
Aya menghampiri Daniel yang sedang duduk di ruang tengah.
"Sayang, kamu jadi ikut jumatan nggak? Om udah mandi tuh."
"Iya Ma. Daniel juga mandi dulu." Ia bergegas ke kamarnya untuk mandi.
"Daniel mana Yang?" tanya Alvin duduk di samping istrinya diikuti Zam.
"Lagi siap siap. Tungguin dulu."
"Adik kamu mana sayang?"
"Lagi di dapur Bu. Tau bikin apa daritadi nggak jadi juga. Katanya dia bikin buat Ibu."
"Ada ada aja."
"Ayo berangkat." Daniel sudah siap dengan baju Kokonya.
"Pakai peci." Zam memakaikannya untuk Daniel.
"Makasih kak."
"Hm."
"Om pakai sarung?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Kata istri Om. Kalau Om pakai sarung lebih ganteng."
"Apaan sih. Ga jelas. Berangkat sana."
"Iya Yang. Kita berangkat. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pulang dari sholat Jumat semuanya berkumpul di gasebo dekat kolam renang.
"Kenapa cemberut begitu?"
"Sendalnya ilang." jawab Zam sambil tertawa terbahak bahak.
"Iya. Baru juga pertama kali ikut sholat Jumat. Udah ilang aja sendal."
"Nggak papa. Nanti kita beli."
"Sama Mama?"
"Iya. Sekalian kak Zam kan mau beli buku juga."
"Yeee. Udah siap." Ara menyajikan puding susu di atas meja.
"Kamu sendiri yang buat sayang?"
"Iya dong Bu. Ibu harus orang pertama yang coba. Ara suapi."
Gadis itu memotong pudingnya dan menyuapkan pada sang Ibu.
"Gimana Bu?"
"Kamu coba sendiri deh." Jawab Aya sambil menahan tawa.
"Sini kakak coba." Zam mencobanya.
"Apaan sih Ra. Masa puding asin begini."
"Minta nikah ya Ra?"
"Ayah apaan sih."
"Kalo orang Jawa bilang. Masak keasinan itu artinya minta nikah."
"Ara belum mau nikah. Ara kayanya salah masukin deh. Ah...Maaf ya Ibu."
"Nggak papa. Tapi enak kok."
"Enak apanya. Asinnya kebangetan."
"Untung aku sama Daniel belum coba."
"Iya Om. Alhamdulillah." Mereka tertawa mendengar jawaban Daniel.
__ADS_1
Malam hari sesuai janji Aya. Mereka jalan jalan ke Mall bersama.
"Kamu pilih yang mana sayang ambil aja?"
"Enggak Ma." Kata Daniel melihat harganya yang terlalu mahal.
"Jangan begitu. Harga nggak masalah kok."
"Iya Ma. Tapi..."
"Kamu suka yang Ini?" Tanya Aya karena Daniel memperhatikan sepasang sendal tipe sport itu sedari tadi.
"Iya Ma. Tapi ga usah. Harganya terlalu mahal."
"Nggak masalah. Kita ambil. Mau sepatu juga?"
"Enggak Ma."
"Mama pilihkan." Aya memilihkan beberapa pasang sepatu untuk Daniel karena Aya tau Daniel hanya punya dua pasang sepatu.
"Ma."
"Jangan protes. Mama nggak suka."
"Iya Ma."
"Sayang kalian mau apa? Mupung disini."
"Ara sama kak Zam sudah pilih Bu. Tinggal bayar."
"Ok. Kita bayar sekarang."
"Pakai ini aja Yang." Alvin menyerahkan kartunya.
"Enggak. Sesekali pakai punya aku."
"Tapi...."
"Boleh ya Mas."
"Yaudah."
"Mas. Mampir makan ramen dulu ya." Kata Aya dalam perjalanan pulang.
"Kalo dimsum siomay boleh?"
"Iya. Boleh."
"makasih Mas."
"Sama sama." Alvin mengelus kepala istrinya.
Semua hidangan sudah tersaji di atas meja. "kok di tukar sambalnya?"
"yang ini pedas Yang. Kamu pakai saos tomat aja."
"Yah. Nggak enak dong Mas."
"Enak coba dulu." Alvin menyuapi istrinya.
"Enak kan?"
"Enak. Tapi kurang..."
"Jangan makan pedas."
"Iya deh."
"Daniel. Makan. Kamu malah melamun."
"Iya Om."
"Ibu. Kucingnya mau di minta teman Zam boleh?"
"Kalau kalian ikhlas boleh. Asal di rawat dengan baik."
"Boleh. Boleh banget malah. Biar di bawa jauh jauh sana."
"Enggak jauh Yah. Orang yang minta Baim."
"Anaknya pak Lurah?"
"Iya. Yang rumahnya dekat lapangan."
__ADS_1
" Nanti kalo kamu kasih. Bawain juga makan, susu, vitamin sama shampoo nya."
"Iya Ibu."
Anak anak tengah antusias membuka belanjaan masing masing. Daniel sangat bahagia karena semua kebutuhannya di perhatikan oleh Aya. Mulai dari baju, celana, sendal, sepatu, dan masih banyak lagi. Daniel tau pasti uang yang dikeluarkan Aya sangat banyak untuk semua ini.
"Makasih Ma." Kata Daniel memeluk Aya dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Sama sama Sayang."
"Sebelumnya nggak pernah ada yang peduli dan perhatian sama Daniel seperti ini. Papa orang baik, tapi sibuk bekerja jadi Daniel kurang waktu sama Papa. Disini Daniel merasakan apa yang disebut dengan keluarga. Daniel sangat bahagia."
"Kita memang keluarga sayang."
"Nggak makasih sama Om?"
"Makasih Om." Daniel beralih memeluk Alvin.
"Sama sama." Sambil menepuk punggung remaja itu.
"Sepatu Ara ketinggalan di mobil. Yah. Pinjam kuncinya."
"Ini."
Ara kembali menenteng dua paper bag. "Yang ini punya siapa?"
"Punya Ayah. Sini."
"Itu apa Yah?"
"Hadiah buat Ibu."
"Apa Mas?"
"Buka aja."
Aya membuka kotak itu perlahan ternyata isinya satu set perhiasan berlian lengkap.
"Kok beli ini. Ngabisin duit aja."
"Aku pesennya hampir 4 bulan tau."
"Mama aneh. Di kasih barang mewah kok nolak. Kalo cewek cewek malah pada pingsan saking senengnya."
"Bukannya gitu. Lagian Mama juga jarang pakai."
"Buat investasi."
"Mas gitu.Ga bilang bilang dulu."
"Kamu nggak suka?"
"Suka kok. Makasih."
"Cium dulu."
Aya mencium pipi suaminya di depan mereka.
"Kita juga minta cium."
"Eh. Nggak boleh. Kalian kasih apa Ibu?"
"Kasih cinta." Ketiganya memeluk Aya tanpa memperdulikan Alvin yang mengomel.
"Barang barangnya di tata yang rapi Ya. Setelah itu bersih bersih dan tidur."
"Iya Bu."
"Bu. Aku mau main game sama Daniel dulu."
"Iya jangan malem malem tidurnya."
"Iya Ibu. Ayah. Selamat malam."
"Selamat malam Ma. Om."
"Selamat Malam Sayang." Aya membalas pelukan dan ciuman mereka.
"Makasih Mas. Untuk semuanya."
"Sama sama sayang. Sudah kewajiban aku membahagiakan istri. Kita tidur yuk."
"Iya." Alvin menggandeng tangan istrinya untuk ke kamar.
__ADS_1