Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Jadi Ara Berfikir Seperti Itu?


__ADS_3

Felix memasuki rumah dan duduk bersama dengan Mamanya.


"Kamu darimana?"


"Dari rumah teman. Mama mau nggak?"


"Apa?"


"Rujak. Istri teman aku yang buat."


"Apa itu?" Tanya sosok wanita ikut bergabung bersama mereka.


"Rujak Kak."


"Kakak mau coba."


"Makan aja. Aku udah kenyang makan disana."


"Temen kamu baik."


"Iya."


"Itu istri temen kamu yang katanya di panggil Anak haram itu Mama."


"Iya. Stop kak. Jangan bilang gitu lagi. Kasian Daniel."


"Biarin. Memang benar kan dia anak haram. Felix, hati keluarga mana yang nggak sakit hati lihat keluarganya di sakiti wanita ****** itu. Dia selingkuh dan nggak bertanggung jawab atas anaknya. Aku dan Mama sedih lihat kamu. Kamu ngerti nggak sih? Dia mau harta kamu aja dan pergi sama selingkuhannya."


"Udah Selena. Jangan dibahas lagi."


"Iya Ma."


"Enak banget. Beda sama bikinan Bibi. Mama jadi pengen belajar sama istri temen kamu itu."


"Jangan aneh aneh deh Ma."


"Kamu punya fotonya? Atau sosial medianya?"


"Dia nggak punya sosial media. Suaminya over protective. Posessive lagi. Kalo mau lihat di sosial media anak anaknya aja."


"Siapa? Kakak cari."


"Azzam. Kalo ga ya Azzara."


"Ok." kata Selena sambil sibuk mengutak atik ponselnya.


"Ini ada foto keluarga. Eh tunggu dulu. Dari keluarga Louis?"


"Hm."


"Wah. Hebat."


"Dia Cucu perempuan satu satunya keluarga Louis. Tapi nggak pernah di publish."


"Hm."


"Yang mana Ini istri teman kamu?"


"Yang ini. Yang itu Tuan Alvin kakak sama Mama pasti tau lah. Siapa yang nggak tau dia. Yang dua itu anaknya kembar cowok cewek."

__ADS_1


"Astaga. Ini istrinya? Wah kaya anaknya aja. Ibu sama anak kaya Kaka adek. Cantik banget."


"Iya. Cantik banget. Pinter masak lagi."


"Mama pernah makan masakannya?"


"Pernah. Waktu itu Felix bawa pulang."


"Udah cantik, kaya, baik, pinter masak. Sempurna." Kata Selena.


"Mama mau nggak Araya jadi mantu Mama?"


"Jangan macam macam. Dia istri orang." Felix meninggalkan kedua orang itu menuju kamarnya.


"Ra. Kakak kamu sama Daniel mana? Tumben manyun sendiri."


"Lagi Volly di lapangan kompleks."


"Oh."


"Ibu mana Yah?"


"Lagi siram tanaman di depan. Ayah mau ke depan dulu."


"Ikut."


Ara mengekori Ayahnya.


"Ngagetin aja." Kata Aya terkejut karena pelukan anak gadisnya.


"Biar Ara aja Bu. Ara pengen."


"Yang."


"Iya Mas?"


"Ada sertifikat yang harus kamu tandatangani. Aku kemarin habis beli tanah di daerah puncak lagi."


"Kok aku?"


"Ya Aku pengen kasih ke kamu."


"Kamu aja."


"Kamu. Ayo. Aku udah siapin berkasnya di ruang kerja."


Alvin menggandeng tangan istrinya utuk ke ruang kerja.


Aya membaca lembar demi lembar berkas yang sudah ada di meja.


"Tanda tangani aja Yang."


"Bentar Mas. Kamu beli tanah sebanyak ini buat apa lagi?"


"Perkebunan teh sama peternakan juga."


"Ih. Ada ada aja."


"Udah ah bacanya. Tanda tangan gih. Atau mau aku paksa pake cara aku." ancam Alvin pada istrinya.

__ADS_1


"Iya iya." Aya menandatangani semua sertifikat.


"Udah."


"Bagus." Alvin mengecup kening istrinya.


Ara menghampiri Ayahnya yang tengah duduk di sofa sendiri karena sang istri sedang membuatkan cappucino untuknya.


"Ayah. Kenapa kunci mobil Ara nggak ada?"


"Ayah sita. Kamu kebut kebutan di jalan. Ayah dapat laporan dari orang. Mulai sekarang kamu berangkat sama Kakak kamu."


"Ayah kok gitu. Balikin kunci mobil Ara."


"Nggak. Pokoknya kamu harus nurut."


"Ayah emang gitu. Ayah selalu pilih kasih. Ayah selalu manjain kak Zam. Cuman Ara yang salah. Kak Zam nggak pernah salah."


"Ra. Ayah nggak mau kamu kenapa napa. Kamu kalo dikasih tau orang tua selalu begitu."


"Ayah keterlaluan."


"Ada apa sih? Kalo ngomong sama orang tua yang sopan dong." Aya datang menghampiri keduanya.


"Ayah jahat Ibu. Ayah nggak ngebolehin Ara bawa mobil."


"Dia kebut kebutan di jalan. Kemarin mau nabrak orang."


"Jangan gitu dong Sayang. Kamu jangan naik mobil sendiri. Berangkat sama Kak Zam aja. Ibu takut terjadi sesuatu sama kamu."


"Tau tuh. Di kasih tau orang tua suka ngebantah mulu."


"Ibu juga sama aja. Ibu nggak pernah ngebelain Ara. Ibu lebih sayang kak Zam. Ara benci sama Ibu." Kata Ara penuh dengan emosi.


"Keterlaluan kamu." Bentak Alvin yang hendak menampar Ara namun dengan cepat di cegah oleh Alvin.


"Jadi Ara berfikir Ibu seperti itu?" Tanya Aya lembut tapi menusuk hati anaknya.


"Ibu. Ara..."


"Semua yang orang tua lakukan adalah demi kebahagiaan dan keamanan anaknya. Jika kamu sebagai anak salah mengartikan kami orang tua bisa memaklumi. Tapi Nak. Ketahuilah jika Ibu dan Ayah sayang sama kamu lebih dari apapun. Tidak ada yang membedakan kamu dengan Kakak kamu. Lihatlah dengan hati jangan mengeluarkan kata kata yang tidak pantas hanya karena emosi. Apalagi pada seorang Ibu yang melahirkan kamu. Ibu salah apa sama Ara? Apa Ibu pernah berbuat jahat pada Ara? Apa Ibu pernah bentak Ara?" Gadis itu diam sambil menunduk mengeluarkan air matanya.


"Ibu hanya berpesan. Perbaiki kata kata Ara." Aya berlalu pergi meninggalkan Ara dan suaminya.


"Kamu sudah keterlaluan Ra."


"Ayah. Ara minta maaf." Katanya sambil menangis sesenggukan.


Alvin menenangkan istrinya yang menangis sedaritadi. "Sudah Yang. Anak itu memang keterlaluan. Dia tidak bisa mengontrol mulutnya."


"Mas. Aku Ibu yang pilih kasih ya? Kalo iya katakan Mas. Biar aku bisa rubah sikap aku."


"Enggak Sayang. Kamu Ibu yang adil dan baik. Kamu juga mendidik anak anak dengan baik."


"Lalu kenapa Ara..."


"Sudah. Kamu jangan sedih. Nanti bisa berpengaruh sama kesehatan kamu. Istirahat ya."


"Iya Mas." Aya menuruti suaminya karena merasa dadanya sakit sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2