Enggak. Enggak. Bahaya tau."


"Tidak apa Ibu. Kita tidak jadi pelihara kucing. Kita ganti aja."


"Mau apa? Minta sama Ayah kalian. Uangnya banyak. Habiskan saja." Darwin mengompori.


"Zam sama Ara pengen pelihara ikan."


"Kan sudah ada."


"Kurang besar Ayah. Buat aquarium yang besar. Ikannya juga besar besar. Ada kura kuranya juga. Pasti bagus."


"Pinter kalian. Minta ikan sama kura kura yang mahal mahal."


"Iya nanti Ayah bikinkan aquarium sesuai permintaan kalian."


"Benar Ayah?"


"Iya."


"Terimakasih Ayah."


"Sama sama." Membalas pelukan kedua anaknya.


"Ayah.Ibu." Mereka mengetuk pintu kamar orangtuanya kencang.


"Ada apa? Sudah jam 10 malam. Kalian kok belum tidur juga." Kata Alvin membuka pintu.


"Kita ikut tidur Ibu. Zam sama Ara takut hujannya lebat. Ada kilat kilat." Mereka menerobos masuk.


"Kan bisa di tutup hordennya."


"Mau tidur sama Ibu."


"Sini sayang. Tidur sama Ibu."


Mereka naik ke atas ranjang dan tidur memeluk Aya. Alvin ikut berbaring dengan posisi anak anak berada di tengah. Memberikan jarak yang jauh dengan istrinya.


"Ibu. Hujannya semakin deras. Ara takut."


"Jangan takut sayang. Sekarang tidur. Besok harus bangun pagi untuk sekolah."


"Iya. Selamat malam Ibu. Ayah." Mereka mengecup kening Aya dan pipi Alvin.


"Malam."


"Selamat malam sayang." Aya membalas pelukan anaknya hangat.


Ia tersenyum menatap wajah kesal suaminya.


Alvin mendekat dan memeluk sang istri sebisanya.


"Untung aja cuma dua. Kalo tiga bisa pusing aku." Kata Alvin pelan.


"Sudah. Tidur sana. Besok kamu kerja."


"Iya." Alvin mengecup bibir istrinya.


"Selamat malam Sayang."


"Malam Mas." Keduanya memejamkan mata menyelami alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2