Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Mas Jangan Lihat


__ADS_3

Karena waktu ketiganya sedang luang. Aya dan kedua adiknya memutuskan untuk jalan jalan. Mereka menuju pusat perbelanjaan milik Alvin yang baru dibuka beberapa Minggu lalu.


"Kamu mau beli apa No?"


"Anterin beli kaos dulu."


"Ayo."


"Pilihan kak."


"Kamu itu. Udah gede apa apa minta dipilihkan kakak."


"Sekalian aku juga kak." Kata Darren


"Iya." Aya memilihkan kaos dengan dominasi warna putih,hitam dan abu abu. Ia tau selera kedua adiknya, maka dari itu mereka selalu meminta Aya untuk memilihkan barang.


"Udah Nih. Kakak bayar. Kakak traktir kalian."


"Iya ga papa. Masak istri pemilik Mall nggak traktir kita."


"Kalian. Mau apa lagi?"


"Parfum."


"Ya Ayo...."


Kata Aya menuruti semua permintaan mereka.


"Kita makan dulu kak. Laper."


Aya menarik kedua adiknya untuk sembunyi.


"Ada apa sih?"


"Iya nih kakak. Emang kita maling suruh ngumpet segala."


"Diem. Itu ada suami kakak." Tunjuknya pada Alvin yang sedang berbincang dengan beberapa orang ber jas di sebuah tempat makan.


"Kita pindah aja. Makan di tempat lain."


"Iya deh."


Mereka mengendap endap keluar dari sana untuk berpindah ke tempat lain.


Aya dan kedua adiknya tengah makan pizza dan berbagai makanan lainnya dengan lahap.


"Pak dosen suka fast food juga."


"Jangan ditanya. Kalo udah hangout sama kakak. Makan apapun jalan."


"Pak direktur juga begitu?"


"Iya Ibu negara. Ano suka banget. Kita puas puasin. Kan ada yang traktir."


"Iya. Makan yang banyak."


"Kakak coba ini enak." Ano menyuapi kakaknya.


"Iya enak. Kamu pinter."


"Sering sering ajak kita jalan."


"Nggak ah. Bikin tekor aja."


"Keluar uang sedikit juga. Minta sama si Om juga dikasih."


"Bukan masalah dikasih enggaknya. Dia kontrol keuangan kakak. Sekali lagi bukan masalah nominal. Dia suka ngomel kalo tagihan kakak buat beli makanan kaya gini."

__ADS_1


"Makannya perbanyak uang cash."


"Ribet bawanya. Kalo pake kartu enak tinggal gesek."


"Restoran kakak yang ada di dekat kantor laris banget. Aku mau beli sampai antri berjam jam."


"Biasa makan di rumah juga gaya gayaan beli."


"Pengen coba aja antri kaya orang orang."


"Ada ada aja ni anak. Segala barang yang orang lain ga suka malah dicoba."


"Biarin." Jawab Ano menjulurkan lidahnya.


Mereka dalam perjalanan pulang dari Mall.


"Beli Boba dulu No."


"Iya. Sekalian kita."


"Sama apalagi?"


"Makaroni enak tuh."


"Ayo turun kalo gitu."


"Iya deh."


Mereka membeli berbagai jenis makanan di luar yang mereka rencanakan.


Mereka sampai di rumah. Satu meja penuh dengan makanan yang mereka beli. Mulai dari Boba, kue balok, makaroni pedas, martabak, stik talas dan banyak lagi.


"Ibu baru pulang?"


"Sudah makan?"


"Sudah tadi mampir di masjid sebentar."


"Ayah dari tadi nanyain Ibu."


"Kan Ibu kamu sudah bilang keluar sama Om."


"Kalian beli apaan banyak banget." Kata Alvin baru datang diikuti Zam dan Daniel di belakangnya.


"Makanan lah Mas."


"Gitu kamu kalo keluar. Jajan nggak sehat."


"Pengen."


"Tau ah."


"Kalian juga. Lain kali jangan ajak istri orang."


"Om sewot mulu."


Mereka makan bersama. Aya yang paling lahap mencoba berbagai jenis makanan yang tersaji di meja.


"Jangan kebanyakan Yang. Perut kamu sakit nanti."


"Enggak. Pak haji tenang aja. No bukain makaroninya."


"Ok. Nih."


"Apaan tuh. Jangan dimakan. Banyak cabenya. Kamu punya asam lambung Yang."


"Mas jangan worry mulu. Aku baik baik aja."

__ADS_1


"Jangan makan Bu. Nanti perut Ibu sakit."


"Bismillah enggak." Kata Aya tetap makan.


Aya menyusul suaminya duduk di sofa. Ia memperhatikan wajah Alvin yang sedang cemberut.


"Mas marah?"


"Mas khawatir sama kamu."


"Mas tenang aja." Aya menggenggam tangan suaminya.


"Yang."


"Ya."


"Tadi aku ke Mall buat lihat lihat. Lain kali kita kesana bareng ya."


"Oke."


"Wih. Pedes juga ternyata." Kata Aya setelah menghabiskan separuh bungkus makaroni pedas.


"Udah jangan makan lagi." Merebut bungkus makaroni istrinya.


"Zam simpan atau buang. Jangan sampai Ayah lihat Ibu makan ini lagi."


"Baik Yah." Kata Zam sependapat dengan Ayahnya.


"Kamu minum dulu." Alvin memberi air mineral untuk istrinya.


Alvin mendapat notifikasi dari ponselnya. Firasat Aya buruk Ia yakin ini tagihan belanjanya tadi.


"Mas jangan lihat." Cegahnya.


"Kenapa?"


"Jangan lihat Mas." Aya mencoba merebut ponsel suaminya tapi tidak bisa.


"Kamu diam." Alvin membuka pesan itu.


"Kamu tadi habis makan fast food sekarang makan kaya gini. Bener bener. Mulai sekarang kamu nggak boleh lagi keluar keluar." Kata Alvin langsung pergi.


"Mas." Panggil Aya namun Alvin tetap melangkah.


"Selamat berjuang kak."


"Dasar kalian. Giliran gini aja nggak mau bantu." Aya pergi menyusul suaminya.


"Mas jangan marah. Besok besok nggak lagi." Aya memeluk suaminya yang sedang berdiri di balkon kamar.


Alvin luluh sebenarnya. Namun Ia ingin istrinya merayu lebih dari ini.


"Mas ganteng deh. Jangan marah lagi. Masa aku nggak boleh keluar." Aya mencium pipi suaminya membuat benteng pertahanan Alvin runtuh. Pria itu berbalik dan mencium bibir istrinya rakus dan memeluk wanita itu.


"kamu selalu begini."


"Mas sudah nggak marah kan?"


"Enggak."


"Makasih." Aya membalas pelukan suaminya.


"Kamu boleh pakai uang sepuas kamu Yang. Tapi jangan untuk beli makanan yang nggak sehat kaya gitu. Mas khawatir sama kesehatan kamu. Kamu kan nggak boleh olahraga juga nggak makan sayur. Kalo kamu makan kaya gitu bisa bahaya."


"Iya Mas. Ini yang terakhir. Aku akan jaga makan aku mulai sekarang. Maaf aku kekanakan dan kurang memahami kemauan kamu. Maaf juga selalu buat kamu khawatir."


"Nggak papa. Pokoknya jangan makan sembarangan lagi ya."

__ADS_1


"Iya Mas." Jawab Aya patuh.


__ADS_2