Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Dasar Bocah Tengil


__ADS_3

Alvin mulai bekerja hari ini dan kedua anaknya sudah berangkat ke kampus sejak tadi. Tinggal Aya seorang dengan para penjaga dan Maid di rumah besar itu.


"Permisi Nyonya. Ada yang mencari Nyonya." Salah seorang penjaga menghampiri Aya yang tengah duduk di ruang tengah.


"Siapa pak?"


"Namanya Daniel Nyonya."


"Oh. Biarkan masuk pak. Tapi Tuan Alvin.."


"Dia mengenal Daniel juga. Jadi biarkan dia masuk."


"Baik Nyonya."


"Mama." Daniel menghampiri Aya dan langsung memeluk wanita itu.


"Kamu nggak sekolah Sayang? kan baru pindah. Jangan bolos Lo." Aya membalas pelukan remaja itu.


"Daniel malas Ma. Ada acara di sekolah. Jadi tidak ada pelajaran. Daripada Daniel menganggur disana. Mending Daniel ketemu Mama. Daniel kangen banget."


"Kamu kan sekolah di Amerika. Kenapa tiba tiba pindah?"


"Itu.Daniel nggak betah disana. Daniel dipaksa sama Mamanya Papa. Meraka nggak mau Daniel dekat dekat dengan Papa. Mama kan tau Daniel bukan anaknya Papa. Jadi mereka benci sama Daniel. Cuman Papa sama Mama yang peduli sama Daniel."


"Oh. Begitu. Jadi kamu nggak betah dan pindah lagi kesini?"


"Iya. Daniel mohon mohon sama Papa biar bisa sekolah disini. Biar tiap hari bisa ketemu Mama."


"Kamu sudah makan?"


"Ini Daniel mau minta makan sama Mama."


"oh ya. Mau makan apa?"


"Daniel kangen sama tumis daging, Udang asam manis sama telur balado bikinan Mama."


"Oh. Memangnya di sana nggak ada?"


"Ada Ma. Tapi rasanya beda. Daniel paling suka bikinan Mama."


"Ayo kalo gitu Mama masakin buat kamu."


"Makasih Ma."


"Sama sama Sayang."


Alvin tengah memperhatikan kegiatan istrinya di rumah. Ia menghembuskan nafas kasar melihat kedekatan bocah itu dengan sang istri. Memang Ia yang mengizinkan Daniel untuk ketemu Aya. Dia juga kasihan dengan kehidupan remaja itu. Tapi melihatnya memeluk, dan Mencium Aya membuatnya geram.


"Dasar bocah tengil." Gumamnya merasa cemburu.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Sayang."


"Kalian bersih bersih, sholat, trus makan siang ya."


"Kakak baru pulang?" Tanya Daniel sambil membawa dua piring hidangan untuk diletakkan di meja makan.


"Loh kamu kok."

__ADS_1


"Jangan kaget begitu." Daniel memeluk Zam dan Ara.


"Kok disini?"


"Iya. Mau ketemu Mama."


"Ibuku bukan Mama kamu."


"Mama Aku juga."


"Tau ah." Ara langsung pergi meninggalkan mereka.


Semuanya tengah menikmati makan siang bersama. Daniel di tengah tengah mereka sangat bahagia dengan kehangatan keluarga ini. Mereka mengajak Daniel mengobrol dan bercerita tentang keluh kesahnya. Pertamanya Ia cukup terkejut dengan sikap Alvin yang manja. Pria itu tak malu sama sekali meminta untuk disuapi istrinya.


" Daniel."


"Ya Om."


"Kenapa senyum senyum begitu?"


"Daniel seneng Om. Bisa makan bersama kaya gini."


"Emangnya kamu nggak pernah makan bersama?"


"Nggak Om. Daniel makannya di dapur sama Bibi kalo lagi ada Mamanya Papa. Kalo lagi nggak ada Daniel baru makan sendiri di meja makan." Mereka semua terenyuh mendengar cerita Daniel.


