Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Bertemu kembali


__ADS_3

"Bi saya keluar sebentar ya. Anak anak sedang tidur. Tolong sambil di jagain ya."


"Iya Bu."


"Saya berangkat dulu Bi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Bu."


Aya keluar rumah dan membuka gerbang untuk mengeluarkan mobilnya. Sebuah mobil hitam menghalangi. Ia mengetuk kaca mobil itu untuk memberitahu agar sedikit menepi.


Alvin dan Rio keluar bersamaan membuat Aya sedikit terkejut kemudian menetralkan lagi ekspresinya.


"Sayang." Panggil Alvin sedikit lirih.


"Aya. Akhirnya kita menemukanmu. Sudah lama kita mencari kamu Ya. Kamu kemana aja?"


"Aku disini Om. Ini rumahku sekarang." Jawab Aya memaksakan senyumnya.


"Kamu tidak menyuruh kami masuk Ya?" Tanya Rio karena Alvin sedaritadi hanya terdiam.


"Maaf Om. Aku sedang ada urusan. Mampirnya lain kali saja ya."


"Anak anak dimana?"


"Sedang tidur didalam. Sudah Ya. Mobilnya agak di majuin Om. Aku mau lewat." Kata Aya sambil membalikkan badan.


"Ya. Bicaralah dengan suamimu. Selesaikan urusan kalian."


"Semuanya sudah jelas Om. Tidak perlu ada yang perlu di selesaikan lagi."


"Yang aku minta Maaf." Alvin memberanikan diri untuk mengatakan hal itu.


"Aku maafkan Mas. Urusan kita selesai sekarang. Silahkan pergi."


"Ya. Bicaralah dengan suamimu baik baik di dalam. Aku mohon Ya. Beri waktu sebentar saja."


"Baiklah. Ayo masuk."


Kata Aya mempersilahkan.


Mereka berdua tengah berada di kamar sekarang. Sama sama diam belum ada yang memulai pembicaraan. Suasana hening beberapa saat hingga Alvin angkat bicara.

__ADS_1


"Aku minta maaf." kata Alvin penuh penyesalan.


Aya tersenyum kecut mendengar kata yang keluar dari mulut suaminya.


"Aku bosan Mas. Berkali kali kau meminta maaf dan berkali kali pula kau mengulanginya. Tidakkah kau ingat aku bersimpuh memeluk kakimu dan sampai bersumpah atas nama Tuhan namun kau juga tidak mempercayaiku. Itu aku lakukan bukan sekali atau dua kali. Tapi sering kali untuk meyakinkanmu jika aku tidak seperti yang kau tuduhkan itu. Aku diam dan sabar, berharap kau akan berubah di kemudian hari. Nyatanya sama saja. Yang terakhir ini malah lebih parah. Kau mangataiku wanita penggoda secara tidak langsung. Kau sudah melukai harga diriku sebagai seorang wanita yang sudah memiliki suami. Kau menuduhku berselingkuh di belakangmu. Apakah aku sehina itu di matamu Mas?" Aya sudah tidak dapat menahan sir matanya lagi.


"Sayang aku minta maaf."


Alvin berjongkok dan memeluk pinggang ramping istrinya.


"Aku bilang aku sudah memaafkanmu. Urusan kita sudah selesai sekarang. Kita masing masing saja." Kata Aya menatap kosong ke depan.


"Tidak. Jangan berkata seperti itu. Aku dan kamu tidak boleh berpisah. Kita akan sama sama sampai kapanpun." Kata Alvin sambil menangis.


"Sudah Mas. Ini mungkin jalan yang terbaik."


"Tidak. Aku tidak mau. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji Yang. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa sendiri. Aku ingin terus hidup bersamamu sampai kapanpun."


"Emosimu sedang tidak stabil sekarang. Mandilah dan ambil air wudhu agar perasaanmu tenang." Kata Aya membantu suaminya untuk berdiri. Alvin hanya bisa menuruti kemauan istrinya.


"Astaga Om ini semua koper siapa?" Tanya Aya melihat banyak koper di ruang tengah.


"Koper aku sama Alvin. Kita akan tinggal disini. Kalian sudah bicara kan?"


"Alvin mana?"


"Sedang di kamar bersama anak anak. Om mau minum sesuatu?"


"Dari tadi kek nawarin. Mau lemon tea aja. Cuacanya panas benget."


"Sebentar aku bikinkan."


"Aku tunggu disini."


"Iya." Kata Aya berlalu pergi.


"Ini Om minumnya."


"Makasih Ya." Rio meneguknya sampai sisa setengah.


"Kamu beli rumah ini sama restoran?"

__ADS_1


"Iya. Biar anak anak nyaman tinggalnya."


"Habis berapa Ya?"


" Nggak tau, lupa."


"Restoran kamu rame banget Lo. Pasti untung besar."


"Alhamdulillah."


"Kamu pinter pilih rumah. Desainnya bagus. Restoran kamu juga bagus. Tempatnya nyaman."


" Iya. Aku pertama lihat aja langsung suka."


"Kamu nggak ada ART Ya?"


"Ada cuman bersih bersih aja. Selain itu semuanya aku yang urus sendiri."


"Hebat kamu. Selalu di manja kalo keluar mandiri juga. Keluarga sama suami kamu aja yang ga ngebolehin kamu mandiri."


"Iya sih. Ngomong ngomong Om kok tau aku disini darimana?"


"Dari pelayan restoran kamu. Aku tadi sama Alvin makan disana. Kita ngerasa makanannya khas banget sama persis yang kamu buat biasanya. Terus kita tanya tanya ternyata pemiliknya kamu. Kita sebenarnya ada proyek disini. Alvin juga dapat laporan dari orangnya kalo kamu ada di sini juga."


"Oh."


" Daritadi aku ngoceh kamu cuman jawab Oh doang. Ngomong ngomong kamar Aku dimana Ya?"


"Hehe maap Om. Di lantai dua. Samping kamar anak anak."


"Ok deh. Nanti aku kesana." Kata Rio meneruskan minumnya.


Zam dan Ara tidur di kamar mereka sendiri karena kedatangan sang Ayah. Aya memasuki kamar setelah memastikan anak anaknya sudah tertidur dengan pulas.


Ia membaringkan diri di ranjang. Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka. Alvin keluar hanya dengan menggunakan celana pendeknya. Kebiasaan pria itu tidur tanpa baju masih terbawa semenjak menikah sampai sekarang. Ia menaiki ranjang. Berbaring di samping sang istri dan memeluk wanita yang tengah memunggunginya itu dengan erat.


"Jangan tinggalkan aku." lirih Alvin.


"Aku tau aku salah dan aku minta maaf. Berikan kesempatan untukku lagi. Meskipun kamu sudah bosan tolong sekali saja. Aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku janji ini akan jadi yang terakhir kalinya. Kita perbaiki hubungan kita kembali seperti yang dulu lagi."


"Aku lelah. Mau tidur. Jangan bawel." Kata Aya.

__ADS_1


Alvin tersenyum. Setidaknya sang istri mau bicara dengannya.


"Selamat malam Sayang." Alvin mencium kening Aya dan tidur memeluk istrinya.


__ADS_2