"Papa kamu kemana emang?Masa dia ngebiarin kamu makan di dapur."


"Papa pulangnya malam. Jadi nggak ada yang Ngebelain Daniel."


"Mama."


"Iya."


"Iya."


"Boleh Main. Tapi jangan bolos juga."


"Iya Kak. Daniel kesininya kalo pulang atau libur."


"Kamu tadi kesini sama siapa?"


"Sendiri. Aku pake taxi."


"Oh. Nanti pulangnya biar diantar pak supir saja."


"Iya Ma. Makasih ya."


"Sama sama. Dilanjut makannya."


Daniel memasuki rumah, Ia begitu bahagia hari ini. "Kok Papa jam segini udah pulang?" Tanya sambil duduk di sebelah Felix.


"Iya. Papa udah nggak ada kerjaan aja. Darimana kamu. Kok pulangnya sore banget."


"Dari rumah Mama. Tadi Daniel makan disana."


"Emang Om Alvin kasih izin."


"Iya. Dia baik kok sebenarnya. Cuman agak judes aja. Lihat deh Pa. Mama bawain Daniel brownies, chesscake, sama Black forest. Sama macam macam lauk juga. Kita nanti makan sama sama ya." Daniel menaruh paper bag di atas meja.

__ADS_1


"Iya. Mama sendiri yang buat?"


"Iya lah. Mama kan pinter masak."


"Pa Daniel boleh tanya nggak?"


"Tanya Apa?"


"Papa suka sama Mama ya?"


"Iya. Tapi dia istri orang. Papa nggak mau jadi orang ketiga. Papa cukup tau diri. Om Alvin sangat mencintai istrinya melebihi cintanya pada diri sendiri. Mama juga orang yang setia."


"Tanpa Papa menikah sama Mama pun. Daniel tetap mendapat kasih sayang dari Mama."


"Iya. Kamu mandi gih. Ganti baju sana."


"Iya pa." Felix tersenyum melihat paper bag di atas meja. Ia tak sabar ingin mencicipi masakan Aya.


Daniel melihat Papanya makan dengan lahap merasa senang. Tidak mengherankan selera makan pria itu meningkat seketika karena masakan Aya benar benar enak. "Enak ya Pa?"


"Enak banget."


"Percuma nanti Papa ke gym kalo makannya kaya gini."


"Nggak peduli." Katanya sambil meneruskan makan.


"Beneran?"


"Iya."


"Niel black forest nya tinggal satu potong buat Papa ya.."


"Daniel baru makan dua. Tadi Papa kan sudah banyak."


"Ayolah Niel. Kamu tadi disana juga makan kan?"


"Iya sih. Tapi..."


"Ini buat Papa." Felix langsung memakan cakenya.


"Ih Papa."


" Kalo Mama kamu suruh bawa pulang artinya itu buat Papa. Kan kamu sudah makan disana."


"Iya tapi kan..."


"Lain kali bawa lagi ya. Masakan Mama bikin nagih."


"Itu sih maunya Papa."


"Papa nggak ada rencana mau nikah lagi?"


"Enggak Niel. Papa trauma. Papa nyaman hidup berdua sama kamu. Papa nggak mau kejadian yang dulu terulang lagi."


"Maaf ya Pa. Gara gara Wanita itu Papa..." Kata Daniel tak ingin memanggil nama Mamanya.


"Itu bukan salah kamu Niel. Dia yang salah. Kamu nggak perlu minta maaf."


"Iya Pa."

__ADS_1


"Habis ini pijitin Papa ya Niel. Papa capek banget."


"Iya Pa." Jawab Daniel patuh. Ia sangat bersyukur Felix masih mau merawat dan memperlakukannya dengan baik padahal kelas jelas Ia bukan anaknya. Bahkan anak hasil perselingkuhan Mamanya dengan orang lain.


__ADS_2